Breaking News
light_mode

Terkikisnya Originalitas Hukum Adat

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ditulis Oleh : Advokat I Made Somya Putra SH MH

GIANYAR – Van Hollen Hoven disebut sebagai Bapak Hukum Adat Indonesia tanpa pernah ke Nusantara. Hanya duduk sambil membaca laporan dari para pembawanya di Hindia Belanda. Yang sebenarnya tujuannya adalah untuk kepentingan Hindia Belanda yang lebih dipergunakan untuk perpecahan atau (devide at impera)

Hindia Belanda dalam mengkolonisasi Nusantara dengan praktek devide at impera, menggunakan beberapa cara dalam mengikis hukum adat, antara lain :

1. Van Raad (Pengadilan)

membentuk pengadilan pada zaman Hindia Belanda adalah tujuannya untuk membatasi ekspresi dan cara berpendapat dari masyarakat adat.

Keputusan ini karena sudah menggunakan pembuktian ala Belanda juga mengikuti pranata Hindia Belanda yang pada mesinnya hanya untuk kepentingan kolonial. Pembuktian ala Belanda telah mulai mengesampingkan pembentukan keseimbangan micro cosmos macrocosmos, dan lebih mengutamakan pada sifat panca Indria yang terbatas.

2. Volkslectuur (Kepustakaan)

Kepustakaan ini lebih kepada propaganda dengan cara menciptakan mitologi-mitologi palsu, doktrinasi kemudian sejarah-sejarah yang diselewengkan lalu mengambil pustaka-pustaka untuk dibawa ke Belanda sedangkan yang tidak terlalu berpengaruh pada kolonial tetap dibiarkan di nusantara, membuat tulisan-tulisan baru yang pada prinsipnya dapat merubah tatanan atau berubahnya kultur masyarakat secara perlahan-lahan.

Sehingga lama-kelamaan hukum adat itu pun berubah karena dikuasainya kepustakaan oleh kolonial.

3. Ethische Politiek (Politik Etis)

Politik etis itu adalah cara menanamkan doktrinasi melalui pendidikan ala barat yang sebenarnya lebih kepada pencucian otak, propaganda, dan mendisiplinkan para pemimpin di nusantara agar lebih tunduk kepada Hindia Belanda.

Para anak raja, punggawa-punggawa, Pembesar -pembesar Nusantara disekolahkan sehingga nantinya akan lebih menerapkan kepentingan-kepentingan kolonial di Nusantara yang telah disusupkan doktrinasi kepentingan kolonial melalui pendidikan itu,

Dengan pemahaman dan pengetahuan dari pendidikan kolonial itu pelan-pelan pada akhirnya mengganti hukum adat itu sendiri agar sesuai dengan keinginan Hindia Belanda.

Berbeda metode kolonial Ala Inggris yang lebih mengedepankan kekerasan dan penaklukan dalam meneruskan kepemimpinan jajahannya untuk berkuasa asalkan tunduk kepada Inggris, Hindia Belanda lebih mengedepankan gaya pencucian otak dan propaganda yang ditanamkan pada benak atau pemahaman para pemimpinnya atau mengubah cara pandang pemimpinnya yang justru meninggalkan hukum adat itu sendiri tanpa disadari.

Jadi Hindia Belanda tanpa harus melakukan kekerasan sudah mencengkram Nusantara ini hanya melalui sifat-sifat para pemimpinnya.

KULIT PRIBUMI PRILAKU KOLONIAL

Praktek kolonial Hindia Belanda dalam mengubah hukum adat seharusnya menjadi refleksi bangsa Indonesia untuk terlepas dari penjajahan termasuk juga agar melestarikan serta mengimplementasikan hukum adat yang lebih orisinil atau murni. Namun ternyata menjadi bahan renungan sebab lebih banyak berpraktek seperti Van Vollen Hoven yang tidak pernah turun ke Banjar menjadi sekaa pragina, menjadi sekaa mebat, menjadi Daha taruna, atau pengayah pada level kecil tapi oleh karena jabatannya ia mampu untuk membaca laporan-laporan secara umum lalu merasa paling berpraktek hukum adat dan seolah-olah menguasai hukum adat, padahal juga tidak diimbangi bacaan hukum adat yang mumpuni.

Dewasa ini Van Raad (Pengadilan), Volkslectuur (Kepustakaan), Ethische Politiek (Politik Etis) justru terlihat dilakukan secara nyata oleh orang-orang bangsa Indonesia itu sendiri terhadap hukum adatnya sendiri. tanpa disadari pendidikan ala barat telah menguasai nilai-nilai yang ada di hukum adat itu sendiri yang kemudian dipraktekkan oleh pejabat-pejabat atau pembesar-pembesar republik ini, hasilnya lebih banyak kekacauan dan ketidakseimbangan yang terjadi.

Termasuk dalam penentuan aturan-aturan hukum yang lebih mengutamakan demokrasi ala barat yang justru Hasilnya adalah memecah belah antar anak bangsa.

Para pembesar (Elit) mengatasnamakan hukum Adat banyak membuat lembaga-lembaga atau kelompok-kelompok yang sebenarnya bertujuan untuk “politik etis” saja agar pemahaman-pemahaman elit dapat diterapkan di kalangan masyarakat hukum adat. Pelan-pelan masyarakat hukum adat akan terkondisikan pada situasi politik atau bagaimana keinginan elit itu dapat tercapai.

