Breaking News
light_mode

Menanti Hari Terakhir, Memaknai Kematian yang Sungguh Misterius

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

I Nyoman Sukataya (Man Tayax)

DENPASAR – Pagi menjelang siang ini, di tengah berbagai hal yang harus saya selesaikan, persiapan ke rumah sakit, pekerjaan di beberapa tempat, permintaan tolong dari seseorang, hingga urusan domestik yang rutin, tiba-tiba tubuh saya drop. Badan meriang hebat, muntah-muntah, dan perut terasa melilit. Akhirnya, saya membatalkan rencana ke rumah sakit hari ini.

Di tengah kondisi itu, saya sempat melakukan perenungan singkat. Lalu saya menulis ini. Barangkali tulisan ini kelak menjadi semacam pertiggal ingatan bagi siapa saja yang pernah berhubungan dengan saya.

Saya menulisnya dengan perasaan tenang, mengalir begitu saja. Semoga berkenan membacanya.

Bagi banyak orang, kematian mungkin merupakan sesuatu yang menakutkan. Ada begitu banyak hal yang ditakutkan.

Orang-orang yang beriman, beragama, dan berusaha berperilaku benar serta bersih, meskipun meyakini janji tentang kehidupan setelah kematian dan surga, tetap saja tidak sepenuhnya yakin akan serta-merta masuk ke dalamnya setelah meninggal dunia. Ada keyakinan, ada pula keraguan.

Ada pula pemahaman bahwa dosa dan kesalahan dapat diperbarui atau ditebus melalui yadnya, upakara, serta berbagai ritus agama yang berbalut adat dan tradisi.

Di sisi lain, terdapat ancaman siksa neraka yang tidak kalah menakutkan, sebagaimana digambarkan dalam beragam kisah dan tafsir keagamaan. Banyak orang merasa amalnya belum cukup, hidupnya belum cukup bersih untuk mendapatkan tempat di surga.

Karena itu, mereka berbondong-bondong mendatangi tempat-tempat suci, bersujud dan berbakti. Namun, dalam keseharian, perilakunya terkadang sama sekali tidak mencerminkan apa yang diyakininya. Agama dan spiritualitas akhirnya hanya menjadi tampilan semu, sekadar lapisan luar yang terlihat suci.

Di sisi lain, ada pula ketakutan-ketakutan yang sepenuhnya realistis.

Ada yang takut terhadap rasa sakit dalam proses kematian. Ada yang merasa hidupnya belum selesai. Masih ada tanggung jawab yang harus dipenuhi: bekerja, menafkahi anak-anak, menyelesaikan urusan, atau mengejar kebahagiaan sesuai dengan imajinasinya.

Ada pula orang yang begitu mencintai kehidupan sehingga tidak ingin meninggalkannya, bahkan secuil pun.

Tetapi apa pun alasannya, kematian adalah kepastian.

Siap atau tidak siap, kita tetap akan mati. Suka atau tidak suka, kematian tetap akan datang.

Saya menyadari sepenuhnya hal itu.

Sejak memasuki usia muda setelah lulus kuliah, ketika cukup lama menjalani hidup sebagai bujang, hingga kemudian memasuki usia 48 tahun dan mulai didera sakit, saya sudah cukup sering memikirkan kematian. Bahkan kini, ketika usia saya hampir genap 50 tahun, kesadaran tentang singkatnya hidup terasa semakin nyata.

Mencapai usia hampir setengah abad ternyata terasa begitu sebentar.

Berbagai pengalaman masa kecil masih terasa begitu segar dalam ingatan. Masa sekolah dengan segala kenakalan remaja. Masa muda ketika menjadi mahasiswa dengan segala keunikannya. Kekonyolan menjadi seorang bujang di tengah gencetan pekerjaan dan kejar-kejaran mencari jodoh dan pasangan hidup.

Eh, tahu-tahu usia sudah 49 tahun 11 bulan.

Saya berpikir, kalau pun setelah usia ini saya masih diberi kesempatan hidup 30 atau 40 tahun lagi, menjalani kebersamaan bersama istri tercinta, berusaha membahagiakannya, semuanya mungkin akan berlalu begitu cepat.

Mau tidak mau, saya, dan sesungguhnya kita semua, memang seharusnya mempersiapkan mental untuk menghadapi kematian.

Sebab kematian pasti datang menghampiri kita. Ia tidak perlu permisi. Tidak perlu menunggu kita selesai dengan segala urusan. Tidak perlu menunggu kita merasa siap.

Demikianlah kehendak takdir yang akan datang dengan segala cara yang telah digariskan.

Anehnya, menyadari semua itu tidak membuat saya takut.

Saya justru lebih cenderung merasa penasaran dan berharap.

Rasanya seperti menunggu sebuah perjalanan yang menyenangkan.

Saya cukup sering bepergian. Biasanya saya merencanakan perjalanan, mempersiapkannya, lalu menunggu-nunggu hari keberangkatan tiba. Ada semacam kegembiraan ketika membayangkan tempat yang belum pernah didatangi.

Kurang lebih seperti itulah perasaan saya ketika memikirkan dan menunggu kematian.

Saya kini meyakini bahwa hidup hanyalah produk metabolisme tubuh. Dari proses metabolisme itu lahirlah kesadaran. Kesadaran itulah yang memberikan perasaan tentang “hidup”, sekaligus membentuk definisi tentang “saya” dan memungkinkan saya merekam berbagai pengalaman.

Mati, bagi saya, adalah berhentinya metabolisme, kemudian berhentinya fungsi otak. Kesadaran pun lenyap.

Saya beberapa kali mengalami pembiusan dalam proses penanganan kesehatan. Yang saya alami adalah tidur, tetapi berbeda dengan tidur biasa. Ada kekosongan dalam memori selama masa pembiusan itu. Tidak ada ingatan tentang apa pun.

Saya membayangkan kematian mungkin akan seperti itu.

Kekosongan. Kesunyian.

Proses merasa, berpikir, mengingat, membayangkan, dan berimajinasi tiba-tiba terputus. Lalu tidak pernah dimulai kembali.

Ada sebersit kegelisahan ketika membayangkannya. Sebuah misteri yang menarik, terkadang tampak suram, tetapi sekaligus membuat saya tersenyum ketika mengingat berbagai pengalaman yang telah lewat.

Dan kapan semua itu akan terjadi?

Justru pertanyaan itulah yang terasa misterius sekaligus menggairahkan.

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang ditinggalkan?

Mungkin itu bukan lagi urusan saya.

Dunia tidak pernah benar-benar bergantung pada saya. Bahkan keluarga saya—orang tua, saudara kandung, dan kini istri beserta anak-anak—pada hakikatnya memiliki kehidupan mereka masing-masing.

Saya pernah mengalami kehilangan orang-orang yang lebih tua di rumah: kakek, nenek, paman, bibi, dan kerabat lainnya dalam lingkup keluarga besar.

Dan memang benar.

Pada akhirnya, saya yang masih hidup hanya menyadari bahwa mereka telah pergi. Kehidupan terus berjalan. Tidak ada yang benar-benar berhenti hanya karena mereka meninggalkan dunia.

Saya belajar membiasakan diri dengan satu kesadaran sederhana: siapa pun orang terdekat saya akan mati juga.

Demikian pula saya.

Akan mati juga.

Dan semuanya akan baik-baik saja.

Dunia akan tetap berjalan tanpa saya, sebagaimana dunia tetap berjalan tanpa orang-orang yang telah lebih dahulu pergi meninggalkan saya.

Hidup mungkin bisa diberi berbagai macam makna. Kita bisa memberi makna pada cinta, keluarga, pekerjaan, perjuangan, pencapaian, kegagalan, bahkan penderitaan.

Tetapi bagi saya, semua makna itu pada akhirnya berhenti ketika saya mati.

Ya sudah.

Mati saja.

Tidak perlu terlalu khawatir tentang apa yang saya tinggalkan. Sebab, secara sederhana, setelah saya mati, semua itu bukan lagi urusan saya.

Hampir setiap pagi saya terbangun dengan sebuah pertanyaan:

Kapan aku mati?

Kapankah diriku akan berangkat menuju perjalanan misterius itu?

Saya tidak tahu.

Dan mungkin justru karena tidak tahu itulah hidup menjadi menarik.

Sebab selama hari itu belum tiba, saya masih berada di sini.

Masih bernapas.

Masih merasa.

Masih mengingat.

Masih mencintai.

Dan masih menjalani perjalanan yang suatu hari nanti pasti berakhir.

Entah kapan.

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (4)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pansus Trap Temui BTID! Bendesa Serangan Malah Tuding Pansus Trap Tak Gubris Pengkavlingan kawasan LNG

    Pansus Trap Temui BTID! Bendesa Serangan Malah Tuding Pansus Trap Tak Gubris Pengkavlingan kawasan LNG

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Ray
    • 6Komentar

    DENPASAR – Tim Panitia Khusus (Pansus) Penegakan Peraturan Daerah Terkait Tata Ruang, Aset Daerah, dan Perizinan (TRAP) DPRD Provinsi Bali bertandang ke PT Bali Turtle Island Development (BTID) untuk menanyakan laporan masyarakat dan ramainya media tentang pernyataan sebanyak 82 hektar hutan mangrove Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai diduga telah beralih penguasaan ke PT Bali […]

  • Guru dan Pegawai Bali Public School Dibekali Penanganan Tersedak dan Edukasi Kemasan Ramah Lingkungan

    Guru dan Pegawai Bali Public School Dibekali Penanganan Tersedak dan Edukasi Kemasan Ramah Lingkungan

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Ray
    • 27Komentar

    BALI – Kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi darurat kesehatan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan menjadi fokus utama kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di Bali Public School. Kegiatan ini menyasar guru dan pegawai sekolah sebagai garda terdepan dalam menjaga keselamatan lingkungan pendidikan serta mendukung perilaku ramah lingkungan. Sebanyak 12 guru dan pegawai Bali Public School mengikuti […]

  • Meme Viral Kritik Syarat Wapres Lebih Rendah dari Pekerja Umum

    Meme Viral Kritik Syarat Wapres Lebih Rendah dari Pekerja Umum

    • calendar_month Selasa, 22 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    “GWS Negeri Ku” Jadi Simbol Kekecewaan Anak Muda JAKARTA – Sebuah meme yang menampilkan kritik tajam terhadap standar pendidikan dalam dunia kerja dan politik Indonesia mendadak viral di media sosial. Meme tersebut menyoroti ironi antara syarat pendidikan untuk melamar pekerjaan umum yang mewajibkan minimal pendidikan Sarjana (S1), sementara syarat untuk mendaftar sebagai Wakil Presiden Republik […]

  • Ternyata! Stand Workshop Island Bazzar Kura Kura Bali Ada Kerajinan Ubah Sampah Plastik Jadi Barang Serbaguna

    Ternyata! Stand Workshop Island Bazzar Kura Kura Bali Ada Kerajinan Ubah Sampah Plastik Jadi Barang Serbaguna

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 5Komentar

    DENPASAR – Kepedulian BTID terlihat berkat kreativitas warga Serangan yang mengubah sampah plastik menjadi barang kerajinan yang berguna fungsi. Ini terlihat dalam Island Bazzar yang diadakan di kawasan Kura Kura Bali SEZ edisi kedua. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 2 sampai 3 Mei 2026, sebuah perayaan yang memadukan budaya, kreativitas, dan gaya hidup dalam satu […]

  • Bali Percepat Proyek PSEL, Sampah Diolah Jadi Energi Listrik Mulai 2026

    Bali Percepat Proyek PSEL, Sampah Diolah Jadi Energi Listrik Mulai 2026

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Budi Susilawarsa
    • 2Komentar

    DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali bersama pemerintah pusat mematangkan percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi jangka panjang mengatasi persoalan sampah di Pulau Dewata. Gubernur Bali, Wayan Koster, menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk mendukung penuh realisasi proyek tersebut. Menurutnya, koordinasi antara pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Bali sudah berjalan solid. […]

  • Ada Udang di Balik Marina, Penyegelan BTID Picu Polemik, Antara Penegakan Lingkungan dan Kepastian Investasi di Bali

    Ada Udang di Balik Marina, Penyegelan BTID Picu Polemik, Antara Penegakan Lingkungan dan Kepastian Investasi di Bali

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    TABANAN — Langkah penyegelan yang dilakukan DPRD terhadap PT BTID memicu perdebatan tajam di ruang publik. Tindakan tersebut disebut-sebut berkaitan dengan dugaan pembabatan kawasan mangrove, namun di sisi lain dinilai sejumlah pihak sebagai eksekusi sepihak yang berpotensi melanggar prosedur hukum dan menciptakan ketidakpastian investasi. Pemerhati kebijakan publik sekaligus tokoh masyarakat, Agung Wirapramana, menegaskan bahwa polemik […]

expand_less