Tay Kak Sie Semarang, Jejak 280 Tahun Sejarah Pecinan dan Harmoni Budaya Nusantara
- account_circle Admin
- calendar_month 16 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SEMARANG — Di tengah kawasan Pecinan Semarang, Jawa Tengah, Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok berdiri sebagai salah satu penanda penting perjalanan sejarah masyarakat Tionghoa sekaligus kekayaan budaya Kota Semarang. Berdiri sejak abad ke-18, kelenteng ini hingga kini tetap menjadi ruang ibadah, pelestarian tradisi, sekaligus bagian dari wajah keberagaman kota.

Kelenteng Tay Kak Sie tercatat berdiri sejak 1746. Pemerintah Kota Semarang menyebut bangunan yang berada di Gang Lombok tersebut sebagai salah satu kelenteng tertua dan terbesar di kawasan Pecinan Semarang.
Sejumlah catatan sejarah menyebut bangunan pemujaan tersebut pada awalnya bernama Kwan Im Ting dan didedikasikan untuk Dewi Kwan Im atau Kwan Sie Im Po Sat. Pada 1771, bangunan tersebut dipindahkan ke kawasan yang kini dikenal sebagai Gang Lombok dan kemudian menggunakan nama Tay Kak Sie.

Perjalanan tersebut membuat sejarah Tay Kak Sie tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kawasan Pecinan Semarang. Kehadiran kelenteng menjadi bagian dari dinamika komunitas Tionghoa yang sejak masa lalu memiliki peran dalam aktivitas perdagangan dan kehidupan perkotaan Semarang sebagai kota pelabuhan.
Nama Tay Kak Sie sendiri dikenal memiliki arti “Kuil Kesadaran Agung”. Makna tersebut tercermin dalam karakter kelenteng yang berkembang sebagai tempat ibadah dan ruang pelestarian tradisi masyarakat Tionghoa.
Dari sisi arsitektur, Tay Kak Sie mempertahankan karakter bangunan tradisional Tiongkok dengan dominasi warna merah dan emas serta berbagai ornamen khas. Ukiran, patung, altar, lampion, dan ragam hias yang terdapat di dalam kompleks kelenteng menjadi bagian dari identitas visual sekaligus simbolik bangunan tersebut.

Tay Kak Sie juga berkembang menjadi tempat pemujaan berbagai dewa dalam tradisi yang berkaitan dengan Buddhisme, Taoisme, dan Kong Hu Cu. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut kelenteng ini sebagai bagian dari kehidupan umat Tri Dharma dan menjadi salah satu destinasi wisata religi di Semarang.
Kepala Sekretariat Kelenteng Tay Kak Sie, Andre Wahyudi, sebelumnya menjelaskan bahwa pemindahan kelenteng ke Gang Lombok berkaitan dengan kondisi lokasi sebelumnya yang dianggap tidak lagi mencukupi untuk kegiatan peribadatan.
“Dilihat dari feng shui, dari geografisnya cukup memadai maka dipindahkanlah ke sini,” ujar Andre dalam keterangan yang dikutip Joglo Jateng.
Menurut Andre, nama Tay Kak Sie memiliki makna Kuil Kesadaran Agung dan memiliki akar sejarah dalam tradisi Buddhisme Mahayana.
“Kuil ini jelas ada Tri Ratna Buddha, karena pada dasarnya adalah kuil Buddhis, berarti ada Buddha masa lalu, masa sekarang, dan masa depan,” katanya.
Seiring perjalanan waktu, Tay Kak Sie tidak hanya menjadi ruang ibadah. Berbagai kegiatan keagamaan dan tradisi budaya terus berlangsung di kawasan tersebut, termasuk sejumlah perayaan dan ritual yang menjadi bagian dari kalender budaya masyarakat Tionghoa.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat, menjelang Tahun Baru Imlek, Tay Kak Sie juga menjadi lokasi pelaksanaan tradisi keagamaan tertentu, termasuk upacara Siang Sin Giu Hokri untuk mengantarkan dewa-dewi ke kayangan.
Keberadaan Tay Kak Sie juga memperlihatkan bagaimana kawasan Pecinan Semarang terbentuk melalui perjalanan panjang interaksi sosial, ekonomi, agama, dan budaya. Karena itu, kelenteng tersebut tidak hanya memiliki nilai bagi komunitas Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari lanskap sejarah Kota Semarang.
Kementerian Agama Jawa Tengah dalam publikasinya mengenai peringatan 275 tahun Tay Kak Sie menempatkan keberadaan kelenteng tersebut dalam konteks kehidupan umat Tri Dharma serta penguatan toleransi. Eksistensi Tay Kak Sie dinilai turut memperkaya catatan historis perjalanan Kota Semarang.
Hampir tiga abad setelah pertama kali berdiri, Tay Kak Sie tetap menjadi salah satu titik penting di kawasan Pecinan. Aktivitas ibadah yang berlangsung di dalamnya berjalan berdampingan dengan keberadaan kawasan perdagangan, kuliner, dan aktivitas masyarakat di Gang Lombok.
Kini, Tay Kak Sie bukan sekadar bangunan tua dengan ornamen khas Tiongkok. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah kota dibentuk oleh perjumpaan berbagai kelompok masyarakat, tradisi, dan keyakinan yang tumbuh berdampingan dalam ruang yang sama.
Di tengah perubahan wajah perkotaan Semarang, keberadaan Tay Kak Sie menjadi bagian dari warisan sejarah yang masih hidup. Dari altar dan tradisi keagamaan hingga arsitektur yang dipertahankan, kelenteng ini merekam perjalanan panjang komunitas Tionghoa sekaligus memperlihatkan warna keberagaman yang menjadi bagian dari identitas Kota Semarang.
Bagi generasi sekarang, menjaga Tay Kak Sie bukan semata mempertahankan sebuah bangunan bersejarah. Lebih dari itu, pelestarian kelenteng tersebut berarti merawat ingatan tentang perjalanan budaya, toleransi, dan kehidupan masyarakat yang telah berlangsung lintas generasi.
Tay Kak Sie pada akhirnya menjadi salah satu simbol bahwa warisan sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga menjadi ruang tempat tradisi terus dijalankan dan nilai keberagaman diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar