Nyoman Tirtawan Desak Sampah Wajib Dipilah dari Rumah, Sekolah Diminta Jadi Motor Perubahan
- account_circle Ray
- calendar_month 17 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mantan anggota DPRD Bali itu mendorong pemerintah membangun sistem pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga hingga sekolah, sekaligus memasukkan kegiatan kebersihan lingkungan ke dalam pembentukan karakter peserta didik.
DENPASAR – Persoalan sampah di Bali dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan petugas kebersihan. Tokoh masyarakat Bali, Nyoman Tirtawan, mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dengan menjadikan pemilahan dari rumah sebagai kewajiban dan pendidikan lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter sejak usia dini.
Tirtawan, yang dikenal publik Bali sebagai tokoh yang pernah memperjuangkan penyelamatan anggaran rakyat sebesar Rp98 miliar dalam konteks Pilgub Bali 2018, menilai persoalan sampah harus ditangani secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat. Sejumlah pemberitaan sebelumnya juga mencatat kiprahnya dalam menyuarakan persoalan sampah dan lingkungan di Bali.
Dalam pernyataannya, Tirtawan menyoroti masih lemahnya kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.
“Kalau pemerintah mau, kalau orang Indonesia mau, pasti mampu. Di Kanada sudah empat puluh tiga tahun lebih memilah sampah. Daerahnya bersih, tidak ada sampah yang tercecer ataupun menumpuk,” ujar Nyoman Tirtawan dalam videonya, Senin 28 September 2026.
Menurut dia, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar sehingga penanganan sampah tidak bisa dibebankan hanya kepada tenaga kebersihan. Setiap warga, kata dia, harus memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya.
“Dua ratus delapan puluh juta manusia yang bikin sampah, maka tidak patut hanya beberapa orang tenaga kebersihan saja yang mengurus sampah,” tegasnya.
Tirtawan meminta pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Bali, memperkuat sistem pengelolaan sampah mulai dari tingkat rumah tangga. Pemilahan sampah organik dan anorganik dinilai harus menjadi kebiasaan sebelum sampah masuk ke sistem pengangkutan.
Gagasan tersebut sebenarnya bukan hal baru dalam perhatian Tirtawan terhadap persoalan lingkungan. Pada 2017, ketika masih menjadi anggota DPRD Bali, ia juga menilai pengelolaan sampah rumah tangga belum efektif karena sebagian besar sampah hanya berpindah dari tempat penampungan menuju TPA.
Dalam pandangannya saat ini, teknologi pengolahan sampah seperti daur ulang dan pengomposan sudah tersedia. Tantangan utamanya adalah membangun sistem sekaligus membentuk kebiasaan masyarakat agar pengelolaan dilakukan sejak dari sumber.
“Kita sudah punya teknologi daur ulang, composting, semua sudah ada. Tinggal bagaimana sistem harus kita bangun untuk menjaga alam Bali, alam Indonesia,” kata Tirtawan.
Ia juga menyoroti kebiasaan membuang sampah sembarangan, termasuk dari kendaraan yang melintas di jalan. Menurutnya, aturan mengenai kebersihan lingkungan perlu ditegakkan secara konsisten agar masyarakat tidak menganggap membuang sampah sembarangan sebagai hal biasa.
Selain penegakan aturan, Tirtawan mengusulkan pendidikan lingkungan diperkuat melalui sekolah. Ia mendorong kegiatan membersihkan lingkungan dilakukan secara rutin dan menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
“Saya mohon biar program pembentukan karakter dimulai dari usia dini, termasuk di sekolah. Punya program seminggu sekali,” ujarnya.
Ia bahkan mengusulkan agar pemerintah pusat mempertimbangkan memasukkan kegiatan kebersihan lingkungan ke dalam kurikulum sekolah. Salah satu konsep yang ditawarkan adalah kegiatan Jumat Bersih yang dilakukan secara serentak di lingkungan sekolah maupun kawasan sekitarnya.
“Kalau bisa Pak Prabowo, bagaimana program Wiyata Mandala, program untuk membersihkan lingkungan diwajibkan masuk kurikulum sekolah. Setiap Jumat bersih, lingkungan di semua pelosok harus dibersihkan. Tidak boleh ada sampah di mana pun,” kata Tirtawan.
Menurut dia, kegiatan tersebut bukan semata-mata bertujuan mengumpulkan sampah, tetapi menjadi sarana pendidikan melalui praktik langsung. Anak-anak sejak dini diharapkan memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab setiap individu.
“Kita bentuk karakter bangsa Indonesia dari usia dini, character building, learning by doing. Jadi melakukan sesuatu otomatis dari pembelajaran itu, bukan learning but doing nothing,” tegasnya.
Tirtawan berharap gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang sistematis, sehingga persoalan sampah tidak lagi dipandang sebagai urusan petugas kebersihan semata.
“Saya ingin ini menjadi energi besar karena kalau pemerintah mampu mendayagunakan sumber daya manusia, di sanalah letak keberhasilan bangsa,” pungkasnya.
Pandangan Tirtawan mengenai perlunya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah juga sejalan dengan pernyataannya ketika masih duduk di DPRD Bali.
Pada 2018, ia telah mendorong pemilahan sampah organik dan nonorganik dimulai dari rumah tangga serta menyoroti persoalan sampah plastik yang semakin meluas.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar