Tutur Ratu Daha Tua, Jejak Sakral Air Bangli dan Hulu Tata Air Bali
- account_circle Ray
- calendar_month 10 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jro Somya mengangkat kembali tutur tentang Ratu Daha Tua di Gunung Wangun Urip sebagai bagian dari upaya menjaga kesadaran spiritual dan ekologis terhadap sumber air Bangli serta Sat Kerthi Jagat Bali.
BANGLI — Air tidak hanya dipandang sebagai sumber kehidupan dalam kebudayaan Bali, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Salah satu tutur yang mengaitkan kesucian air dengan kawasan Bangli adalah kisah Ratu Daha Tua yang disebut berstana di Gunung Wangun Urip, kawasan yang dalam perkembangan tradisi juga dikaitkan dengan Pucak Tegeh Kahuripan atau Pura Puncak Penulisan.
Tutur tersebut disampaikan Jro Somya dengan merujuk pada sastra tan patulis atau tradisi lisan serta sejumlah sastra patulis. Ia mengaitkan Ratu Daha Tua dengan tata kelola air, keberadaan sumber mata air, hingga terbentuknya mekanisme pembagian air yang kemudian dikenal dalam tradisi masyarakat Bali sebagai subak.
“Secara tutur, Ratu Daha Tua merupakan salah satu Catur Purusa keturunan Sang Hyang Pasupati yang berstana di Gunung Wangun Urip sebagai penguasa air,” kata Jro Somya.
Menurut Jro Somya, sebutan Ratu Daha Tua berkaitan dengan nama Daha Nu yang secara lisan berkembang menjadi Danu. Dalam tutur tersebut, Ratu Daha Tua disebut sebagai sosok yang nyukla brahmacari atau tidak menikah. Kendati digambarkan berwujud perempuan, kedudukannya dalam tutur tersebut disebut berstatus purusa.
Gunung Wangun Urip sendiri dimaknai sebagai gunung yang membangun kehidupan. Kawasan itu juga disebut Pucak Tegeh Kahuripan atau Pucak Tegeh dan dikaitkan dengan Pura Puncak Penulisan.
Secara faktual, Pura Puncak Penulisan berada di Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Data Kementerian Agama mencatat pura tersebut berada pada ketinggian sekitar 1.745 meter di atas permukaan laut dan pengempon utamanya adalah Krama Desa Adat Sukawana bersama Banua Gebog Domas.
Kajian mengenai Pura Puncak Penulisan juga mencatat keberadaan Pura Ratu Daha Tua dalam kompleks tersebut. Sebuah kajian arsitektur Pura Penulisan menyebut Pura Ratu Daha Tua berada pada tingkat keenam kompleks pura, sedangkan kawasan Tegeh Kahuripan berada pada tingkat berikutnya.
Dalam tutur yang disampaikan Jro Somya, kawasan di bawah Pucak Tegeh juga berkaitan dengan Ratu Gede Penyarikan atau Ratu Gede Penulisan. Di tempat tersebut, menurutnya, terdapat kisah mengenai proses “memutuskan kasuakan” yang kemudian berkembang menjadi sistem subak sebagai mekanisme pembagian air bagi masyarakat Bali.
“Untuk membuka lahan dan meminta air, dalam tutur tersebut masyarakat harus memohon panugrahan kepada Ratu Daha Tua dan Ratu Gede Penyarikan. Dari sana kemudian muncul sejumlah panugrahan sumber mata air di berbagai wilayah,” ujar Jro Somya.
Ia menyebut sejumlah kawasan seperti Muncan, Sulahan, Catur dan Kembang Sari atau Sang Telaga sebagai bagian dari jejak tutur mengenai sumber air tersebut.
Dalam penjelasan Jro Somya, Pucak Tegeh juga dipandang sebagai salah satu pusat air. Ia menyebut adanya Gedong Puser Tasik yang dituturkan sebagai sumur di kawasan puncak gunung. Konsep tersebut kemudian dikaitkan dengan istilah Pusering Jagat atau Goa Metangkeb dalam versi tutur Tuluk Biyu.
Menurutnya, aliran air dalam konsepsi tersebut kemudian dibayangkan menyebar ke berbagai penjuru Bali. Untuk Bali Selatan dikaitkan dengan aliran Tukad Ayung hingga Tukad Badung dan Karang Suwung. Bali Utara dikaitkan dengan Tukad Daya hingga Bungkulan, sementara wilayah timur dikaitkan dengan Tukad Gamongan dan Tukad Kutuh.
Adapun kawasan Bali Barat dalam tutur tersebut dikaitkan dengan sumber air dari Batukaru, Puncak Mangu, Puncak Sari serta sejumlah gunung yang disebut sebagai pesemetonan Gunung Merapi dan Gunung Mahameru.
Jro Somya juga mengaitkan tata spiritual kawasan tersebut dengan keberadaan Bebanuan Puncak Penulisan dan Gebog Domas. Dalam kajian mengenai Pura Puncak Penulisan, Gebog Domas memang dikenal sebagai kelompok masyarakat dari sejumlah wilayah yang memiliki kewajiban ritual di pura tersebut. Kajian akademik menyebut kelompok itu berfungsi sebagai bagian penting dalam menjaga hubungan antardesa dan pelaksanaan ritual di Pura Puncak Penulisan.
