Breaking News
light_mode

Menanti Hari Terakhir, Memaknai Kematian yang Sungguh Misterius

  • account_circle Admin
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

I Nyoman Sukataya (Man Tayax)

DENPASAR – Pagi menjelang siang ini, di tengah berbagai hal yang harus saya selesaikan, persiapan ke rumah sakit, pekerjaan di beberapa tempat, permintaan tolong dari seseorang, hingga urusan domestik yang rutin, tiba-tiba tubuh saya drop. Badan meriang hebat, muntah-muntah, dan perut terasa melilit. Akhirnya, saya membatalkan rencana ke rumah sakit hari ini.

Di tengah kondisi itu, saya sempat melakukan perenungan singkat. Lalu saya menulis ini. Barangkali tulisan ini kelak menjadi semacam pertiggal ingatan bagi siapa saja yang pernah berhubungan dengan saya.

Saya menulisnya dengan perasaan tenang, mengalir begitu saja. Semoga berkenan membacanya.

Bagi banyak orang, kematian mungkin merupakan sesuatu yang menakutkan. Ada begitu banyak hal yang ditakutkan.

Orang-orang yang beriman, beragama, dan berusaha berperilaku benar serta bersih, meskipun meyakini janji tentang kehidupan setelah kematian dan surga, tetap saja tidak sepenuhnya yakin akan serta-merta masuk ke dalamnya setelah meninggal dunia. Ada keyakinan, ada pula keraguan.

Ada pula pemahaman bahwa dosa dan kesalahan dapat diperbarui atau ditebus melalui yadnya, upakara, serta berbagai ritus agama yang berbalut adat dan tradisi.

Di sisi lain, terdapat ancaman siksa neraka yang tidak kalah menakutkan, sebagaimana digambarkan dalam beragam kisah dan tafsir keagamaan. Banyak orang merasa amalnya belum cukup, hidupnya belum cukup bersih untuk mendapatkan tempat di surga.

Karena itu, mereka berbondong-bondong mendatangi tempat-tempat suci, bersujud dan berbakti. Namun, dalam keseharian, perilakunya terkadang sama sekali tidak mencerminkan apa yang diyakininya. Agama dan spiritualitas akhirnya hanya menjadi tampilan semu, sekadar lapisan luar yang terlihat suci.

Di sisi lain, ada pula ketakutan-ketakutan yang sepenuhnya realistis.

Ada yang takut terhadap rasa sakit dalam proses kematian. Ada yang merasa hidupnya belum selesai. Masih ada tanggung jawab yang harus dipenuhi: bekerja, menafkahi anak-anak, menyelesaikan urusan, atau mengejar kebahagiaan sesuai dengan imajinasinya.

Ada pula orang yang begitu mencintai kehidupan sehingga tidak ingin meninggalkannya, bahkan secuil pun.

Tetapi apa pun alasannya, kematian adalah kepastian.

Siap atau tidak siap, kita tetap akan mati. Suka atau tidak suka, kematian tetap akan datang.

Saya menyadari sepenuhnya hal itu.

Sejak memasuki usia muda setelah lulus kuliah, ketika cukup lama menjalani hidup sebagai bujang, hingga kemudian memasuki usia 48 tahun dan mulai didera sakit, saya sudah cukup sering memikirkan kematian. Bahkan kini, ketika usia saya hampir genap 50 tahun, kesadaran tentang singkatnya hidup terasa semakin nyata.

Mencapai usia hampir setengah abad ternyata terasa begitu sebentar.

Berbagai pengalaman masa kecil masih terasa begitu segar dalam ingatan. Masa sekolah dengan segala kenakalan remaja. Masa muda ketika menjadi mahasiswa dengan segala keunikannya. Kekonyolan menjadi seorang bujang di tengah gencetan pekerjaan dan kejar-kejaran mencari jodoh dan pasangan hidup.

Eh, tahu-tahu usia sudah 49 tahun 11 bulan.

Saya berpikir, kalau pun setelah usia ini saya masih diberi kesempatan hidup 30 atau 40 tahun lagi, menjalani kebersamaan bersama istri tercinta, berusaha membahagiakannya, semuanya mungkin akan berlalu begitu cepat.

Mau tidak mau, saya, dan sesungguhnya kita semua, memang seharusnya mempersiapkan mental untuk menghadapi kematian.

