INSTIKI dan HOCA Gelar Program Inovasi Seni Nusantara 2026 dan Pameran UTOPIA X DISTOPIA: UnBALIveable
- account_circle Admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Prosesi pemotongan pita menandai pembukaan resmi pameran seni visual 'UTOPIA X DISTOPIA: UnBALIveable', puncak acara Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 kolaborasi INSTIKI dan HOCA, di Park 23 Creative Hub, Tuban, Bali, pada tanggal 7 Agustus 2026. (Foto: Dok. INSTIKI/HOCA)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PISN 2026 menghadirkan UTOPIA X DISTOPIA: UnBALIveable di Park 23 Creative Hub Bali, dengan edukasi HaKI dan sertifikasi digital blockchain untuk mendokumentasikan karya.
DENPASAR – Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) bersama House of Creative Artist (HOCA) menyelenggarakan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia.
Program tersebut mempertemukan seni, pendidikan, teknologi, komunitas kreatif, serta edukasi mengenai pentingnya perlindungan karya melalui Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).
Puncak kegiatan diwujudkan melalui pameran seni visual bertajuk “UTOPIA X DISTOPIA: UnBALIveable” yang mulai berlangsung pada 7 Agustus 2026 di Park 23 Creative Hub, Tuban, Bali.

Pameran diselenggarakan INSTIKI dan HOCA dengan dukungan teknologi dari KRAFLAB yang dikembangkan oleh BALIOLA.
Edukasi Seni, Teknologi dan Perlindungan Karya
PISN 2026 dirancang sebagai program yang menggabungkan edukasi, pengembangan komunitas seni, pemanfaatan teknologi, serta penguatan pemahaman mengenai HaKI.
Rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi pentingnya perlindungan karya cipta kepada siswa SMK dan mahasiswa, workshop penggunaan KRAFLAB, hingga pameran seni visual UTOPIA 2026.
Melalui KRAFLAB, peserta mendapatkan pengalaman membuat identitas kreator digital, mengunggah karya, mengikuti proses kurasi, hingga memperoleh sertifikat digital berbasis blockchain.
Dalam pelaksanaannya, teknologi tersebut digunakan sebagai sarana pencatatan dan dokumentasi digital terhadap karya yang dihasilkan kreator.
“PISN 2026 tidak hanya berbicara tentang menghasilkan karya seni, tetapi juga bagaimana karya tersebut dapat didokumentasikan dan dilindungi,” demikian narasi program PISN 2026.
AI Menjadi Tantangan, Bukan Alat Membuat Karya
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu konteks yang melatarbelakangi pentingnya kesadaran terhadap perlindungan karya kreatif.

Namun, perlu ditegaskan bahwa karya-karya yang ditampilkan dalam PISN 2026 tidak dibuat menggunakan AI dan kegiatan ini tidak menjadikan AI sebagai alat dalam proses penciptaan karya.
AI ditempatkan sebagai bagian dari tantangan perkembangan teknologi digital, terutama karena teknologi tersebut dapat memunculkan persoalan terkait duplikasi, orisinalitas, kepemilikan dan perlindungan karya.
Dalam konteks tersebut, pencatatan karya melalui sertifikat digital berbasis blockchain KRAFLAB menjadi salah satu upaya untuk membantu kreator mendokumentasikan karya mereka.
Karena itu, hubungan PISN 2026 dengan AI lebih diarahkan pada upaya menghadapi tantangan di era perkembangan AI, bukan pada penggunaan AI untuk menciptakan karya yang dipamerkan.
Libatkan Mahasiswa, Siswa dan Perupa
Pameran UTOPIA 2026 memperluas keterlibatan peserta dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Peserta berasal dari mahasiswa Desain Komunikasi Visual dan UKM GRADASI INSTIKI, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, siswa SMK Negeri 1 Denpasar, siswa SMK Duta Bangsa Denpasar, anggota HOCA, serta perupa senior.
Pameran tersebut menjadi ruang pertemuan lintas generasi, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas hingga perupa profesional.

Kegiatan ini dikuratori oleh Dr. I Made Marthana Yusa, M.Ds. dan Yere Agusto.
UTOPIA 2026 juga merupakan pengembangan dari penyelenggaraan UTOPIA sebelumnya.
Jika UTOPIA 2025 lebih banyak melibatkan perupa senior HOCA, penyelenggaraan tahun ini memperluas ruang partisipasi dengan melibatkan generasi muda dan perupa profesional.
HOCA Perkenalkan Identitas Baru
PISN 2026 sekaligus menjadi momentum bagi HOCA untuk memperkenalkan identitas barunya.
Sebelumnya, HOCA merupakan singkatan dari House of Cartoon Mania. Kini, HOCA menggunakan nama House of Creative Artist.
Perubahan tersebut menandai perluasan cakupan komunitas yang sebelumnya lebih dikenal melalui seni kartun dan ilustrasi, menjadi ruang yang mencakup seni rupa, desain komunikasi visual, seni digital, serta berbagai bentuk kreativitas lainnya.
UTOPIA X DISTOPIA Bicara Manusia dan Teknologi
Melalui tema “UTOPIA X DISTOPIA: UnBALIveable”, pameran mengajak publik melihat kembali hubungan antara manusia, teknologi dan kehidupan di Bali.

Konsep Utopia merepresentasikan kondisi ideal, sementara Distopia menggambarkan kondisi yang penuh persoalan sebagai konsekuensi dari perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.
Dalam kerangka tersebut, perkembangan AI menjadi salah satu isu yang mendorong perlunya kesadaran baru mengenai orisinalitas, kepemilikan dan perlindungan karya.
Tema tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana generasi kreatif dapat mempertahankan nilai dan identitas karya di tengah perkembangan teknologi digital.
Dari Edukasi HaKI hingga Sertifikasi Blockchain
Pelaksanaan PISN 2026 dilakukan melalui sejumlah tahapan.
Peserta terlebih dahulu mendapatkan edukasi mengenai HaKI dan pentingnya melindungi karya. Selanjutnya, peserta mengikuti workshop KRAFLAB untuk mempelajari proses pencatatan dan sertifikasi digital berbasis blockchain.
Karya yang telah dibuat kemudian mengikuti proses seleksi dan kurasi sebelum ditampilkan dalam pameran.
Dalam program ini, blockchain digunakan untuk membantu menyediakan catatan digital terkait karya dan proses dokumentasinya.
PISN 2026 menargetkan penerbitan sedikitnya 50 sertifikat digital berbasis blockchain bagi karya-karya yang telah melalui proses kurasi.
Bangun Ekosistem Seni dan Teknologi
Kolaborasi INSTIKI, HOCA, BALIOLA melalui KRAFLAB dan Kemendiktisaintek diarahkan untuk membangun ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas seni, generasi muda, industri kreatif dan teknologi.
Program ini tidak hanya menempatkan pameran sebagai tujuan akhir, tetapi juga mendorong peningkatan pemahaman kreator mengenai nilai karya dan pentingnya dokumentasi serta perlindungan hak cipta.
“Program ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem seni dan ekonomi kreatif sekaligus membuka ruang dialog mengenai masa depan manusia, seni, budaya, dan teknologi,” demikian narasi penyelenggara.
Melalui PISN 2026 dan UTOPIA X DISTOPIA: UnBALIveable, seni ditempatkan sebagai ruang dialog terhadap perubahan zaman.
Sementara teknologi blockchain diperkenalkan sebagai salah satu sarana dokumentasi dan pencatatan karya, di tengah tantangan baru yang muncul dari perkembangan teknologi digital, termasuk maraknya duplikasi karya menggunakan AI.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar