Niji No Kagayaki, Niji Ga Genki Ni Afurete Iru
- account_circle Ray
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Dari Negeri Matahari Terbit, tempat hamparan subur bunga sakura, Dai Nippon (Jepang), saya mengawali coretan sederhana ini:
“Niji no kagayaki, niji ga genki ni afurete iru.”
“Pelangi yang berkilau, pelangi yang memberi semangat.”
Saya yakin, kebanyakan orang akan merasa senang ketika dapat melihat pelangi. Warna-warninya lembut, indah, dan memanjakan mata. Namun, pelangi tidak selalu mudah kita temui. Tanpa adanya hujan, sang pelangi tidak akan muncul. Bahkan setelah hujan turun sekalipun, ia belum tentu hadir menghiasi langit.
Dari situlah saya memetik sebuah pelajaran sederhana tentang kehidupan.
Hujan lebat sering kali menjadi masalah bagi kebanyakan orang. Rumah bocor, banjir, kemacetan, bahkan berbagai penyakit dapat muncul setelahnya. Namun, begitu melihat pelangi, seolah-olah seluruh perasaan resah, gelisah, dan gundah gulana itu tiba-tiba berubah menjadi rasa kagum dan takjub.
Hal yang sama terjadi dalam kehidupan kita. Ketika sedang dirundung berbagai persoalan, kita seolah tidak mampu melihat sesuatu yang baik di balik semua itu. Hati dipenuhi kecemasan, kegelisahan, keresahan, bahkan keluh kesah yang tak henti-hentinya keluar dari mulut kita dalam berbagai umpatan dan kekesalan.
Namun, ketika masalah tersebut akhirnya terlewati, perlahan kita mulai mampu melihat hikmah dari segala sesuatu yang telah terjadi. Kita dapat menoleh ke belakang, tersenyum, bahkan tertawa lepas mengingat masa-masa yang dahulu terasa begitu berat.
Perlu kita pahami bahwa masalah adalah sahabat dalam kehidupan. Tanpa masalah, kehidupan mungkin tidak akan benar-benar mengajarkan kita arti kehidupan. Setiap orang pasti memiliki jatah takdir untuk merasakan kebahagiaan, dan itu bukan hanya sekali. Namun, setiap orang juga memiliki “musim penghujan” dalam hidupnya, yakni masa ketika kita dihujani berbagai persoalan dan rintangan.
Masalah merupakan salah satu proses pendewasaan. Ia menjadi bagian dari perjalanan hidup yang mengajarkan kita untuk tumbuh, berkembang, menjadi lebih kuat, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Maka, pesan saya kepada diri sendiri dan kepada siapa pun yang sedang menghadapi masalah: tetaplah berpikir tenang dan positif ketika persoalan menyapa kehidupan. Percayalah, segala sesuatu akan menemukan waktunya untuk berganti menjadi lebih baik, layaknya pelangi yang hadir setelah hujan turun sebagai anugerah dari Ida Hyang Widhi Wasa.
Sesungguhnya, setiap orang memiliki pelangi dalam kehidupannya. Karena itu, setiap orang juga pasti memiliki “musim penghujan” dalam hidupnya.
Maka, ketika badai datang menerpa kehidupan, ingatlah bahwa kita semua sedang menantikan pelangi yang kelak akan mewarnai hidup dengan keindahan. Sebuah keindahan yang mungkin selama ini belum mampu kita lihat karena kita masih berada di tengah derasnya hujan.
Jadikan setiap persoalan sebagai ruang untuk belajar dari kehidupan. Ambillah hikmah dari setiap kejadian. Bangun optimisme dalam diri, lalu bangkitlah kembali sebagai pribadi yang dipenuhi energi inspiratif, menjadi lebih tangguh dalam menjalani kehidupan, sekaligus belajar mensyukuri setiap nikmat dan perjuangan yang telah Tuhan berikan.
Di penghujung tulisan ini, saya mengutip judul lagu Latin lawas yang turut menginspirasi perjalanan hidup:
“Oye Como Va.”
Bagi saya, kalimat itu menjadi pengingat untuk terus melangkah, menikmati perjalanan, dan menjalani setiap jalan takdir yang telah digariskan Tuhan.
Sebab pada akhirnya, perjalanan hidup ini akan membawa kita menuju satu tujuan: kembali kepada Tuhan.
– Man Tayax –

Saat ini belum ada komentar