Sebab kematian pasti datang menghampiri kita. Ia tidak perlu permisi. Tidak perlu menunggu kita selesai dengan segala urusan. Tidak perlu menunggu kita merasa siap.

Demikianlah kehendak takdir yang akan datang dengan segala cara yang telah digariskan.

Anehnya, menyadari semua itu tidak membuat saya takut.

Saya justru lebih cenderung merasa penasaran dan berharap.

Rasanya seperti menunggu sebuah perjalanan yang menyenangkan.

Saya cukup sering bepergian. Biasanya saya merencanakan perjalanan, mempersiapkannya, lalu menunggu-nunggu hari keberangkatan tiba. Ada semacam kegembiraan ketika membayangkan tempat yang belum pernah didatangi.

Kurang lebih seperti itulah perasaan saya ketika memikirkan dan menunggu kematian.

Saya kini meyakini bahwa hidup hanyalah produk metabolisme tubuh. Dari proses metabolisme itu lahirlah kesadaran. Kesadaran itulah yang memberikan perasaan tentang “hidup”, sekaligus membentuk definisi tentang “saya” dan memungkinkan saya merekam berbagai pengalaman.

Mati, bagi saya, adalah berhentinya metabolisme, kemudian berhentinya fungsi otak. Kesadaran pun lenyap.

Saya beberapa kali mengalami pembiusan dalam proses penanganan kesehatan. Yang saya alami adalah tidur, tetapi berbeda dengan tidur biasa. Ada kekosongan dalam memori selama masa pembiusan itu. Tidak ada ingatan tentang apa pun.

Saya membayangkan kematian mungkin akan seperti itu.

Kekosongan. Kesunyian.

Proses merasa, berpikir, mengingat, membayangkan, dan berimajinasi tiba-tiba terputus. Lalu tidak pernah dimulai kembali.

Ada sebersit kegelisahan ketika membayangkannya. Sebuah misteri yang menarik, terkadang tampak suram, tetapi sekaligus membuat saya tersenyum ketika mengingat berbagai pengalaman yang telah lewat.

Dan kapan semua itu akan terjadi?

Justru pertanyaan itulah yang terasa misterius sekaligus menggairahkan.

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang ditinggalkan?

Mungkin itu bukan lagi urusan saya.

Dunia tidak pernah benar-benar bergantung pada saya. Bahkan keluarga saya—orang tua, saudara kandung, dan kini istri beserta anak-anak—pada hakikatnya memiliki kehidupan mereka masing-masing.

Saya pernah mengalami kehilangan orang-orang yang lebih tua di rumah: kakek, nenek, paman, bibi, dan kerabat lainnya dalam lingkup keluarga besar.

Dan memang benar.

Pada akhirnya, saya yang masih hidup hanya menyadari bahwa mereka telah pergi. Kehidupan terus berjalan. Tidak ada yang benar-benar berhenti hanya karena mereka meninggalkan dunia.

Saya belajar membiasakan diri dengan satu kesadaran sederhana: siapa pun orang terdekat saya akan mati juga.

Demikian pula saya.

Akan mati juga.

Dan semuanya akan baik-baik saja.

Dunia akan tetap berjalan tanpa saya, sebagaimana dunia tetap berjalan tanpa orang-orang yang telah lebih dahulu pergi meninggalkan saya.

Hidup mungkin bisa diberi berbagai macam makna. Kita bisa memberi makna pada cinta, keluarga, pekerjaan, perjuangan, pencapaian, kegagalan, bahkan penderitaan.

Tetapi bagi saya, semua makna itu pada akhirnya berhenti ketika saya mati.

Ya sudah.

Mati saja.

Tidak perlu terlalu khawatir tentang apa yang saya tinggalkan. Sebab, secara sederhana, setelah saya mati, semua itu bukan lagi urusan saya.

Hampir setiap pagi saya terbangun dengan sebuah pertanyaan:

Kapan aku mati?

Kapankah diriku akan berangkat menuju perjalanan misterius itu?

Saya tidak tahu.

Dan mungkin justru karena tidak tahu itulah hidup menjadi menarik.

Sebab selama hari itu belum tiba, saya masih berada di sini.

Masih bernapas.

Masih merasa.

Masih mengingat.

Masih mencintai.

Dan masih menjalani perjalanan yang suatu hari nanti pasti berakhir.

Entah kapan.

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gelombang Kritik atas Perubahan Status Febrie dari Tersangka ke Saksi

    Gelombang Kritik atas Perubahan Status Febrie dari Tersangka ke Saksi

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    Pakar Hukum, Mantan Pimpinan KPK, hingga Aktivis Antikorupsi Soroti Kepastian Hukum dan Independensi Penanganan Perkara JAKARTA – Perubahan status hukum mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, dari tersangka menjadi saksi dalam penanganan dugaan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) menuai sorotan luas dari kalangan pakar hukum, mantan pimpinan […]

  • Harga Kos di Bali Kian Melambung, Pekerja Mengeluh, Cari Tempat Tinggal Kini Lebih Sulit daripada Cari Kerja

    Harga Kos di Bali Kian Melambung, Pekerja Mengeluh, Cari Tempat Tinggal Kini Lebih Sulit daripada Cari Kerja

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    DENPASAR – Meningkatnya harga sewa kamar kos di Bali mulai menjadi persoalan serius bagi para pekerja, baik pendatang maupun warga yang mencari penghidupan di Pulau Dewata. Di sejumlah kawasan strategis, biaya sewa yang terus merangkak naik membuat banyak orang terpaksa menunda hidup mandiri, berbagi kamar, hingga tinggal jauh dari lokasi kerja demi menekan pengeluaran. Ardiansyah […]

  • Ironi Jeruk RI! Produksi Melimpah, Impor Tembus 208 Ribu Ton

    Ironi Jeruk RI! Produksi Melimpah, Impor Tembus 208 Ribu Ton

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    Produksi Jeruk Indonesia Naik, tetapi Impor Masih Mendominasi dan Ekspor Tertinggal Jauh DENPASAR – Indonesia kembali mencatatkan peningkatan produksi jeruk pada 2025. Namun di balik capaian tersebut, neraca perdagangan komoditas hortikultura ini masih menyisakan ironi. Meski menjadi salah satu produsen jeruk terbesar di Asia Tenggara, Indonesia justru masih sangat bergantung pada pasokan jeruk dari luar […]

  • Kuasa Hukum WNA Australia Bantah Mangkir, Ungkap Kronologi Sengketa Transaksi Villa Rp2,5 Miliar

    Kuasa Hukum WNA Australia Bantah Mangkir, Ungkap Kronologi Sengketa Transaksi Villa Rp2,5 Miliar

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Ray
    • 3Komentar

    DENPASAR — Kuasa hukum warga negara Australia berinisial DBB, Evy Susantie, S.H., M.H., CM, membantah pemberitaan yang menyebut kliennya dua kali mangkir dari panggilan penyidik Polda Bali terkait laporan dugaan penipuan dan penggelapan senilai sekitar Rp2,5 miliar. Bantahan itu disampaikan Evy setelah mendampingi DBB menjalani pemeriksaan di Polda Bali, Selasa (1/9/2026). Pemeriksaan berlangsung sekitar enam […]

  • Habib Ja’far dan Pendeta Kristen Baca Pesan Ilahi di Lagu Idgitaf Play Button

    Habib Ja’far dan Pendeta Kristen Baca Pesan Ilahi di Lagu Idgitaf

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Ray
    • 8Komentar

    DENPASAR – Single terbaru Brigita Meliala alias Idgitaf berjudul Sedia Aku Sebelum Hujan tak hanya mencuri perhatian penikmat musik, tetapi juga memantik perenungan spiritual lintas agama. Lagu yang dirilis pada 8 Oktober 2025 itu dinilai menyimpan pesan ketuhanan yang kuat, baik dari sudut pandang Islam maupun Kristen. Pendakwah muda Nahdlatul Ulama, Habib Husein bin Ja’far […]

  • Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah

    Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan signifikan. Pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026), rupiah tercatat melemah hingga menyentuh level Rp17.019 per dolar AS. Posisi tersebut terkoreksi sekitar 0,56 persen dibandingkan penutupan perdagangan pada Jumat pekan lalu yang berada di level Rp16.925 per dolar AS. Pelemahan ini sekaligus menjadi catatan baru […]

expand_less