Breaking News
light_mode

Tanpa Pendidikan dan Kesejahteraan, Demokrasi Jadi Alat Manipulasi Kekuasaan

  • account_circle Ray
  • calendar_month 8 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tanpa masyarakat yang terdidik dan sejahtera, demokrasi berisiko kehilangan substansi dan berubah menjadi sekadar prosedur politik.

JAKARTA — Demokrasi kerap dipuji sebagai sistem yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Namun, demokrasi tidak selalu otomatis menghadirkan keadilan. Ketika pendidikan dan kesejahteraan masyarakat belum menjadi fondasi yang kuat, demokrasi justru berpotensi berubah menjadi arena perebutan kekuasaan semata.

Pandangan tersebut disampaikan Tantowi Yahya, penyanyi, pembawa acara televisi, aktor, dan politikus Indonesia, dalam sebuah pernyataan yang diunggah melalui video di TikTok.

Menurut Tantowi, demokrasi memiliki hubungan erat dengan kualitas pendidikan dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Demokrasi, menurutnya, baru dapat berjalan secara baik dan berkeadilan apabila masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang memadai serta kehidupan ekonomi yang cukup.

“Demokrasi itu linear dengan pendidikan dan kesejahteraan.”

Pernyataan tersebut menjadi kritik sekaligus refleksi terhadap praktik demokrasi yang tidak cukup hanya diukur dari terselenggaranya pemilu, banyaknya partai politik, atau kebebasan masyarakat menentukan pilihan politik.

Bagi Tantowi, demokrasi membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk memahami pilihan, menilai informasi, serta menentukan keputusan politik secara sadar dan rasional.

Demokrasi Bisa Kehilangan Makna

Persoalan muncul ketika masyarakat berada dalam kondisi rentan secara ekonomi dan lemah dalam literasi politik.

Dalam situasi demikian, suara rakyat dapat dengan mudah diperlakukan sebagai komoditas. Pilihan politik bukan lagi semata-mata lahir dari pertimbangan program, gagasan, rekam jejak, atau visi tentang masa depan, melainkan dapat dipengaruhi oleh kebutuhan sesaat.

Tantowi bahkan memberikan peringatan lebih keras.

“Tanpa itu demokrasi hanya akan menjadi alat bagi seseorang atau kelompok-kelompok tertentu dalam merebut dan melanggengkan kekuasaan.”

Kalimat tersebut menyentuh sisi paling sensitif dari demokrasi: ketika prosedur demokratis tetap berjalan, tetapi substansi kedaulatan rakyat perlahan kehilangan maknanya.

Pemilu bisa tetap digelar. Kampanye bisa berlangsung meriah. Surat suara tetap dihitung. Pemenang tetap ditetapkan.

Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa bebas rakyat menentukan pilihannya?

Ketika Suara Rakyat Bisa Dibeli

Tantowi juga menyoroti potensi demokrasi berubah menjadi instrumen transaksi politik.

“Demokrasi menjadi alat untuk membeli suara. Demokrasi menjadi alat untuk memanipulasi.”

Di titik inilah demokrasi menghadapi paradoks.

Secara prosedural, rakyat memang diberikan hak untuk memilih. Tetapi secara substantif, pilihan tersebut dapat terdistorsi ketika kemiskinan, ketimpangan akses informasi, rendahnya literasi politik, dan ketergantungan ekonomi membuat masyarakat lebih mudah dipengaruhi.

Suara rakyat akhirnya tidak lagi dipandang sebagai ekspresi kedaulatan, tetapi sebagai angka yang dapat dihitung, dipetakan, bahkan diperebutkan dengan berbagai cara.

Demokrasi pun berisiko mengalami pergeseran: dari kompetisi gagasan menjadi kompetisi sumber daya.

Legal Belum Tentu Etis

Bagian lain dari pernyataan Tantowi yang patut direnungkan adalah ketika ia menyebut demokrasi dapat menjadi alat untuk “melakukan segala cara yang terdengar legal.”

Ungkapan tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara hukum, etika, dan kekuasaan.

Sesuatu yang secara formal diperbolehkan belum tentu selalu mencerminkan semangat demokrasi. Sebab demokrasi bukan hanya tentang mengikuti prosedur, tetapi juga tentang memastikan bahwa prosedur tersebut menghasilkan keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat rakyat.

Di sinilah kualitas institusi demokrasi diuji.

Apakah hukum hanya menjadi pagar formal bagi perebutan kekuasaan, atau benar-benar menjadi instrumen untuk memastikan kekuasaan digunakan bagi kepentingan publik?

Pendidikan Adalah Benteng Demokrasi

Gagasan Tantowi pada akhirnya membawa diskusi kembali pada persoalan yang lebih fundamental: pendidikan.

Masyarakat yang terdidik tidak berarti seluruhnya harus memiliki gelar akademik tinggi. Lebih jauh dari itu, pendidikan membentuk kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa informasi, memahami konsekuensi pilihan, serta tidak mudah menyerahkan keputusan politik kepada propaganda dan transaksi sesaat.

Demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang tidak sekadar memiliki hak pilih, tetapi juga memahami nilai dari hak pilih tersebut.

Sementara kesejahteraan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menggunakan hak politiknya tanpa tekanan kebutuhan hidup yang ekstrem.

Dengan kata lain, demokrasi membutuhkan rakyat yang cukup kuat untuk mengatakan “tidak” ketika suara mereka hendak dibeli.

Demokrasi Bukan Sekadar Soal Menang dan Kalah

Pada akhirnya, demokrasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam sebuah kontestasi politik.

Demokrasi seharusnya berbicara tentang bagaimana kekuasaan diperoleh, bagaimana kekuasaan digunakan, dan untuk siapa kekuasaan itu bekerja.

Pernyataan Tantowi Yahya menjadi relevan untuk direnungkan bukan semata-mata sebagai kritik terhadap praktik politik, tetapi sebagai pertanyaan kepada seluruh masyarakat: apakah demokrasi kita sudah benar-benar memperkuat rakyat, atau justru rakyat yang terus-menerus menjadi objek dalam permainan kekuasaan?

Sebab demokrasi yang hanya memberikan rakyat hak untuk memilih, tetapi tidak memberikan mereka pendidikan, kesejahteraan, informasi yang sehat, dan kebebasan dari tekanan ekonomi, berisiko hanya menyisakan kulit dari demokrasi itu sendiri.

Demokrasi yang matang bukan sekadar tentang satu orang, satu suara. Lebih jauh, demokrasi adalah tentang memastikan bahwa setiap suara memiliki kesadaran, kebebasan, dan martabat.

Demokrasi Tanpa Kesejahteraan Berisiko Menjadi Sekadar Prosedur Politik. Ketika Suara Rakyat Menjadi Komoditas dalam Kontestasi Kekuasaan.

Editor – Ray

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • WNI Diduga Lakukan Begal Payudara di Kochi Jepang, Akibatkan Korban Terluka

    WNI Diduga Lakukan Begal Payudara di Kochi Jepang, Akibatkan Korban Terluka

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 3340Komentar

    KOCHI – Seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Muhammad Abdullah Ginting (22) ditangkap oleh Kepolisian Prefektur Kochi, Jepang, atas dugaan tindak pidana pelecehan seksual yang menyebabkan korbannya mengalami luka. Muhammad Abdullah Ginting diketahui bekerja sebagai pekerja perawatan lansia (kaigo shokuin) di Kota Kochi. Menurut Kepolisian Higashi Kochi, peristiwa yang menjerat pria berusia 22 tahun tersebut […]

  • SIM Digital Korlantas Permudah Masyarakat, Urus dan Perpanjang SIM Kini Bisa dari Rumah

    SIM Digital Korlantas Permudah Masyarakat, Urus dan Perpanjang SIM Kini Bisa dari Rumah

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    JAKARTA — Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri terus memperkuat transformasi digital pelayanan publik melalui layanan SINAR (SIM Nasional Presisi) dan SIM Digital yang kini dapat diakses langsung melalui aplikasi Digital Korlantas Polri. Inovasi ini memungkinkan masyarakat melakukan pendaftaran, ujian teori, hingga perpanjangan SIM secara daring tanpa harus mengantre di kantor pelayanan. Melalui layanan SINAR, masyarakat […]

  • 15 Laporan! Chief Security Bertopeng Wartawan, Polda Belum Ambil Tindakan Tegas Play Button

    15 Laporan! Chief Security Bertopeng Wartawan, Polda Belum Ambil Tindakan Tegas

    • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 21Komentar

    DENPASAR – Kelakuan oknum chief Security di The Cakra Hotel (info Markom Hotel) yang kini merangkap sebagai wartawan terbongkar, kini banyak masyarakat yang mengadukan kelakuannya di Polda Bali. Dari dugaan pelaporan pemerasan, perlakuan kasar, ancaman diviralkan dan lain sebagainya untuk sejumlah uang. Masyarakat berani bertindak karena diduga oknum bekingan aparatnya telah dilucuti di Internal Polri, […]

  • AMPI Laporkan 30 Akun Medsos ke Bareskrim, Diduga Sebar Fitnah terhadap Bahlil Lahadalia

    AMPI Laporkan 30 Akun Medsos ke Bareskrim, Diduga Sebar Fitnah terhadap Bahlil Lahadalia

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    JAKARTA – DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) resmi melaporkan sekitar 30 akun media sosial ke Bareskrim Polri. Langkah ini diambil karena akun-akun tersebut diduga menyebarkan fitnah dan ujaran kebencian terhadap Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Wakil Ketua Umum DPP AMPI, Steven Izaac Risakotta, mengatakan pelaporan […]

  • Russia, ASEAN Set .8 Billion Trade Agenda Through 2035

    Russia, ASEAN Set $17.8 Billion Trade Agenda Through 2035

    • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    New strategic framework expands cooperation in digital technology, AI, energy, agriculture, transport, tourism and creative industries MANILA, Philippines — Russia and the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) have agreed on a new long-term framework to expand trade and investment cooperation through 2035, with emerging sectors such as artificial intelligence, digital transformation, energy and the […]

  • Goa Garba Gianyar, Jejak Pasraman Kuno 800 Tahun di Lembah Pakerisan

    Goa Garba Gianyar, Jejak Pasraman Kuno 800 Tahun di Lembah Pakerisan

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Vine
    • 87Komentar

    GIANYAR – Di balik rimbunnya hutan tropis dan tebing Sungai Pakerisan, Kabupaten Gianyar, tersimpan sebuah situs bersejarah yang diyakini berusia sekitar 800 tahun. Situs tersebut dikenal sebagai Goa Garba, goa kuno yang memiliki nilai penting dalam perjalanan sejarah, pendidikan, dan spiritualitas Bali pada masa lampau. Goa Garba terletak di Banjar Samegunung, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring. […]

expand_less