Munculnya aturan-aturan baru dari para elit ini pada akhirnya telah merubah aturan-aturan hukum adat di Indonesia, juga menghilangkan asas kebijaksanaan yang terkandung dalam keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos,

Tentunya ini adalah hanyalah bahan renungan bagi kita semua agar lebih mengingat kemudian membaca kemudian berpraktek pada yang paling kecil (rumah tangga dan Banjar) tidak seperti Van Vollen Hoven

Jika kita merasa pada situasi yang seperti ini maka sebenarnya kita adalah berkulit pribumi tapi berperilaku kolonial.

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Si Pisang Jadi Profesor Tamu! Analogi Unik Jelaskan Bedanya X-ray, CT Scan, dan MRI

    Si Pisang Jadi Profesor Tamu! Analogi Unik Jelaskan Bedanya X-ray, CT Scan, dan MRI

    • calendar_month Minggu, 14 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 16Komentar

    DENPASAR — Siapa sangka, sebuah gambar sederhana dari buah pisang bisa mengajarkan konsep rumit dunia radiologi? Lewat visualisasi unik yang diunggah akun Tech Time dan diulas dalam kuliah populer Now I Know, pisang seolah-olah “menjadi profesor tamu” untuk menjelaskan perbedaan X-ray, CT scan, dan MRI. Gambar itu langsung menyita perhatian banyak orang karena sederhana, relatable, […]

  • Api Obor Porprov Bali XVI Tiba di Denpasar, Tandai Semangat Persatuan dan Sportivitas

    Api Obor Porprov Bali XVI Tiba di Denpasar, Tandai Semangat Persatuan dan Sportivitas

    • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 5Komentar

    DENPASAR – Suasana penuh kebersamaan mewarnai prosesi serah terima Kirab Api Obor Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali XVI tahun 2025 yang digelar di depan Lobi Kantor Wali Kota Denpasar, Senin (8/9/2025). Api suci Porprov diserahkan dari kontingen Kabupaten Badung kepada kontingen Kota Denpasar sebagai bagian dari rangkaian perjalanan kirab keliling Bali. Prosesi penyerahan secara resmi […]

  • Kritik Sistem UKW dan Verifikasi Media, Majelis Pers Serukan Dewan Pers Kembali ke Koridor Regulasi

    Kritik Sistem UKW dan Verifikasi Media, Majelis Pers Serukan Dewan Pers Kembali ke Koridor Regulasi

    • calendar_month Senin, 28 Jun 2021
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    BOGOR — Sejumlah pimpinan organisasi kewartawanan nasional mendorong penguatan kembali peran Majelis Pers sebagai wadah pemersatu sekaligus pengontrol kinerja Dewan Pers. Seruan tersebut mengemuka dalam Temu Wicara dan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Jurnalis yang digelar Forum Wartawan Jakarta (FWJ) Indonesia di Wisma Arga Muncar, Ciawi, Bogor, 27 Juni 2021. Kegiatan yang diinisiasi FWJ Indonesia bersama […]

  • Racun Lebah Buka Harapan Baru Pengobatan Kanker Payudara

    Racun Lebah Buka Harapan Baru Pengobatan Kanker Payudara

    • calendar_month Minggu, 19 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    Peneliti Temukan Senyawa Melittin Mampu Hancurkan Sel Kanker Agresif dalam Waktu Kurang dari Satu Jam   DENPASAR – Dunia medis diguncang oleh sebuah temuan mengejutkan yang berpotensi mengubah arah pengobatan kanker. Para peneliti menemukan bahwa racun lebah, khususnya senyawa bernama melittin, mampu menghancurkan seluruh sel kanker payudara agresif hanya dalam waktu kurang dari 60 menit […]

  • Klien Laporkan ke Polisi, Agen Properti Sebut Sengketa Sebaiknya Dimediasi

    Klien Laporkan ke Polisi, Agen Properti Sebut Sengketa Sebaiknya Dimediasi

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Ray
    • 0Komentar

    DENPASAR – Laporan dugaan penahanan dana deposit sebesar Rp220 juta oleh seorang warga negara Amerika Serikat terhadap agen properti di Bali kini resmi bergulir di Polda Bali. Di tengah proses hukum yang berjalan, pihak agen properti, Remax Dewata, angkat bicara dan menyatakan belum menerima pemberitahuan maupun panggilan resmi dari aparat penegak hukum. Pelapor, Evan Galanis, […]

  • Keputusan Gubernur Guncang Nusa Penida, Dewa Sudarsana usul Gugat Saja, Rusak Kepercayaan Investor

    Keputusan Gubernur Guncang Nusa Penida, Dewa Sudarsana usul Gugat Saja, Rusak Kepercayaan Investor

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 15Komentar

    DENPASAR – Keputusan Gubernur Bali menghentikan proyek lift kaca di Nusa Penida yang sudah mencapai sekitar 70 persen memicu perpecahan tajam di masyarakat. I Dewa Putu Sudarsana, pengamat sosial politik, menilai dampak keputusan ini bukan hanya dirasakan langsung oleh warga setempat, tetapi juga mengancam kepercayaan investor terhadap Bali sebagai destinasi pariwisata internasional. Sudarsana menyebut budaya […]

expand_less