Setelah MoU, PT BIBU Panji Sakti Teken Kontrak Pembelian Tiga N219 Amfibi dari PTDI
- account_circle Admin
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kontrak tiga N219 Amfibi menjadi langkah konkret membangun jaringan logistik udara-maritim untuk mendukung distribusi hasil laut dari Indonesia Timur menuju pasar domestik dan ekspor.
BANDUNG — Kerja sama PT BIBU Panji Sakti dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memasuki tahap baru. Setelah sebelumnya dituangkan dalam nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), rencana pengadaan tiga unit pesawat N219 kini resmi ditingkatkan menjadi kontrak pembelian.
Penandatanganan kontrak dilakukan di Kantor PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Rabu (26/8/2026).
Tiga pesawat yang dipesan merupakan N219 Amfibi, varian pesawat produksi dalam negeri yang dikembangkan PTDI untuk mendukung konektivitas wilayah kepulauan dengan keterbatasan infrastruktur landasan.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari rencana PT BIBU Panji Sakti dalam membangun ekosistem logistik udara berbasis maritim, terutama untuk mendukung rantai pasok komoditas hasil laut. Konsep itu juga dikaitkan dengan rencana pembangunan Bandara Internasional Bali Utara di perairan Kubutambahan, Buleleng.
Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, mengatakan perubahan status dari MoU menjadi kontrak pembelian menunjukkan bahwa perusahaan mulai masuk ke tahap implementasi.

“Ini bukan lagi sekadar rencana. Dengan ditandatanganinya kontrak pembelian, kami masuk ke tahap implementasi. Kami ingin membangun sistem logistik yang menghubungkan laut dan udara sehingga hasil perikanan dari wilayah-wilayah kepulauan dapat bergerak lebih cepat menuju pasar,” kata Erwanto.
Menurut dia, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan sistem transportasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada pembangunan infrastruktur darat.
N219 Amfibi dinilai menawarkan alternatif karena dapat beroperasi dari landasan darat maupun permukaan air.
“Bagi Indonesia, khususnya wilayah timur, kecepatan adalah bagian penting dari nilai ekonomi komoditas laut. Ikan segar, tuna kualitas ekspor, live seafood, dan komoditas laut bernilai tinggi tidak bisa terlalu lama menunggu. Karena itu, kami membutuhkan moda transportasi yang bisa mendekatkan sentra produksi dengan pasar,” ujarnya.
Tiga N219 Akan Dioperasikan PT BIBU Agro Maritim
Tiga pesawat tersebut nantinya akan dioperasikan PT BIBU Agro Maritim, anak usaha PT BIBU Panji Sakti yang bergerak dalam pengembangan dan pengelolaan rantai pasok komoditas maritim.
Direktur Utama PT BIBU Agro Maritim, Anak Agung Ngurah Alit Kakarsana, mengatakan karakter komoditas perikanan bernilai tinggi membuat kecepatan distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga nilai ekonomi produk.
Menurut Kakarsana, komoditas seperti live seafood dan tuna kualitas sashimi-grade membutuhkan sistem distribusi yang cepat agar dapat memperoleh nilai optimal di pasar.
N219 diharapkan dapat menjadi penghubung antara wilayah produksi, pusat perdagangan, hingga pasar ekspor.
Dari MoU Menuju Kontrak Pembelian
Kerja sama PT BIBU Panji Sakti dan PTDI telah dimulai sejak Desember 2025. Saat itu, kedua perusahaan menandatangani MoU pengadaan tiga unit N219 dengan konfigurasi kargo di Hanggar Aircraft Services PTDI, Bandung.
Kesepakatan tersebut ditandatangani Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo bersama Direktur Niaga, Teknologi dan Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal.
Dalam kesepakatan awal, N219 dirancang sebagai feeder aircraft yang berfungsi mengumpulkan komoditas laut dari berbagai titik produksi sebelum diteruskan menuju penerbangan berkapasitas lebih besar untuk pasar ekspor.