Dalam tutur yang disampaikannya, Gebog Domas kemudian dikaitkan dengan empat kelompok penyangga yang disebut Domas Satak, yakni Gebog Satak Sukawana, Kintamani, Selulung dan Bantang.
Jro Somya juga menjelaskan keberadaan Dasa Desa yang berkaitan dengan Bale Agung Desa Sukawana. Ia menyebut sembilan desa, yakni Sembiran, Awan, Serai, Maniklyu, Daup, Batih, Les Penuktukan, Pacung dan Tejakula, serta satu titikan dari Madenan.
Salah satu bagian menarik dari tutur tersebut adalah kisah Ratu Daha Tua sebagai penjual air. Menurut Jro Somya, air dari Pucak Tegeh dan kawasan pesemetonan Gunung Merapi serta Gunung Mahameru ditampung di Segara Gunung Lebah yang dalam perkembangan kemudian dikenal sebagai Danau Batur.
“Ratu Daha Tua dalam tutur tersebut menyebarkan air ke wilayah-wilayah yang membutuhkan. Air itu bahkan diceritakan dijual kepada masyarakat yang memerlukannya,” kata Jro Somya.
Dalam kisah tersebut, Ratu Daha Tua disebut membangun pusat air di Belandingan dan dikenal pula dengan parab Ratu Manik Mas Muncar. Ia kemudian diceritakan malih rupa menjadi perempuan penjual air yang melakukan perjalanan menuju sejumlah wilayah Bali Timur dan Bali Utara.
Tutur itu menyebut perjalanan sang penjual air melewati Munti Gunung dan Tianyar. Karena air yang dibawa tidak dibeli masyarakat setempat, wilayah tersebut dalam kisah kemudian dikaitkan dengan kondisi kekeringan.
Perjalanan berlanjut menuju Les Penuktukan. Menurut Jro Somya, masyarakat Les Penuktukan membeli air sebanyak satu keteng. Dari kisah tersebut kemudian muncul keterkaitan desa tersebut dengan Bebanuan Puncak Penulisan serta kewajiban mengikuti pujawali di Bale Agung Desa Sukawana dalam siklus tertentu.
Sementara masyarakat Tejakula disebut membeli dua keteng air. Dalam tutur tersebut, hal itu kemudian dikaitkan dengan kewajiban mengikuti pujawali Bale Agung Sukawana setiap 10 tahun.
“Ketika air tersebut tidak lagi ada yang membeli, dalam tutur kemudian diceritakan air itu ditumpahkan di Air Sanih,” ujar Jro Somya.
Untuk wilayah Bali Timur, tutur tersebut juga menghubungkan sumber air dengan Pura Antapsai yang disebut sebagai bagian dari pesemetonan Gunung Merapi dan Gunung Mahameru.
Sementara itu, Tetamanan Ratu Daha Tua disebut berada di kawasan Batan Tingkat yang dalam tutur lama disebut Sinarata dan Yeh Mampeh. Dari nama tempat tersebut kemudian muncul parab Ratu Manik Mas Mampeh atau Ratu Manik Mas Membah.
Konsep Segara Gunung Lebah dalam tutur tersebut juga dikaitkan dengan Danau Batur. Nama Batur kemudian berkembang menjadi identitas kawasan yang memiliki posisi penting dalam lanskap spiritual dan kebudayaan Bangli.
Sejumlah sumber mengenai Pura Puncak Penulisan memang menunjukkan kuatnya hubungan antara kawasan tersebut dengan sejarah, tradisi, ritual, dan komunitas desa di Bali. Penelitian mengenai situs tersebut menyebut Puncak Penulisan sebagai kompleks pura penting yang memiliki jejak sejarah panjang dan menjadi pusat aktivitas ritual Gebog Domas.
Namun, berbagai rincian mengenai Ratu Daha Tua sebagai penguasa air, perjalanan menjual air, asal-usul sejumlah aliran air serta hubungan langsungnya dengan terbentuknya subak merupakan bagian dari tutur atau tradisi sastra yang disampaikan Jro Somya. Narasi tersebut perlu ditempatkan dalam konteks tradisi lisan dan keyakinan budaya, bukan semata-mata sebagai kesimpulan sejarah hidrologi yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Bagi Jro Somya, mengangkat kembali tutur tersebut bukan sekadar membicarakan kisah masa lalu. Ia ingin narasi mengenai Ratu Daha Tua dan Pucak Tegeh menjadi pengingat mengenai pentingnya menjaga sumber air, khususnya kawasan Bangli yang secara geografis memiliki posisi penting bagi ekosistem dan kehidupan masyarakat Bali.
“Yang ingin diperjuangkan adalah kesadaran bahwa air merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga. Tutur Ratu Daha Tua menjadi bagian dari upaya mengingatkan kembali pentingnya menjaga air Bangli untuk kehidupan dan untuk Nguwangun Sat Kerthi Jagat Bali,” tegasnya.
Dengan demikian, tutur Ratu Daha Tua dapat dibaca bukan hanya sebagai warisan sastra lisan, tetapi juga sebagai narasi budaya yang menempatkan air, gunung, masyarakat dan ruang hidup dalam satu kesatuan. Pesan ekologis yang terkandung di dalamnya menjadi relevan di tengah kebutuhan menjaga sumber air dan keberlanjutan lingkungan Bali.
I Made Somya Putra
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar