Viral Doktor Desa Adat! Ketut Susila Dharma Gaungkan Reformasi Tradisi dan Gaya Hidup Tanpa Plastik
- account_circle Admin
- calendar_month Sab, 2 Agu 2025

Ir. Ketut Susila Dharma MM
DENPASAR – Dunia akademik dan budaya Bali digugah oleh momen bersejarah: Ir. Ketut Susila Dharma, MM resmi menyandang gelar Doktor di bidang Ilmu Agama dan Kebudayaan dari Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Jumat (1/8).
Namun bukan hanya karena predikat cumlaude yang diraihnya, melainkan juga karena disertasinya yang menyoroti modifikasi pemerintahan desa adat kuno serta pelaksanaan ujian terbuka yang sarat nilai keberlanjutan.
Disertasi berjudul “Modifikasi Manajemen Pemerintahan Desa Adat Kuno Bungaya, Karangasem” ini mengungkap bagaimana desa adat tua mampu beradaptasi menghadapi zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Dengan pendekatan kualitatif dan teori modernisasi, Ketut membedah dinamika perubahan dari struktur Keliang dan Penyarikan hingga dampak ekonomi dan religiusitas masyarakat adat.
“Desa adat itu ibarat komputer. Struktur adalah hardware, pemimpin adalah brainware, dan budaya menjadi software-nya. Semua harus sinkron agar berjalan optimal,” ujarnya penuh analogi, usai sidang promosi doktor di Fakultas Ilmu Agama, Seni, dan Budaya UNHI.

Mantan petinggi BUMN di bidang telekomunikasi itu menekankan pentingnya efisiensi tata kelola berbasis kearifan lokal. Salah satu poin penting dalam penelitiannya adalah penerapan metode POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) dalam proses reformasi desa adat.
Tak kalah menarik, sidang terbuka yang dihadiri tokoh-tokoh kampus dan akademisi ini tampil beda. Momen ini menjadi viral karena nuansa ramah lingkungan yang diterapkan: bebas plastik sekali pakai, sesuai Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2025.
Semua makanan disajikan dengan kotak tradisional menggunakan produk UMKM lokal, seperti rebusan khas Bali dari Men Lotri. Para tamu pun diberi tumbler sebagai suvenir edukatif untuk membiasakan gaya hidup berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar gelar doktor, tapi juga praktik nyata filosofi Tri Hita Karana—membangun harmoni dengan alam, sesama, dan Tuhan,” ujar promotor, Prof. Dr. I Putu Gelgel, S.H., M.Hum.

Ia menyebut karya Ketut Susila Dharma sebagai sumbangsih strategis yang bisa direplikasi di desa adat lain se-Indonesia.
Ketut sendiri berharap hasil penelitiannya dapat menjadi panduan reformasi bagi desa-desa adat tua agar tidak tertinggal oleh laju zaman. “Yang penting bukan menolak modernitas, tapi bagaimana mengolahnya agar selaras dengan jati diri budaya kita,” pungkasnya. (Tim)

Hey there, I was wondering if you took guest posts on gatradewata.com? If so, how would I go about getting one on your site? If there is a fee, let me know.
Also, if you have any other sites you can get me a post on please list them.
Thanks
Justin
8 November 2025 8:46 AMhttps://shorturl.fm/qggUy
5 Agustus 2025 6:38 AM