Harga Kos di Bali Kian Melambung, Pekerja Mengeluh, Cari Tempat Tinggal Kini Lebih Sulit daripada Cari Kerja
- account_circle Admin
- calendar_month 10 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Meningkatnya harga sewa kamar kos di Bali mulai menjadi persoalan serius bagi para pekerja, baik pendatang maupun warga yang mencari penghidupan di Pulau Dewata. Di sejumlah kawasan strategis, biaya sewa yang terus merangkak naik membuat banyak orang terpaksa menunda hidup mandiri, berbagi kamar, hingga tinggal jauh dari lokasi kerja demi menekan pengeluaran.
Ardiansyah (30), perantau asal Bima, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu yang merasakan dampaknya. Ia datang ke Bali dengan harapan memperbaiki taraf hidup dan berhasil mendapatkan pekerjaan hanya tiga hari setelah tiba. Namun, penghasilannya belum cukup untuk menyewa kamar kos sendiri.
Selama lebih dari setahun, Ardi masih berbagi kamar dengan sepupunya yang lebih dulu menetap di Bali. Menurutnya, mencari kos dengan harga terjangkau kini jauh lebih sulit dibandingkan mencari pekerjaan.
“Sudah empat bulan terakhir saya mencari kamar kos di bawah Rp1 juta per bulan, tetapi belum juga menemukan yang sesuai,” ujarnya.
Jika memaksakan diri menyewa kamar sendiri, Ardi memperkirakan hampir separuh gajinya akan habis hanya untuk biaya tempat tinggal.
Kondisi serupa juga dialami Yanresa Utami (39), seorang karyawan swasta yang bekerja di Jakarta. Keinginannya untuk pindah ke Bali dan menjalani gaya hidup yang lebih tenang akhirnya harus ditunda setelah mengetahui tingginya biaya sewa tempat tinggal di Pulau Dewata.
Menurutnya, kamar kos dengan fasilitas standar seperti AC, kamar mandi dalam, tempat tidur, dan lemari di kawasan strategis Bali kini banyak ditawarkan dengan harga di atas Rp5 juta per bulan. Padahal, dengan fasilitas yang hampir sama di Jakarta, biaya sewanya berkisar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per bulan.
Sementara itu, Elza S (35) memilih strategi berbeda agar tetap bisa bertahan. Ia bekerja di kawasan Kuta, Kabupaten Badung, namun tinggal di Batubulan, Kabupaten Gianyar, yang menawarkan harga kos jauh lebih murah.
Dengan gaji sekitar Rp6,5 juta per bulan, Elza hanya mengeluarkan Rp750 ribu untuk menyewa kamar kos tanpa perabot, tetapi sudah dilengkapi kamar mandi dalam dan dapur kecil.
“Gajiku Rp6,5 juta. Kosku Rp750 ribu, memang kosong tanpa perabot, tetapi privasi tetap terjaga karena kamar mandi di dalam,” katanya.
Namun, pilihan tersebut memiliki konsekuensi. Setiap hari Elza harus menempuh perjalanan sekitar 60 hingga 80 menit menggunakan sepeda motor untuk menuju tempat kerja. Waktu tempuh yang panjang membuat tenaga dan waktunya lebih banyak terkuras di jalan.
Fenomena melonjaknya harga kos di Bali menunjukkan semakin tingginya biaya hidup, terutama di kawasan yang menjadi pusat aktivitas pariwisata. Kondisi ini memaksa banyak pekerja untuk beradaptasi dengan berbagai cara, mulai dari berbagi tempat tinggal, mencari kos di wilayah penyangga, hingga mengorbankan waktu perjalanan agar pengeluaran tetap terkendali.
Bagi sebagian pekerja, memiliki pekerjaan di Bali kini bukan lagi tantangan terbesar. Justru menemukan tempat tinggal yang layak dengan harga terjangkau menjadi persoalan yang semakin sulit di tengah terus meningkatnya permintaan dan terbatasnya pilihan hunian.
Penulis : Arya, Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar