Breaking News
light_mode

Kilas Balik! LNG Bukan Mandiri Energi Bersih, Moko: Bali Perlu PLTS berskala komunitas

  • account_circle Ray
  • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BADUNG – Rencana pengembangan pembangkit listrik berbasis gas atau FSRU (Floating Storage and Regasification Unit) LNG (Liquefied Natural Gas) gas alam cair, yang rencana dibangun di perairan dekat Pulau Serangan/Sidakarya, dengan titik lokasi sekitar 3,5Km dari garis pantai laut lepas (offshore) yang juga mendapat penolakan hebat dari Desa Adat Serangan dianggap bagian dari strategi ketahanan energi Bali dalam beberapa tahun mendatang.

Rencananya Gas hasil regasifikasi dialirkan melalui pipa bawah laut menuju jaringan darat ke PLN Pesanggaran guna menopang kebutuhan listrik masyarakat Provinsi Bali, sehingga strategi ketahanan energi diproyeksikan mendapat tambahan pasokan listrik berbasis LNG hingga 1.550 megawatt, dikutip dari pernyataan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan.

Walau pembangunan infrastruktur awal sempat berkedok proyek Normalisasi Sungai Ngenjung untuk jalan Melasti Desa Adat Sidakarya. Belum lagi dalam pembangunannya membabat mangrove sepanjang aliran sungai Ngenjung yang tidak ada sama sekali suara keras dari Pansus Trap DPRD Bali, beda saat Pansus Trap ngamuk melihat 10 batang mangrove terbabat oleh pembangunan BTID.

Bila ini dilanjutkan dikhawatirkan berdampak pada sekitar 1,7 hingga 7 hektare kawasan mangrove Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai akibat jalur pipa bawah tanah, pengerukan laut, serta ancaman terhadap wilayah adat dan pariwisata.

Suriadi Darmoko (Moko).

Menemui aktivis lingkungan dari Field Organiser untuk 350.org Indonesia, Suriadi Darmoko, menilai kebijakan energi Bali masih menyisakan persoalan karena terdapat kontradiksi dalam regulasi daerah terkait energi bersih.

Menurutnya, gas tidak tepat disebut sebagai energi bersih karena tetap merupakan bahan bakar fosil dan memiliki dampak terhadap lingkungan. Serta tetap memerlukan pasokan dari luar.

“Pemerintah menyebut gas sebagai energi bersih di dalam Pergub itu. Secara faktual gas bukan energi bersih dan penyebutan gas sebagai energi bersih itu menyesatkan,” kata Moko, 23 Mei 2026.

Di sisi lain, Moko menilai kebijakan Bali sebenarnya telah membuka ruang bagi pengembangan energi terbarukan. Salah satu potensi yang paling realistis dikembangkan adalah energi surya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap maupun pembangkit berskala komunitas.

Ia menekankan pembangunan energi terbarukan tidak harus dilakukan dalam skala besar yang berpotensi menempatkan masyarakat hanya sebagai konsumen.

“Pilihan energinya harus dijatuhkan pada pilihan energi terbarukan dan dibangkitkannya pada skala komunitas,” ujarnya.

Menurut Moko model desentralisasi dapat diterapkan mulai dari tingkat rumah tangga, banjar hingga desa. PLTS atap dapat dikembangkan untuk rumah tangga, sedangkan PLTS komunal dapat dikelola melalui desa maupun badan usaha milik desa.

Skema tersebut dinilai dapat membuat manfaat ekonomi dari pengembangan energi langsung dirasakan masyarakat.

“Benefit dari pembangunan pembangkit itu seharusnya jatuh ke tangan warga, bukan jatuh ke tangan korporasi,” tegasnya.

Ia mencontohkan, apabila pembangkit listrik dikembangkan melalui skala komunitas dan dikelola badan usaha milik desa, pendapatan dari listrik yang dihasilkan dapat kembali menjadi pemasukan bagi desa.

Begitu pula dengan PLTS rumah tangga. Energi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat ekonomi langsung kepada pemilik instalasi.

Sementara itu, sejumlah warga bahkan Desa Adat Serangan yang berada di sekitar wilayah konsesi pembangunan pembangkit listrik juga menyoroti proses sosialisasi dan pelibatan masyarakat.

Mereka mengaku belum mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai potensi dampak lingkungan dari rencana pembangunan pembangkit listrik berbasis gas tersebut.

Ia menilai masyarakat yang terdampak langsung semestinya dilibatkan sejak tahap awal, terutama dalam proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Keterlibatan masyarakat wajib dianggap penting, agar warga memahami secara terbuka potensi dampak yang mungkin muncul sebelum proyek berjalan.

Editor – Ray

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Motor Hilang di Danau Tempe, Polisi Polsek Densel Gerak Cepat

    Motor Hilang di Danau Tempe, Polisi Polsek Densel Gerak Cepat

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Motor yang diparkir di depan kantor dan sudah dikunci stang dilaporkan hilang. Polsek Denpasar Selatan memastikan penelusuran dilakukan dengan mengecek lokasi dan rekaman CCTV. DENPASAR – Sepeda motor yang diparkir di depan sebuah kantor di kawasan Danau Tempe, Denpasar Selatan, dilaporkan hilang meski kendaraan tersebut telah dikunci stang. Laporan kehilangan dengan No. Reg. Dumas/551/VIII/2028/SPKT/Polsek Densel/Resta […]

  • USK Bali Gelar Pameran Kolektif “Story of Indonesia”, Rayakan Keberagaman Lewat Jurnalisme Visual

    USK Bali Gelar Pameran Kolektif “Story of Indonesia”, Rayakan Keberagaman Lewat Jurnalisme Visual

    • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    BALI — Urban Sketchers (USK) Bali menghadirkan pameran akbar bertajuk “Story of Indonesia”, sebuah perayaan visual tentang keberagaman budaya dan warna kehidupan Nusantara. Gelaran ini berlangsung pada 22 November 2025 hingga 17 Januari 2026 di Masa-Masa, menggandeng Sketsa Nusantara 3 – Chapter Bali by Leeven & Co. Lebih dari 100 sketcher dari berbagai daerah dan […]

  • Burung Kapinis, Sang “Penguasa Langit” yang Bisa Terbang 10 Bulan Tanpa Mampir ke Tanah

    Burung Kapinis, Sang “Penguasa Langit” yang Bisa Terbang 10 Bulan Tanpa Mampir ke Tanah

    • calendar_month Kamis, 20 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 17Komentar

    JAKARTA – Di antara ribuan spesies burung di dunia, burung kapinis (Apus apus) menjadi salah satu yang paling mencengangkan. Perilakunya yang unik membuat para peneliti menempatkannya sebagai salah satu makhluk dengan kemampuan terbang paling ekstrem di planet ini. Berdasarkan data Birds of the World dari Cornell Lab of Ornithology dan studi terbaru yang dipublikasikan dalam […]

  • Daun Pisang Gantikan Plastik, Inovasi Supermarket Thailand Viral dan Diikuti Bali

    Daun Pisang Gantikan Plastik, Inovasi Supermarket Thailand Viral dan Diikuti Bali

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    Chiang Mai — Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap sampah plastik, sebuah inovasi sederhana namun berdampak besar muncul dari Thailand. Supermarket Rimping di Chiang Mai menarik perhatian publik setelah mengganti kemasan plastik untuk sayuran dengan daun pisang, langkah yang dinilai lebih ramah lingkungan. Inisiatif ini menjadi viral setelah diunggah oleh Perfect Homes Chiangmai di media […]

  • Keluarga Pasien Tuding Keracunan Obat, Kadis Kesehatan Rote Ndao Bantah: Itu Reaksi Alergi!

    Keluarga Pasien Tuding Keracunan Obat, Kadis Kesehatan Rote Ndao Bantah: Itu Reaksi Alergi!

    • calendar_month Rabu, 27 Agt 2025
    • account_circle Deda Henukh
    • 3Komentar

    Rote Ndao – Insiden medis menimpa seorang ibu rumah tangga, Paulina Kiki (54), warga Batutua, Kecamatan Rote Barat Daya, usai mengikuti pengobatan gratis Puskesmas Keliling Batutua pada Selasa, 27 Agustus 2025. Pasien mengalami panas tinggi, gatal-gatal, dan pembengkakan kulit setelah mengonsumsi obat yang diberikan petugas kesehatan. Suami korban, Welhelmus Narang, menuturkan kekecewaannya kepada media. Ia […]

  • Chernobyl Bangkit! Zona Mati Jadi Surga Satwa Liar

    Chernobyl Bangkit! Zona Mati Jadi Surga Satwa Liar

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    Zona Eksklusi Chernobyl (CEZ) — Empat dekade setelah ledakan reaktor nuklir Chernobyl pada 1986 menciptakan salah satu wilayah paling terkontaminasi di dunia, zona seluas 1.600 mil persegi yang ditinggalkan manusia justru menjelma menjadi habitat subur bagi kehidupan liar. Penelitian terbaru menunjukkan lonjakan populasi rusa, rusa roe, babi hutan, dan bahkan serigala yang kini tujuh kali […]

expand_less