Warak Keruron Massal di Pantai Padanggalak, Wujud Penghormatan Spiritual bagi Janin yang Gugur
- account_circle Admin
- calendar_month 16 jam yang lalu
- print Cetak

Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara Sri Satya Jyoti dari Griya Bhuwana Dharma Santhi Sesetan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Ratusan umat Hindu mengikuti upacara Warak Keruron, ngelangkir, dan Ngelungah secara massal yang digelar oleh komunitas Atma Widya dan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN). Prosesi upacara dipuput oleh Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara Sri Satya Jyoti dari Griya Bhuwana Dharma Santhi Sesetan, di Pantai Padanggalak Kesiman Denpasar.

Pinandita I Wayan Dodi Arianta, ketua komunitas Atma Widya.
Menemui Pinandita I Wayan Dodi Arianta dalam kegiatan yang dihadiri oleh peserta sebanyak 203 peserta menyebutkan bahwa Warak Keruron merupakan ritual penyucian bagi pasangan suami istri yang mengalami keguguran. Dalam tradisi Hindu Bali, peristiwa gugurnya janin tidak hanya dipandang dari sisi medis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam.
“Upacara ini menjadi bentuk penghormatan terhadap kehidupan sekaligus sarana penyucian lahir dan batin bagi keluarga yang mengalami keguguran,” ujarnya, Senin 25 Mei 2026.

Ia juga menambahkan masyarakat Hindu Bali meyakini janin yang telah terbentuk sudah memiliki unsur kehidupan spiritual atau atman. Karena itu, ketika janin meninggal dalam kandungan, keluarga umumnya menjalankan ritual tertentu untuk memohon ketenangan bagi roh sang janin sekaligus membersihkan kondisi spiritual keluarga.
Secara etimologis, istilah Warak atau Barak bermakna merah yang melambangkan darah dan kehidupan, sedangkan Keruron berarti gugur atau berakhirnya kehidupan dalam kandungan.

Selain Warak Keruron, mereka juga menggelar upacara Ngelahir dan Ngelungah.
Rangkaian itu meliputi upacara,
1. Warak keruron yakni upacara Pabersihan untuk orang tua yang Keguguran/menggugurkan.
2. Ngelangkir yakni upacara Bagi Bayi yang keguguran dan Bayi yang meninggal namun belum lepas tali pusar.
3. Ngelungah yakni upacara untuk bayi yang meninggal belum tanggal gigi.

“Pelaksanaan upacara tidak hanya memiliki nilai adat dan spiritual, tetapi juga membantu pemulihan psikologis para peserta, khususnya ibu yang mengalami trauma pasca keguguran, ” Ungkap Pinandita Dodi.
Rasa cemas, sulit tidur hingga ketakutan tertentu setelah mengalami keguguran maupun kehilangan bayi, sampai cerita mistis kaki terasa berat karena ada yang menggelantung, tempat tidur seperti ada yang menggoyang sampai sakit yang tak kunjung sembuh dialami oleh beberapa peserta yang kondisi batin yang belum pulih.
Karena itulah komunitas Atma Widya dan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) melaksanakan ritual secara massal agar masyarakat dapat mengikuti prosesi dengan lebih nyaman tanpa merasa malu atau terbebani stigma sosial, terutama bagi mereka yang mengalami keguguran di luar pernikahan resmi.

“Melalui upacara bersama seperti ini, peserta merasa lebih tenang karena tidak harus menjalani sendiri atau membuka persoalan pribadinya kepada lingkungan sekitar,” ucapnya.
Untuk mengikuti ritual tersebut, peserta dikenakan biaya Rp650 ribu per pasangan. Biaya itu telah mencakup berbagai sarana upacara seperti sanggah urip, sesajen, soda putih kuning, dan perlengkapan ritual lainnya. Peserta hanya diminta membawa perlengkapan sembahyang pribadi.
Pinandita Dodi Arianta menambahkan, komunitas Atma Widya membuka kesempatan bagi peserta yang belum berstatus suami istri secara sah untuk mengikuti prosesi, dengan penyesuaian tata upacara sesuai kondisi masing-masing.

Menurutnya, ritual Warak Keruron menjadi bagian penting dari warisan budaya dan spiritual masyarakat Hindu Bali yang masih dijaga hingga kini. Selain sebagai simbol penghormatan terhadap kehidupan, ritual tersebut juga mencerminkan perpaduan nilai agama, adat, dan kemanusiaan dalam menghadapi duka kehilangan. | Ray
……………………………
Info pendaftaran selanjutnya silahkan hubungi

Saat ini belum ada komentar