Breaking News
light_mode

Ilustrasi Monster Penjilat Kaki dari Manuskrip Persia 1921 Ternyata Asli, Bukan Buatan AI

  • account_circle Admin
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Manuskrip langka dari Isfahan yang kini berada di Princeton University Library memuat 56 ilustrasi makhluk gaib, termasuk sosok yang digambarkan menjilati telapak kaki orang sedang tidur.

DENPASAR – Sebuah ilustrasi yang memperlihatkan makhluk aneh menjilati telapak kaki manusia yang sedang tertidur kembali menarik perhatian di internet. Bentuknya yang tidak lazim bahkan membuat sebagian orang menduga gambar tersebut merupakan hasil kecerdasan buatan atau editan digital.

Namun, gambar itu bukan karya AI. Ilustrasi tersebut merupakan bagian dari sebuah manuskrip Persia yang tersimpan dalam koleksi Princeton University Library, Amerika Serikat.

Dalam katalog resminya, Princeton mencatat manuskrip tersebut dengan judul Kitāb-i ʻAjāʾib-i makhlūqāt atau Kitāb-i ‘Ajā’ib-i makhlūqāt. Manuskrip berbahasa Persia itu tercatat berasal dari Isfahan dan bertanggal 1921. Koleksi tersebut memiliki 147 lembar dan memuat 56 ilustrasi cat air.

Princeton University Library menjelaskan bahwa manuskrip tersebut merupakan naskah bergambar yang membahas antara lain astrologi, sihir, mantra, jimat, serta makhluk-makhluk yang berkaitan dengan kepercayaan supernatural pada masa itu.

“Illustrated Persian manuscript on magic and astrology, including a book of spells describing incantation and talismans, and 56 painted illustrations,” demikian keterangan resmi katalog Princeton University Library mengenai manuskrip tersebut.

Catatan katalog juga memberikan rincian menarik mengenai sejarah naskah. Menurut Princeton, sebuah catatan pada lembar awal menyebut manuskrip itu disalin di Isfahan pada Syaban 1324 Hijriah atau sekitar September–Oktober 1906. Sementara pada bagian akhir beberapa teks yang menyertai ilustrasi terdapat penanggalan hingga 1339 Hijriah atau 1921.

Karena itu, penyebutan “manuskrip 1921” merujuk pada penanggalan yang tercatat dalam katalog, sementara proses penyalinan teks dan penyusunan bagian-bagiannya berlangsung dalam rentang waktu yang lebih panjang.

Ilustrasi monster penjilat kaki tersebut juga mendapat perhatian The Public Domain Review, yang menampilkan koleksi gambar dari manuskrip tersebut dalam artikel berjudul Persian Demons from a Book of Magic and Astrology (1921).

Menurut The Public Domain Review, manuskrip itu berisi 56 lukisan yang menggambarkan berbagai sosok, termasuk makhluk yang berhubungan dengan tanda-tanda zodiak, malaikat, serta figur demonologis. Salah satu gambar memperlihatkan makhluk menyerupai hewan reptil yang mendatangi orang yang sedang tidur dan menjilati kakinya.

“One recurring theme is demons visiting sleepers in their beds,” tulis The Public Domain Review ketika membahas ilustrasi tersebut.

Di sinilah kisah tentang Palis menjadi menarik. Dalam sejumlah sumber mengenai folklor Persia, Palis atau Pa-lis digambarkan sebagai makhluk vampirik yang menyerang manusia ketika tertidur. Ciri yang membuatnya berbeda dari gambaran vampir Eropa adalah cara menyerangnya: bukan menggigit leher, melainkan menjilati telapak kaki korbannya hingga darahnya terkuras.

Salah satu rujukan mengenai folklor tersebut adalah catatan Edward Granville Browne dalam A Year Amongst the Persians yang terbit pada 1893. Kisah Palis juga dicatat dalam sejumlah karya mengenai kepercayaan dan mitologi Persia.

Dalam cerita rakyat yang berkembang, Palis dikaitkan dengan wilayah gurun dan para pelancong yang tertidur. Cerita tersebut menggambarkan sosok ini sebagai makhluk yang memanfaatkan orang yang sedang tertidur dan tidak menyadari kedatangannya.

Namun, ada hal yang perlu dibedakan antara ilustrasi manuskrip dan identitas makhluk dalam folklor.

Princeton memang secara resmi mengonfirmasi keberadaan manuskrip dan ilustrasinya. Sementara itu, penyebutan figur dalam gambar tersebut sebagai Palis berasal dari tradisi folklor dan sumber-sumber sekunder, bukan pernyataan katalog Princeton yang secara eksplisit memberi label gambar tersebut sebagai “Palis”.

Hal itu penting karena The Public Domain Review sendiri menggambarkan adegan tersebut sebagai salah satu ilustrasi demon yang melakukan aktivitas mengganggu orang tidur, tetapi tidak menyatakan dalam keterangannya bahwa gambar tersebut secara pasti bernama Palis.

Dengan demikian, fakta yang dapat diverifikasi adalah manuskrip, tanggal katalog, asal Isfahan, keberadaan 56 ilustrasi, serta gambar makhluk yang menjilati kaki orang tidur. Adapun menghubungkan gambar tersebut secara spesifik dengan Palis merupakan interpretasi berdasarkan kesamaan dengan folklor Persia tentang makhluk penjilat kaki.

Keberadaan Palis sendiri tidak dapat dipahami sebagai bukti bahwa makhluk tersebut benar-benar pernah hidup atau menyerang manusia. Palis merupakan bagian dari cerita rakyat dan tradisi demonologi yang diwariskan melalui berbagai sumber.

Dalam konteks sejarah budaya, ilustrasi tersebut justru memperlihatkan bagaimana masyarakat pada masa lalu menggambarkan rasa takut terhadap penyakit, gangguan tidur, bahaya perjalanan malam, dan berbagai fenomena yang belum dapat mereka jelaskan dengan pengetahuan modern.

Karena itu, viralnya gambar monster penjilat kaki tersebut menyimpan dua cerita sekaligus: gambar dan manuskripnya benar-benar ada, tetapi monster yang digambarkan merupakan bagian dari dunia folklor dan kepercayaan supernatural, bukan makhluk yang telah terbukti secara ilmiah.

Manuskrip Kitāb-i ʻAjāʾib-i makhlūqāt kini dapat ditelusuri melalui koleksi digital Princeton University Library dan tercatat sebagai bagian dari Manuscripts of the Islamic World. Koleksi tersebut juga berstatus “No Known Copyright” pada katalog digital Princeton.

Editor – Ray

Untuk rujukan pembaca, sumber primer yang paling kuat adalah katalog digital Princeton University Library⁠ dan koleksi The Public Domain Review tentang ilustrasi demon Persia⁠.

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pasikian atau Penguasaan? Putu Artha Sebut MDA Bajak Otonomi Desa Adat

    Pasikian atau Penguasaan? Putu Artha Sebut MDA Bajak Otonomi Desa Adat

    • calendar_month Kamis, 17 Jul 2025
    • account_circle Ray
    • 4Komentar

    DENPASAR – Kritik keras datang dari tokoh Bali sekaligus politikus, I Gusti Putu Artha, S.P., M.Si., terhadap eksistensi dan kewenangan Majelis Desa Adat (MDA) yang belakangan ini menjadi sorotan publik. Dalam pandangannya yang tegas dan tajam, Putu Artha menyebut bahwa AD/ART MDA secara terang-terangan telah melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa […]

  • Setelah Shortcut Titik 11–12 Rampung, Koster Siapkan Bus Listrik Singaraja–Denpasar

    Setelah Shortcut Titik 11–12 Rampung, Koster Siapkan Bus Listrik Singaraja–Denpasar

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 11Komentar

    Buleleng – Gubernur Bali Wayan Koster menyiapkan layanan transportasi darat berupa bus listrik yang akan melayani rute Singaraja–Denpasar dan sebaliknya. Kebijakan ini dirancang untuk meningkatkan mobilitas masyarakat Bali Utara sekaligus mengurangi beban biaya hidup, khususnya bagi warga Singaraja yang bekerja di wilayah Denpasar dan Badung. Rencana tersebut disampaikan Koster saat memberikan sambutan pada acara groundbreaking […]

  • Somya Sentil “Sumpah Pocong” IMS: “Ngae Ngae, Buktikan Saja di Penyidik”

    Somya Sentil “Sumpah Pocong” IMS: “Ngae Ngae, Buktikan Saja di Penyidik”

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Denpasar — Polemik dugaan penggelapan dana Desa Adat Serangan senilai Rp4,5 miliar kian memanas. Pernyataan mantan Bendesa Adat Serangan, IMS, yang menantang digelarnya ritual “sumpah pocong” sebagai bentuk pembuktian, justru menuai respons keras dari kuasa hukum desa adat, I Made Somya Putra, SH, MH. Somya menilai narasi yang dibangun IMS di sejumlah media tidak menyentuh […]

  • Antara Diculik dan Menipu, Publik Curiga Mr. Terimakasih Sedang Bermain Peran

    Antara Diculik dan Menipu, Publik Curiga Mr. Terimakasih Sedang Bermain Peran

    • calendar_month Rabu, 22 Okt 2025
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    DENPASAR – Ramainya ungkapan seorang influenser Sergeii Domogatsky yang dikenal luas di media sosial dengan nama Mr. Terimakasih, yang dikatakan menjadi korban penculikan, pemerasan, dan penyiksaan oleh kelompok bersenjata di Bali. Dalam beberapa media, ia mengungkapkan bahwa dirinya saat mengendarai motor disergap dengan menggunakan mobil Alphard hitam dan ada dua pria berpakaian menyerupai polisi menyeretnya […]

  • DPRD Bali Dalami Legalitas Handara, Manajemen Tegaskan Komitmen Taat Aturan dan Jaga Lingkungan

    DPRD Bali Dalami Legalitas Handara, Manajemen Tegaskan Komitmen Taat Aturan dan Jaga Lingkungan

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Ray
    • 5Komentar

    DENPASAR — Panitia Khusus Tata Ruang, Aset Daerah, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali terus mendalami aspek tata ruang dan perizinan di kawasan Handara Golf & Resort, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Pendalaman dilakukan melalui rapat dengar pendapat (RDP) bersama manajemen PT Sarana Buwana Handara (SBH) di Gedung DPRD Bali, Rabu (4/2/2026), sebagai tindak lanjut […]

  • XMAX Wajib Waspada, Voge SR4 Max Pro Hadir Bawa DNA BMW C 400 G

    XMAX Wajib Waspada, Voge SR4 Max Pro Hadir Bawa DNA BMW C 400 G

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 586Komentar

    Saudara Dekat BMW C 400 GT, Voge SR4 Max Pro Tawarkan Fitur Premium dengan Harga Lebih Terjangkau DENPASAR – Pasar skutik bongsor global kembali diramaikan oleh kehadiran Voge SR4 Max Pro 2026. Model terbaru dari sub-brand milik Loncin Motor Co., Ltd., Tiongkok, ini menarik perhatian karena memiliki hubungan yang sangat erat dengan skuter premium BMW […]

expand_less