Breaking News
light_mode
Beranda » Opini / Tokoh » Vonis Tom Lembong, Luka Bagi Akal Sehat dan Rasa Keadilan

Vonis Tom Lembong, Luka Bagi Akal Sehat dan Rasa Keadilan

  • account_circle Ray
  • calendar_month Sab, 19 Jul 2025

DENPASAR – Hari ini, sebuah keputusan yang mengguncang nurani banyak pihak resmi dijatuhkan, Tom Lembong divonis 4,5 tahun penjara. Putusan ini bukan hanya mengecewakan, tetapi juga menyakitkan bagi siapa pun yang mengikuti jalannya persidangan dengan nalar jernih dan akal sehat.

Meski keputusan tersebut mungkin tidak mengejutkan, tetap saja sulit diterima, karena ia berdiri di atas proses hukum yang dinilai sarat kejanggalan.

Selama 23 kali persidangan yang digelar terbuka untuk publik, tak sedikit laporan jurnalistik independen, analisis ahli hukum, hingga penilaian pengamat yang menunjukkan bahwa dakwaan terhadap Tom Lembong penuh pertanyaan.

Berbagai fakta dan bukti yang disampaikan justru memperkuat bahwa Tom tak bersalah, mulai dari tidak adanya aliran dana ke rekening pribadinya, hingga keterangan saksi yang tidak menunjukkan niat jahat atau perbuatan melawan hukum secara aktif.

Namun, semua itu seperti tak bernilai. Seolah-olah, ruang sidang hanyalah panggung formalitas, bukan tempat mencari dan menegakkan kebenaran.

Vonis terhadap Tom mengirim pesan kelam kepada publik, bahwa bahkan mereka yang menjalani proses hukum secara terbuka, yang tak terbukti memperkaya diri sendiri, yang dikenal luas integritas dan rekam jejaknya, bisa tetap dijatuhi hukuman.

Jika Tom saja bisa diperlakukan demikian, bagaimana nasib mereka yang tanpa akses pengacara handal, tanpa liputan media, tanpa kekuatan sosial dan politik untuk membela diri?

Putusan ini bukan semata soal Tom. Ini adalah refleksi suram dari sistem hukum yang masih jauh dari cita-cita keadilan. Kita dipaksa bertanya kembali: sekuat apa sebenarnya fondasi hukum di negeri ini? Sejujur apa keberpihakan sistem terhadap kebenaran?

Senin lalu, dalam dupliknya, Tom menyampaikan bahwa ia belajar tentang makna tawakkal, berusaha sepenuh hati lalu menyerahkan hasilnya pada kehendak Tuhan. Dan hari ini, hasil itu belum berpihak padanya. Namun ini belum akhir. Ini hanyalah satu babak dari perjuangan panjang untuk mencari keadilan, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk mereka yang bernasib serupa, mereka yang diam, yang tak punya suara, yang tertindas dalam senyap.

Tom dan tim hukumnya masih akan menempuh langkah hukum lanjutan, termasuk upaya banding. Tapi yang pasti, perjuangan ini tak akan dibiarkan sepi. Dukungan akan terus mengalir. Karena satu hal yang tak boleh dilupakan, Tom tidak dan tidak akan pernah berjuang sendirian.

Hari ini, keadilan boleh saja dikalahkan. Tapi esok, perjuangan akan dilanjutkan dengan lebih keras, lebih terang, dan lebih banyak suara yang bersatu. (Ray)

Ray

Penulis

Jurnalis adalah ajang silahturahmi dengan segala elemen!

Komentar (4993)