Benarkah Santet Bekerja? Praktisi Pengembangan Diri Soroti Peran Pikiran dan Keyakinan dalam Membentuk Realitas
- account_circle Admin
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Kepercayaan terhadap santet, pelet, dan berbagai bentuk ilmu gaib masih hidup di tengah masyarakat Indonesia. Tidak sedikit orang yang meyakini bahwa niat buruk seseorang dapat memengaruhi kesehatan, keberuntungan, bahkan perjalanan hidup orang lain.
Namun, pandangan berbeda disampaikan sejumlah praktisi pengembangan diri yang mengaitkan fenomena tersebut dengan cara kerja pikiran bawah sadar dan sistem keyakinan individu. Mereka berpendapat bahwa pengaruh terbesar terhadap kehidupan seseorang justru berasal dari keyakinan yang tertanam dalam dirinya sendiri.
Salah satu pendekatan yang banyak dibahas adalah Hukum Asumsi (Law of Assumption) yang dipopulerkan oleh tokoh pengembangan diri, Neville Goddard. Dalam pandangan ini, seseorang tidak dapat begitu saja menjadi “korban” manifestasi atau niat orang lain tanpa adanya penerimaan secara psikologis maupun bawah sadar.
Menurut perspektif tersebut, ketakutan terhadap santet dapat bekerja layaknya efek nocebo dalam dunia medis. Jika placebo menggambarkan kondisi seseorang yang membaik karena percaya terhadap efektivitas suatu pengobatan, maka nocebo terjadi ketika seseorang mengalami gejala negatif akibat keyakinan bahwa dirinya sedang terkena pengaruh buruk.
“Ketika seseorang sangat yakin bahwa dirinya dikutuk atau disantet, pikiran bawah sadar dapat merespons keyakinan tersebut melalui stres, kecemasan, hingga gejala fisik yang dirasakan nyata,” demikian pandangan yang berkembang dalam komunitas pengembangan diri.
Selain faktor individu, pengaruh budaya dan lingkungan juga dinilai berperan besar. Di daerah yang sejak lama mengenal cerita tentang santet dan ilmu hitam, masyarakat cenderung memiliki keyakinan kolektif yang kuat terhadap keberadaan dan kekuatan praktik tersebut. Kondisi ini diyakini dapat membentuk pola pikir yang membuat seseorang lebih mudah merasa terpengaruh ketika menghadapi peristiwa yang dianggap berkaitan dengan santet.
Sebaliknya, individu yang memiliki keyakinan kuat bahwa hidupnya tidak dapat dikendalikan oleh pihak lain disebut cenderung lebih tahan terhadap rasa takut maupun sugesti negatif. Kesadaran diri dan kemampuan mengelola pikiran dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental dan emosional.
Meski demikian, para ahli psikologi mengingatkan bahwa berbagai keluhan fisik maupun gangguan emosional sebaiknya tetap ditangani melalui pendekatan medis dan psikologis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Rasa takut yang berkepanjangan, kecemasan, atau stres dapat memengaruhi kondisi tubuh dan kualitas hidup seseorang.
Perdebatan mengenai santet hingga kini masih menjadi bagian dari dinamika antara kepercayaan budaya, spiritualitas, dan penjelasan ilmiah. Namun satu hal yang menjadi titik temu berbagai pandangan adalah pentingnya menjaga kesehatan mental, membangun keyakinan positif, serta tidak membiarkan rasa takut menguasai kehidupan sehari-hari.
Bagi banyak kalangan pengembangan diri, pesan utamanya sederhana: seseorang tetap memiliki peran terbesar dalam menentukan respons, sikap, dan arah hidupnya sendiri, terlepas dari berbagai pengaruh yang datang dari luar.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar