Breaking News
light_mode

Koalisi Advokasi Bali Untuk Demokrasi, Tuding Negara Tak Mampu Bedakan Pelaku Pidana dan Warga Gunakan Hak Konstitusional

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR — Putusan Pengadilan Negeri Denpasar terhadap massa aksi 30 Agustus 2025 menuai kecaman keras. Koalisi Advokasi Bali Untuk Demokrasi menilai majelis hakim telah melegitimasi penegakan hukum serampangan dan mengabaikan fakta-fakta persidangan, sekaligus memperkuat praktik kriminalisasi terhadap warga yang menggunakan hak konstitusionalnya untuk menyampaikan kritik.

Dalam perkara Nomor 1289/Pid.B/2025/PN Dps, enam pejuang demokrasi dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana dua bulan dua puluh lima hari hingga lima bulan penjara. Sementara dalam perkara Nomor 1288/Pid.B/2025/PN Dps, dua pejuang demokrasi lainnya dijatuhi vonis pidana pengawasan selama enam bulan. Vonis tersebut dinilai tidak berpijak pada pembuktian yang sahih, melainkan pada konstruksi hukum yang dipaksakan.

Koalisi menegaskan, majelis hakim telah mengingkari prinsip negara hukum dengan mengabaikan fakta persidangan yang secara terang menunjukkan tidak adanya perbuatan pidana sebagaimana didakwakan jaksa penuntut umum.

Hakim juga menutup mata terhadap fakta bahwa para terdakwa merupakan korban penyelundupan hukum dan pelanggaran hak asasi manusia sejak tahap penyidikan.
Dalam perkara Nomor 1289/Pid.B/2025/PN Dps, terungkap adanya dugaan kuat penyelundupan hukum oleh aparat penegak hukum.

Sebanyak 11 saksi yang dihadirkan penuntut umum tidak satu pun mampu membuktikan kesalahan para terdakwa. Bahkan dalam persidangan terungkap dua terdakwa hanya berada di sekitar lokasi untuk membeli makanan dan ikut berlari karena kepanikan massa setelah aparat menembakkan gas air mata.

Lebih serius lagi, para terdakwa mengungkap bahwa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dibuat melalui penyiksaan. Mereka dipaksa mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukan. Namun seluruh fakta mengenai kekerasan, penyiksaan, dan manipulasi proses hukum tersebut sama sekali tidak dipertimbangkan hakim sebagai dasar pembebasan. Sebaliknya, putusan justru memperkokoh ketidakadilan.

Hal serupa terjadi dalam perkara Nomor 1288/Pid.B/2025/PN Dps. Tidak satu pun saksi maupun ahli dari penuntut umum mampu menunjukkan keterlibatan para terdakwa dalam peristiwa perusakan. Para saksi bahkan mengakui tidak pernah melihat terdakwa di lokasi aksi dan baru mengenali mereka setelah diperlihatkan video serta foto oleh penyidik.
Ahli siber yang dihadirkan penuntut umum justru memperkuat posisi terdakwa.

Dalam keterangannya, ahli menyatakan tidak menemukan keterlibatan terdakwa dalam pelemparan yang menyebabkan kerusakan. Ahli juga menegaskan bahwa kerusakan terjadi akibat tindakan ratusan demonstran lain. Meski demikian, hakim tetap menyatakan para terdakwa bersalah tanpa menjelaskan hubungan kausalitas antara perbuatan terdakwa dan akibat kerusakan yang didalilkan.

Koalisi menyoroti penggunaan Pasal 521 KUHP dan Pasal 262 KUHP sebagai dasar pemidanaan. Kedua pasal tersebut merupakan delik materiil yang mensyaratkan adanya akibat nyata serta hubungan sebab-akibat yang jelas. Ketika hakim menyatakan unsur pasal terpenuhi tanpa mampu membuktikan bahwa kerusakan merupakan akibat langsung dari perbuatan konkret terdakwa tertentu, maka hakim dinilai telah bertindak menyalahi hukum.

Menurut Koalisi, rangkaian proses ini mencerminkan praktik Strategic Lawsuit Against Public Participation (SLAPP), yakni penggunaan hukum pidana untuk membungkam kritik publik. Sejak awal, aparat kepolisian dan penuntut umum dinilai hanya berfokus mencari pihak yang dapat dijerat pidana, bukan menegakkan hukum berbasis hak asasi manusia.

Hal tersebut tercermin dari penangkapan sewenang-wenang, penyusunan alat bukti yang melanggar prinsip due process of law, serta berkas perkara yang kabur dan subjektif. Dalam situasi ini, tersangka diposisikan semata sebagai objek kekuasaan, bukan subjek hukum yang memiliki hak.

Ironisnya, dalam pertimbangan putusan, hakim sendiri mengakui bahwa tindakan pelemparan terjadi sebagai respons atas tindakan aparat yang represif dan memicu kemarahan massa. Namun alih-alih menempatkan konteks tersebut dalam kerangka kebebasan berekspresi dan hak untuk mengkritik penyelenggaraan negara, hakim justru menjadikan kehadiran terdakwa dalam aksi sebagai dasar pemidanaan.

Koalisi menilai, kegagalan negara membedakan antara pelaku tindak pidana dan warga yang sedang menggunakan hak konstitusionalnya menandai bergesernya penegakan hukum menjadi praktik kriminalisasi.

Putusan ini disebut sebagai preseden berbahaya yang melegitimasi hukuman kolektif, menciptakan efek ketakutan (chilling effect), dan memperkuat tren penggunaan hukum pidana sebagai alat pembungkaman kritik. Jika pola ini dibiarkan, setiap warga yang sekadar hadir, berdiri, berlari, atau membeli makanan di sekitar lokasi aksi demonstrasi berpotensi dijadikan tersangka tanpa pembuktian yang terang dan adil.

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mafia Kepailitan Diduga Menggurita, Kasus Hotel Sing Ken Ken Didorong Naik ke Bareskrim

    Mafia Kepailitan Diduga Menggurita, Kasus Hotel Sing Ken Ken Didorong Naik ke Bareskrim

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle Ray
    • 4Komentar

    DENPASAR – Desakan untuk membongkar dugaan mafia kepailitan Sing Ken Ken Beach Hotel and Residences kini meledak menjadi tekanan nasional. Kuasa Hukum Kantor Hukum Budi Utomo, Riyanta, SH, kembali mengajukan permohonan resmi agar penyelidikan kasus dugaan pencurian aset dan kejanggalan proses kepailitan hotel tersebut dicabut dari Polda Bali dan langsung diambil alih Bareskrim Polri. Melalui […]

  • Tubuh Manusia Ternyata Berdengung, Begini Penjelasan Yogacara Tantra tentang Getaran Energi dan Aji Pengaradan

    Tubuh Manusia Ternyata Berdengung, Begini Penjelasan Yogacara Tantra tentang Getaran Energi dan Aji Pengaradan

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    DENPASAR – Selama ini banyak orang memandang ajian-ajian tradisional sebagai praktik mistis yang kerap dikaitkan dengan tindakan negatif. Namun sebuah penjelasan dari tradisi Yogacara Tantra mengungkap perspektif berbeda: tubuh manusia sesungguhnya adalah medan energi yang terus berdengung dan bergetar, menghasilkan frekuensi yang dapat memengaruhi hidup seseorang. Dalam kajian Tantra, setiap bagian tubuh memiliki dengungan atau […]

  • Jajaran manajemen dan Heartist Mercure Kuta Bali dalam perayaan Heartist Gratitude Week 2025, wujud syukur dan kebersamaan berlandaskan nilai Tri Kaya Parisudha.

    Mercure Kuta Bali Rayakan Heartist Gratitude Week dengan Semangat Tri Kaya Parisudha

    • calendar_month Kamis, 23 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    KUTA, Bali — Mercure Kuta Bali dengan penuh semangat merayakan Heartist Gratitude Week 2025, perayaan tahunan dari Accor Hotels yang berlangsung dari 15 September hingga 3 Oktober 2025. Acara ini menjadi bentuk apresiasi terhadap seluruh Heartist—sebutan bagi karyawan Accor—atas dedikasi, ketulusan, dan pelayanan terbaik yang mereka berikan kepada setiap tamu. Tahun ini, perayaan Heartist Gratitude […]

  • Lirik “Bangun Orang Waras”, Methosa Band Kritik Demokrasi Busuk hingga Nasib Rakyat Kecil Play Button

    Lirik “Bangun Orang Waras”, Methosa Band Kritik Demokrasi Busuk hingga Nasib Rakyat Kecil

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 15Komentar

    DENPASAR – Methosa Band menyuarakan kegelisahan sosial dan kritik keras terhadap kondisi bangsa melalui lagu berjudul “Bangun Orang Waras”. Lirik-liriknya tidak sekadar menjadi ekspresi musikal, melainkan potret tajam realitas politik, ekonomi, dan ketidakadilan struktural yang dirasakan masyarakat luas. Seruan “bangun orang waras” yang berulang kali digaungkan menjadi simbol ajakan kesadaran kolektif. Methosa Band menilai demokrasi […]

  • Hidup Tanpa Benci di Tengah Dunia yang Sarat Emosi Negatif

    Hidup Tanpa Benci di Tengah Dunia yang Sarat Emosi Negatif

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Denpasar — Di tengah dinamika kehidupan sosial yang kerap diwarnai konflik, perbedaan pandangan, dan luapan emosi, ajaran Siddhartha Gautama kembali menemukan relevansinya. Pesan tentang pentingnya hidup tanpa kebencian menjadi refleksi mendalam bagi masyarakat modern yang menghadapi tekanan sosial semakin kompleks. Dalam salah satu ajarannya, Buddha menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh kondisi lingkungan, melainkan […]

  • LPD Bermasalah, Perguruan Tinggi Jangan Jadi Macan Ompong Berikan Solusi

    LPD Bermasalah, Perguruan Tinggi Jangan Jadi Macan Ompong Berikan Solusi

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    DENPASAR – Mendengar penderitaan salah satu nasabah Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Mambal yang kolaps, membuat Anak Agung Gede Agung Aryawan alias Gung De selaku Sekretaris Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN) Bali dan pengamat sosial masyarakat angkat bicara. Ia menyoroti Wayan Nardi seorang buruh serabutan sedikit demi sedikit ikut menabung di LPD Mambal ikut […]

expand_less