PTDI juga sebelumnya menyatakan akan melakukan kajian terhadap sejumlah aspek, mulai dari rute potensial, volume kebutuhan, aspek teknis dan ekonomi hingga rekomendasi operasional.
Setelah sekitar delapan bulan, kerja sama tersebut kini meningkat dari tahap kesepahaman menjadi kontrak komersial.
Bagi PTDI, perkembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas komersialisasi N219. Pada Mei 2026, PTDI juga telah menandatangani kontrak penjualan empat unit N219 dengan PT Mitra Aviasi Perkasa untuk mendukung kebutuhan angkutan kargo di wilayah perintis.
Direktur Utama PTDI Marsda TNI (Purn.) Gita Amperiawan mengatakan penguatan pasar N219 penting bagi keberlanjutan industri pesawat nasional sekaligus membuktikan kemampuan produk dirgantara Indonesia dalam menjawab kebutuhan konektivitas di dalam negeri.
“Kontrak ini menunjukkan bahwa N219 bukan hanya sebuah produk teknologi, tetapi mulai menjadi solusi nyata bagi kebutuhan konektivitas Indonesia. Kami melihat kebutuhan yang besar untuk pesawat yang mampu beroperasi di wilayah kepulauan, daerah terpencil, maupun kawasan yang memiliki keterbatasan infrastruktur,” kata Gita.
Ia menilai kolaborasi dengan sektor swasta menunjukkan bahwa pengembangan industri dirgantara nasional membutuhkan ekosistem yang lebih luas.
“Produsen pesawat, operator, pengguna jasa, pemerintah, serta sektor usaha harus bergerak dalam satu rantai nilai,” ujarnya.
N219 Amfibi untuk Mendukung Ekonomi Biru
N219 Amfibi memiliki karakter berbeda dibandingkan pesawat komersial konvensional. Selain dapat beroperasi dari landasan darat, varian amfibi dikembangkan agar dapat lepas landas dan mendarat di permukaan air.
Pesawat ini memiliki kapasitas hingga 19 penumpang dan dapat dikonfigurasi untuk berbagai kebutuhan, termasuk angkutan kargo, evakuasi medis, patroli maritim, serta pencarian dan pertolongan atau SAR.
Kemampuan tersebut dinilai relevan dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah pesisir dan pulau-pulau dengan keterbatasan akses transportasi.
Bagi PT BIBU Panji Sakti, pengadaan tiga N219 Amfibi tidak berdiri sendiri. Armada tersebut ditempatkan sebagai salah satu bagian dari rencana pengembangan rantai pasok ekonomi biru, termasuk dalam blueprint Bandara Internasional Bali Utara yang direncanakan berada di kawasan perairan Kubutambahan, Buleleng.
Erwanto mengatakan tujuan utama pengembangan sistem tersebut adalah meningkatkan nilai tambah komoditas laut Indonesia dengan mempercepat jalur distribusi menuju pasar bernilai tinggi.
“Kami ingin nelayan dan pelaku usaha perikanan mendapatkan nilai tambah yang lebih besar. Jangan sampai produk yang memiliki kualitas ekspor kehilangan nilainya hanya karena persoalan distribusi,” katanya.
Dengan ditandatanganinya kontrak pembelian tersebut, kerja sama PT BIBU Panji Sakti dan PTDI memasuki babak baru. Jika pada 2025 kerja sama masih berada pada tahap kesepahaman untuk mengembangkan model pengangkutan komoditas laut, maka pada 2026 komitmen tersebut mulai diwujudkan melalui pengadaan armada.
Tiga N219 Amfibi tersebut diharapkan menjadi salah satu simpul jaringan logistik laut-udara yang menghubungkan Bali dan kawasan Indonesia Timur dengan pasar domestik maupun internasional.
Bagi PTDI, kontrak itu sekaligus memperkuat posisi N219 sebagai produk industri dirgantara nasional yang tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan konektivitas, tetapi juga mulai memasuki ceruk pasar komersial yang spesifik dengan karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar