Tragis di NTT! 17 Warga Konsumsi Daging Anjing Diduga Rabies, Otoritas Kesehatan Bergerak Cepat
- account_circle Admin
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NTT, 8 April 2026 — Sebuah peristiwa memprihatinkan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) ketika 17 warga dilaporkan mengonsumsi daging anjing yang sebelumnya menggigit pemiliknya hingga meninggal dunia. Belakangan, hewan tersebut diduga kuat terinfeksi rabies, penyakit zoonosis mematikan yang dapat menular ke manusia.
Insiden bermula saat seekor anjing peliharaan tiba-tiba menunjukkan perilaku agresif dan menyerang pemiliknya. Korban mengalami luka gigitan serius dan sempat mendapatkan perawatan medis, namun nyawanya tidak tertolong.
Alih-alih menguburkan atau melaporkan kejadian tersebut kepada petugas berwenang, warga setempat justru menyembelih anjing tersebut dan membagikan dagingnya untuk dikonsumsi bersama. Tindakan ini dilakukan tanpa menyadari potensi penularan rabies yang mengintai, terutama dari kontak dengan air liur hewan terinfeksi selama proses pengolahan.
Rabies merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf pusat dan hampir selalu berakibat fatal pada manusia jika gejalanya telah muncul. Penularan umumnya terjadi melalui gigitan hewan yang terinfeksi, namun juga dapat terjadi melalui paparan air liur pada luka terbuka atau selaput lendir.
Menanggapi kejadian tersebut, dinas kesehatan setempat bersama petugas veteriner segera melakukan pelacakan terhadap warga yang terlibat. Sebanyak 17 orang yang mengonsumsi daging anjing tersebut langsung diberikan vaksin anti-rabies (VAR) sebagai langkah pencegahan dini.
Selain penanganan medis, pemerintah juga mengintensifkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya rabies dan pentingnya penanganan yang tepat terhadap hewan yang menunjukkan gejala penyakit. Minimnya pemahaman masyarakat dinilai menjadi salah satu faktor utama terjadinya kasus ini.
Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi hewan yang sakit atau menunjukkan perilaku tidak normal, serta segera melapor ke fasilitas kesehatan jika mengalami gigitan hewan. Upaya pencegahan melalui vaksinasi hewan peliharaan juga dinilai krusial untuk menekan penyebaran rabies, terutama di wilayah dengan tingkat vaksinasi yang masih rendah.
Kasus ini menjadi peringatan serius akan pentingnya kewaspadaan terhadap rabies dan perlunya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mencegah penyebaran penyakit mematikan tersebut.
Editorb- Ray

Saat ini belum ada komentar