Breaking News
light_mode

Realitas Pahit Kolonisasi Mental, Lima Penyebab Jatuhnya Rupiah

  • account_circle Ray
  • calendar_month 19 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ichsanuddin Noorsy

JAKARTA — Ekonom sekaligus pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy, menilai pelemahan nilai tukar rupiah bukan semata-mata dipengaruhi faktor pasar dan kondisi global, melainkan akibat persoalan struktural yang telah lama mengakar dalam sistem ekonomi Indonesia.

Dalam tulisannya bertajuk “Realitas Pahit Kolonisasi Mental, Lima Penyebab Jatuhnya Rupiah”, Ichsanuddin mengulas perjalanan rupiah sejak dilepas ke mekanisme pasar bebas melalui sistem free floating exchange rate pada 14 Agustus 1997. Menurutnya, sejak saat itu rupiah tunduk pada hukum permintaan dan penawaran pasar global.

Ia mengingatkan bahwa krisis moneter 1997/1998 dipicu oleh tingginya utang luar negeri swasta dalam dolar AS, lemahnya pengawasan perbankan, serta maraknya aksi spekulasi mata uang. Kondisi tersebut diperparah oleh ketidaksesuaian likuiditas perbankan dan jatuh tempo kewajiban pembayaran utang.

“Para pemilik bank saat itu bahkan ikut berspekulasi dengan membeli dolar menggunakan fasilitas pinjaman dari Bank Indonesia,” tulisnya.

Situasi itu, lanjut Ichsanuddin, kemudian berkembang menjadi krisis multidimensi yang ditandai munculnya social distrust, social disorder, dan social disobedient di tengah masyarakat.

Ia menilai kondisi saat ini memang tidak sepenuhnya sama dengan krisis 1998, namun sejumlah indikator menunjukkan tingkat kerentanan ekonomi Indonesia masih tinggi. Mengacu pada World Risk Index 2025, Indonesia disebut memiliki skor kerentanan sebesar 39,8 dan berada di posisi ketiga negara dengan tingkat risiko tertinggi.

Dalam perspektif fungsional, Ichsanuddin menilai ekonomi Indonesia kini berada dalam fase survival mode. Menurutnya, ruang gerak otoritas fiskal dan moneter semakin terbatas akibat tekanan impor energi dan bahan baku, inflasi dorongan biaya (cost push inflation), dominasi oligarki bisnis, serta gejolak geopolitik global.

Ia juga menyoroti kondisi perbankan yang lebih memilih membeli surat utang negara dibanding menyalurkan kredit ke sektor riil. Di sisi lain, daya beli masyarakat dinilai terus melemah akibat tingginya biaya hidup dan tidak efektifnya distribusi belanja fiskal.

Dalam aspek struktural, Ichsanuddin menilai ketergantungan Indonesia terhadap utang luar negeri, impor, serta dominasi dolar AS membuat rupiah sangat bergantung pada kondisi eksternal.

Menurutnya, meskipun pemerintah mendorong hilirisasi, penggunaan local currency settlement, dan bergabung dengan BRICS, kebijakan ekonomi nasional tetap berada dalam bayang-bayang dominasi dolar AS dan sistem keuangan global.

Ia menyebut sejak “Nixon Shock” pada 15 Agustus 1971, ketika Amerika Serikat melepas standar emas dolar AS, banyak negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar. Namun Indonesia dinilai justru semakin nyaman bergantung pada sistem tersebut.

Ichsanuddin kemudian memaparkan lima faktor utama yang disebut menjadi penyebab jatuhnya rupiah, yakni:

1. Patuh pada sistem ekonomi Barat atau Konsensus Washington.
2. Tunduk pada kebijakan dan regulasi IMF serta Bank Dunia.
3. Mengikuti standarisasi Barat seperti pemeringkatan utang oleh Moody’s, S&P, dan Fitch.
4. Menggunakan ukuran akuntabilitas yang divalidasi lembaga internasional.

Menjadikan reputasi internasional sebagai tolok ukur keberhasilan kebijakan ekonomi.
Ia menilai kebijakan menaikkan suku bunga demi mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) justru menjadi bentuk pengabdian pada stabilitas moneter global yang berdampak buruk bagi sektor riil dalam negeri.

“Rakyat kecil akhirnya menjadi korban, sementara otoritas lebih khawatir pada sentimen pasar global dibanding penderitaan rakyatnya sendiri,” tegasnya.

Ichsanuddin juga menyebut intervensi yang dilakukan Bank Indonesia saat ini hanya bersifat paliatif atau sekadar meredakan tekanan sementara. Menurutnya, tanpa perubahan mendasar terhadap struktur ekonomi dan kebijakan nasional, Indonesia akan tetap berada pada posisi sebagai rule taker dalam sistem ekonomi global.

Ia menegaskan jalan keluar sebenarnya ada, namun sangat bergantung pada keberanian pemimpin dan perubahan sistem ekonomi nasional.

“Dengan aktor-aktor negara dan sistem seperti saat ini, rakyat Indonesia sedang bermimpi di siang hari untuk terbebas dari kolonisasi berkemasan kemajuan,” pungkasnya.

Editor – Ray

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari “Jaga Bali” ke Belanja Umum, Dana PWA Mulai Kehilangan Arah?

    Dari “Jaga Bali” ke Belanja Umum, Dana PWA Mulai Kehilangan Arah?

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Denpasar — Angkanya mencolok: Rp353,47 miliar. Itulah total Pungutan Wisatawan Asing (PWA) yang terkumpul hingga pertengahan Desember 2025. Dari jumlah tersebut, Rp283,97 miliar telah direalisasikan, atau setara 80,34 persen. Di atas kertas, capaian ini tampak solid dan mencerminkan kinerja anggaran yang tinggi. Namun ketika struktur penggunaannya ditelisik lebih dalam. Muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah […]

  • ARUN DPD Bali Turun Bersama Gubernur dalam Gerakan Bali Bersih, Dukung Imbauan Presiden Prabowo

    ARUN DPD Bali Turun Bersama Gubernur dalam Gerakan Bali Bersih, Dukung Imbauan Presiden Prabowo

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Ray
    • 1Komentar

    DENPASAR – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bali Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN) ambil bagian dalam kegiatan bersih pantai di Pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar, Minggu (1/3/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Bali Bersih yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi kemasyarakatan (ormas), TNI, Kepolisian, siswa sekolah, hingga desa adat, bersama Pemerintah Provinsi Bali. Aksi […]

  • Kasus Dugaan Pelanggaran Penggunaan Jalur Utilitas Jababeka Resmi Naik ke Penyidikan

    Kasus Dugaan Pelanggaran Penggunaan Jalur Utilitas Jababeka Resmi Naik ke Penyidikan

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 11Komentar

    JAKARTA – Laporan Pidana PT Mastertama Adhi Properti (MAP) terhadap PT Jababeka di Polda Metro Jaya terkait dugaan pelanggaran hukum penggunaan lahan telah dinaikan statusnya menjadi Penyidikan pada September 2025. Kasus ini berawal dari jaringan pipa atau utilitas milik PT Jababeka Tbk yang berada di atas lahan seluas 176.525 meter persegi milik PT MAP di […]

  • KEK Kura Kura Bali Tegaskan Komitmen Lestarikan Delapan Pura di Tengah Pengembangan Kawasan

    KEK Kura Kura Bali Tegaskan Komitmen Lestarikan Delapan Pura di Tengah Pengembangan Kawasan

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    DENPASAR, BALI – Suasana hening dan sakral pasca perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 masih terasa kuat di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali. Aktivitas pembangunan yang biasanya berlangsung dinamis, sempat berhenti total sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi luhur masyarakat Bali. Keheningan tersebut tidak sekadar bentuk kepatuhan terhadap aturan, melainkan menjadi momentum […]

  • Mask Painting di FOX Jimbaran Beach Bali, Aktivitas Kreatif yang Menghadirkan Sentuhan Budaya

    Mask Painting di FOX Jimbaran Beach Bali, Aktivitas Kreatif yang Menghadirkan Sentuhan Budaya

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 7Komentar

    BADUNG — FOX Jimbaran Beach Bali kembali menawarkan pengalaman budaya yang unik melalui kegiatan Mask Painting yang digelar setiap hari Selasa pukul 15.00–16.00 WITA di Baresto Restaurant. Aktivitas mingguan ini menjadi daya tarik bagi tamu yang ingin menikmati kesenian tradisional Indonesia dalam suasana santai dan kreatif. Dalam sesi ini, peserta diajak melukis menggunakan topeng tradisional […]

  • BREIG Social Run, 800 Peserta Meriahkan Lari Komunitas Pertama di Canggu

    BREIG Social Run, 800 Peserta Meriahkan Lari Komunitas Pertama di Canggu

    • calendar_month Minggu, 20 Jul 2025
    • account_circle Ray
    • 10Komentar

    Canggu, Bali – 20 Juli 2025 Lebih dari sekadar olahraga, BREIG Social Run resmi menjadi ajang lari komunitas pertama di Canggu yang menggabungkan semangat kebugaran, kebersamaan, dan cinta terhadap lingkungan sekitar. Diselenggarakan oleh BREIGSocials, sebuah inisiatif komunitas dari PT BREIG Jaya Properti acara ini berhasil menarik perhatian lebih dari 800 peserta, termasuk pelari profesional, keluarga, […]

expand_less