Breaking News
light_mode

Dari Bali Utara Untuk Nusantara, Menjemput Restu dari Tanah Para Sultan

  • account_circle Ray
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di Ternate, pembahasan pembangunan Bandara Internasional Bali Utara justru dimulai dari makam para leluhur Kesultanan. Sejarah menjadi pijakan sebelum pembangunan dilaksanakan.

Jakarta – Sabtu pagi (4/7/2026), matahari baru merayap dari ufuk timur ketika pesawat yang membawa Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, dan YM Brigjen Pol. (Purn.) Dr. A.A. Mapparessa, M.M., M.Si., Karaeng Turikale VIII Maros, yang juga Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), mendarat di Bandara Sultan Babullah, Ternate. Dari balik jendela pesawat tampak siluet Gunung Gamalama yang masih diselimuti kabut tipis. Laut di sekeliling pulau tampak tenang.

Di ruang kedatangan bandara sudah menunggu seorang tokoh penting, yakni YM Firman Mudaffar Sjah, putra mendiang Sultan Ternate ke-48, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal FSKN.

Tak ada seremoni penyambutan. Tak ada pidato. Usai berjabat tangan dan berpelukan hangat dengan para penjemput, rombongan menuju mobil.

“Kita langsung ke Kulaba,” ujar YM Firman.

Mobil meninggalkan pusat Kota Ternate menuju bagian barat pulau. Jalan berkelok di kaki Gunung Gamalama, melewati rumah-rumah warga, kebun pala, dan pohon cengkeh yang selama berabad-abad menjadikan Ternate sebagai pusat perdagangan rempah dunia.

Rombongan pun tiba di Karamat Kulaba, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Jere Kulaba. Sebuah kompleks makam yang sederhana. Pagar rendah mengelilingi area pemakaman. Batu-batu nisan tua. Pohon-pohon besar menaungi kawasan yang sejuk. Beberapa penjaga makam telah bersiap menyambut rombongan, lalu mempersilakan mereka masuk.

Di Ternate, istilah jere atau karamat bukan sekadar makam tua. Sebutan itu diberikan kepada makam para penyebar Islam, ulama, maupun leluhur Kesultanan Ternate yang dihormati masyarakat. Hingga kini, banyak warga datang untuk berziarah dan berdoa.

Suasana hening. Sesekali YM Firman menunjuk beberapa makam sambil menjelaskan kisah para tokoh yang dimakamkan di sana. Ia melengkapi penjelasan dengan cerita tentang tradisi Kesultanan yang diwariskan secara turun-temurun. Sementara Erwanto lebih banyak mendengarkan.

Usai berdoa, YM Mapparessa menjelaskan alasan mengapa perjalanan itu dimulai dari tempat tersebut.

“Kami sengaja mengundang Pak Erwanto ke Ternate. Matahari terbit dari timur. Dari timur pula kita diingatkan bahwa pembangunan tidak boleh tercerabut dari sejarah. Sebelum berbicara tentang masa depan, kita menghormati mereka yang lebih dahulu membangun peradaban Nusantara.”

Menurut YM Mapparessa, perjalanan spiritual itu memiliki hubungan dengan gagasan pembangunan Bandara Internasional Bali Utara.

“Kami melihat bandara di Buleleng bukan hanya sebagai proyek infrastruktur. Kami berharap ia menjadi lokomotif pertumbuhan yang menghubungkan Bali dengan Indonesia Timur. Karena itu, ikhtiar besar sebaiknya diawali dengan menghormati sejarah.”

Dari Jere Kulaba, rombongan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Foramadiahi, sebuah perkampungan tua di lereng Gunung Gamalama yang menjadi tempat dimakamkannya Sultan Baabullah.

Jalan semakin menanjak. Udara terasa lebih dingin. Dari beberapa tikungan, Kota Ternate tampak mengecil. Laut biru membentang hingga Pulau Tidore di kejauhan.

Kompleks makam Sultan Baabullah berada di tempat yang tenang, dikelilingi pepohonan. Tidak ada bangunan megah. Hanya tampak beberapa makam tua yang terawat dan sejumlah peziarah yang datang silih berganti.

Di depan makam itu, YM Firman kembali berhenti.

“Kalau ingin memahami Ternate, kita harus mengenal Sultan Baabullah,” katanya.

Baabullah bukan sekadar sultan. Ia adalah salah satu pemimpin terbesar dalam sejarah Nusantara. Setelah ayahnya, Sultan Khairun, dibunuh Portugis pada 1570, Baabullah memimpin perang selama lima tahun. Pada 1575, ia berhasil mengusir Portugis dari Benteng Kastela dan memperluas pengaruh Kesultanan Ternate hingga meliputi puluhan pulau di kawasan timur. Karena itu, ia dikenal sebagai Penguasa 72 Pulau.

YM Firman Mudaffar Sjah memandang makam leluhurnya beberapa saat sebelum berbicara.

“Sultan Baabullah menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan. Ia mempersatukan wilayah-wilayah Nusantara Timur melalui keberanian, diplomasi, dan visi. Nilai itu yang ingin kami wariskan.”

Sejarah Ternate memang jauh lebih tua daripada Republik ini.

Kesultanan Ternate berdiri sejak 1257 ketika Kolano Baab Mashur Malamo memerintah sebagai raja pertama. Islam kemudian menjadi agama resmi kerajaan pada masa Sultan Zainal Abidin. Di bawah Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaannya sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan rempah dan memiliki pengaruh hingga Maluku, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, bahkan sebagian wilayah Filipina Selatan.

Jejak sejarah itu masih terasa di hampir setiap sudut kota. Benteng, masjid tua, kampung-kampung berusia ratusan tahun, hingga makam para sultan menjadi pengingat bahwa Ternate pernah menjadi salah satu pusat peradaban maritim paling berpengaruh di Asia Tenggara.

Keesokan harinya, Minggu pagi, rombongan menuju Kedaton Buku Bandera, atau Kadato Ici, istana peristirahatan Kesultanan Ternate yang berada di dataran tinggi.

Dari halaman kedaton, seluruh Kota Ternate tampak membentang. Laut terlihat hampir tanpa batas. Pulau Tidore berdiri tenang di seberang.

YM Firman menunjuk ke arah laut.

“Dulu, setiap kapal yang datang pertama kali terlihat dari sini,” ujarnya.

Nama Buku Bandera berasal dari fungsi tempat itu pada masa Kesultanan. Dari bukit tersebut, kedatangan kapal dipantau. Informasi kemudian diteruskan ke keraton menggunakan isyarat bendera. Tempat itu menjadi “mata” Kesultanan Ternate dalam mengawasi lalu lintas perdagangan rempah.

Kini, dari tempat yang sama, percakapan beralih ke masa depan.

YM Mapparessa mengatakan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara menghimpun raja, sultan, pemangku adat, dan keraton dari seluruh Indonesia. Dukungan FSKN terhadap pembangunan Bandara Internasional Bali Utara, menurut dia, bukanlah dukungan terhadap sebuah perusahaan, melainkan dukungan terhadap gagasan pemerataan pembangunan nasional.

“Bandara Bali Utara kami lihat sebagai gerbang baru Indonesia Timur. Bukan hanya untuk Bali, tetapi juga untuk Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dukungan kami adalah dukungan moral agar pembangunan berjalan seiring dengan penghormatan terhadap sejarah dan kearifan Nusantara,” ujar YM Mapparessa.

Lebih jauh, YM Firman juga menambahkan.

“Kalau Indonesia ingin membangun secara adil, harus ada pusat-pusat pertumbuhan baru. Bali Utara memiliki posisi strategis untuk membuka konektivitas menuju kawasan timur.”

Sesungguhnya, gagasan pembangunan Bandara Internasional Bali Utara telah berkembang selama lebih dari satu dekade. Pemerintah kini telah memasukkan pengembangan kawasan Bali Utara ke dalam arah pembangunan nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029. Dalam dokumen tersebut, penguatan konektivitas Bali Utara menjadi bagian dari strategi pemerataan pembangunan, pengembangan jaringan logistik nasional, dan peningkatan akses menuju kawasan Indonesia bagian timur.

Bagi Erwanto, perjalanan dua hari di Ternate memberikan makna yang berbeda dari yang ia bayangkan. Kunjungan itu memerkokoh keyakinan bahwa dukungan semesta, sebagai wujud skenario Sang Pencipta, adalah keniscayaan. Sejak gagasan berdirinya Bandara Internasional Bali Utara bergulir, campur tangan-Nya sangat terasa. Begitu pula dukungan penuh para penglingsir atau para raja dari seluruh Bali yang memberinya kekuatan.

“Saya datang dengan pikiran tentang sebuah proyek infrastruktur. Tetapi saya pulang dengan pelajaran bahwa pembangunan tidak bisa dipisahkan dari sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu. Itu sebabnya perjalanan ini sangat berarti bagi saya,” ujar Erwanto.

Senin pagi (6/7/2026), rombongan kembali ke Bandara Sultan Babullah. Suasana bandara mulai ramai. Penumpang mengantre di ruang keberangkatan. Pengumuman penerbangan terdengar bersahutan melalui pengeras suara.

Sebelum berpisah, YM Firman menyalami Erwanto dan memeluknya erat. Ia membisikkan, “Kalau nanti bandara internasional di Bali Utara sudah berdiri, kami berharap orang mengingat bahwa pembangunan itu bukan hanya untuk Bali. Ia adalah bagian dari ikhtiar memperkuat Indonesia Timur,” ucapnya lirih.

Pesawat kemudian lepas landas meninggalkan Ternate. Dari balik jendela, Gunung Gamalama terlihat perlahan semakin mengecil. Laut yang dahulu dilayari kapal-kapal rempah tetap membentang, seolah menyimpan ingatan panjang tentang sebuah kerajaan yang pernah mempersatukan kawasan timur Nusantara.

Perjalanan itu terbilang singkat, hanya berlangsung dua hari. Namun di Ternate, rombongan menemukan sebuah pelajaran sederhana, tetapi penuh makna: bahwa setiap pembangunan yang membutuhkan teknologi, investasi, dan keberanian mengambil keputusan, tetap perlu diimbangi dengan penghormatan kepada sejarah, kearifan para leluhur, serta kesadaran bahwa kemajuan akan lebih kokoh jika dibangun di atas akar peradaban yang tidak pernah dilupakan.

Di negeri yang dibangun di atas lapisan-lapisan sejarah seperti Indonesia, kemajuan akan lebih kokoh jika bertumpu pada penghormatan kepada warisan leluhur, kebudayaan, dan cita-cita untuk membangun Nusantara secara lebih seimbang dari timur hingga barat.

Editor – Tim

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Selat Hormuz Memanas, Perang Iran–Israel–AS Picu Ancaman Krisis Energi Global

    Selat Hormuz Memanas, Perang Iran–Israel–AS Picu Ancaman Krisis Energi Global

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 12Komentar

    Teheran/Washington/Tel Aviv – Eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat kini memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Ketegangan militer yang sebelumnya terbatas pada serangan udara dan balasan rudal, kini meluas ke ancaman penutupan Selat Hormuz — jalur vital distribusi energi dunia. Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia itu […]

  • FOX Jimbaran Beach Bali Tawarkan Kenyamanan dengan Kamar Luas dan Modern

    FOX Jimbaran Beach Bali Tawarkan Kenyamanan dengan Kamar Luas dan Modern

    • calendar_month Rabu, 24 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 5Komentar

    BADUNG, September 2025 – FOX Jimbaran Beach Bali resmi memperkenalkan konsep spacious living melalui kamar-kamar luas yang dirancang khusus untuk menghadirkan kenyamanan optimal bagi para tamu. Setiap kamar dilengkapi sofa bed yang fleksibel, menjadikannya pilihan ideal bagi wisatawan keluarga, pasangan, maupun pelancong bisnis yang mendambakan pengalaman menginap penuh kenyamanan di Bali. Terdapat tiga kategori kamar […]

  • FOX Hotel Jimbaran Beach Bali Hadirkan Pengalaman Menginap Mewah dengan Sentuhan Budaya Lokal

    FOX Hotel Jimbaran Beach Bali Hadirkan Pengalaman Menginap Mewah dengan Sentuhan Budaya Lokal

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 84Komentar

    Badung, 14 Juli 2025 — Menyatu dalam keindahan alam dan budaya Bali, FOX Hotel Jimbaran Beach Bali mempersembahkan pengalaman menginap yang menggabungkan kenyamanan modern dengan kehangatan khas Pulau Dewata. Terletak strategis di kawasan Jimbaran yang dikenal dengan pantai eksotis dan kuliner lautnya, hotel ini menjadi pilihan sempurna bagi wisatawan yang menginginkan relaksasi, petualangan, maupun perjalanan […]

  • ADWITI Resmi Berdiri, Siap Bangun Standarisasi Layanan Dharma Wisata dan Tirta Yatra

    ADWITI Resmi Berdiri, Siap Bangun Standarisasi Layanan Dharma Wisata dan Tirta Yatra

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle Ray
    • 7Komentar

    DENPASAR – Pengukuhan Asosiasi Dharma Wisata dan Tirta Yatra Indonesia (ADWITI) telah resmi dilaksanakan di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali di Jl.Letjen S Parman, Renon, Selasa (2/6). Pengukuhan ini pimpin langsung oleh Anggota DPD RI Perwakilan Bali Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedekarna MWS III, SE, M.Si yang akrab disapa AWK, yang juga sebagai […]

  • Imigrasi Ngurah Rai Deportasi 17 WNA, 10 Langgar Izin Tinggal dan Ketertiban Umum

    Imigrasi Ngurah Rai Deportasi 17 WNA, 10 Langgar Izin Tinggal dan Ketertiban Umum

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Ray
    • 3Komentar

    Penindakan dilakukan sepanjang 8–18 September 2026 setelah patroli keimigrasian menemukan pelanggaran, mulai dari dugaan tindakan asusila, penyalahgunaan izin tinggal hingga overstay lebih dari 60 hari. BADUNG — Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai mendeportasi 17 warga negara asing (WNA) sepanjang 8 hingga 18 September 2026. Penindakan tersebut dilakukan setelah jajaran Imigrasi Ngurah Rai […]

  • TNI AL Siapkan Pangkalan Baru di Wanam, Perkuat Pertahanan Maritim dan Dorong Ekonomi Papua Selatan

    TNI AL Siapkan Pangkalan Baru di Wanam, Perkuat Pertahanan Maritim dan Dorong Ekonomi Papua Selatan

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    PAPUA SELATAN – TNI Angkatan Laut (TNI AL) tengah mempersiapkan pembangunan pangkalan militer baru di kawasan strategis Wanam, Papua Selatan. Kehadiran pangkalan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pertahanan maritim nasional sekaligus meningkatkan pengawasan di wilayah perairan timur Indonesia. Wanam dinilai memiliki posisi yang strategis karena berada dekat dengan jalur pelayaran internasional serta kawasan […]

expand_less