Target Pertumbuhan Ekonomi RI Meleset, Purbaya Salahkan Lonjakan Harga Minyak Dunia
- account_circle Ray
- calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Menteri Keuangan menyebut gejolak geopolitik Timur Tengah menekan laju ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026, namun optimistis pertumbuhan mampu menembus 6 persen pada semester kedua.
JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut memang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, namun masih berada di bawah proyeksi pemerintah yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan dapat mencapai kisaran 5,4 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai melesetnya target pertumbuhan tidak terlepas dari dampak kenaikan harga minyak dunia yang dipicu memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
“Jadi kalau kita lihat, saya sebenarnya agak takut. Itu kan 5,3 kan? Melambat di tengah harga minyak dunia yang tinggi. Q2 sebetulnya agak impact dari global,” kata Purbaya Yudhi Sadewa.
Menurut Purbaya, lonjakan harga energi selama periode April hingga Juni 2026 memberikan tekanan terhadap berbagai sektor ekonomi nasional, termasuk aktivitas ekspor. Meski demikian, pemerintah tetap menilai capaian pertumbuhan sebesar 5,29 persen merupakan hasil yang cukup baik di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
“Kita bisa tembus 5,29 itu sudah cukup baik dengan keadaan yang seperti itu,” ujar Purbaya.
Pemerintah optimistis laju pertumbuhan ekonomi masih dapat dipercepat pada triwulan III dan IV 2026. Berbagai instrumen kebijakan dan penguatan sektor produktif diyakini mampu mendorong pertumbuhan hingga mendekati target 6 persen.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen (yoy) pada triwulan II 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II 2025 yang mencapai 5,12 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 ditopang oleh konsumsi masyarakat dan investasi,” ujar Moh Edy Mahmud.
BPS juga mencatat, secara kuartalan (quarter to quarter/qtq), ekonomi Indonesia tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026. Adapun secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang semester I 2026 mencapai 5,45 persen, memberikan optimisme terhadap prospek ekonomi hingga akhir tahun.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar