Sorotan Impor 105 Ribu Pikap India, Muammar Kadafi: Industri Lokal Jangan Jadi Penonton di Negeri Sendiri
- account_circle Ray
- calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga secara Completely Built Up (CBU) dari India senilai Rp24,66 triliun memicu gelombang kritik. Wacana tersebut dinilai berpotensi melemahkan industri otomotif nasional yang selama ini telah memiliki kapasitas produksi besar namun belum sepenuhnya terserap pasar domestik.
Tokoh muda Muammar Kadafi menilai kebijakan impor dalam jumlah masif tersebut tidak rasional dan berisiko menimbulkan persoalan jangka panjang, terutama terkait ketersediaan suku cadang dan keberlanjutan layanan purnajual.
“Kalau lima tahun ke depan suku cadangnya sulit, kendaraan itu bisa berubah menjadi rongsokan. Jangan sampai desa-desa yang menerima unit justru dibebani masalah baru,” tegas Kadafi dalam keterangannya, Selasa (25/2).

Wuling
Sebagaimana diketahui, pengadaan ini disebut akan melibatkan dua produsen otomotif besar asal India, yakni Mahindra dan Tata Motors. Rinciannya, 35.000 unit Scorpio Pik Up akan dipasok Mahindra, sedangkan 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors yang terdiri atas 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck. Kendaraan tersebut direncanakan untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Kapasitas Nasional Dinilai Masih Longgar
Kadafi mempertanyakan urgensi impor tersebut. Menurutnya, industri otomotif nasional saat ini memiliki kapasitas produksi pikap yang mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun. Namun, kapasitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

DFSK
Sejumlah pabrikan besar telah memproduksi kendaraan niaga ringan di dalam negeri, antara lain Suzuki, Isuzu, Mitsubishi Motors, Toyota, Daihatsu, serta merek asal Tiongkok seperti Wuling dan DFSK.
Mayoritas kendaraan niaga rakitan lokal telah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40 persen dan didukung jaringan servis serta distribusi suku cadang yang menjangkau hingga pelosok daerah.

Mitsubishi Colt L300
“Kalau memang dibutuhkan spesifikasi tertentu seperti 4×4, industri dalam negeri juga mampu. Tinggal diberi ruang dan kepastian permintaan. Jangan langsung ambil jalan pintas impor utuh,” ujar Kadafi.
Produk Lokal Lebih Kompetitif
Dari sisi harga, kendaraan niaga rakitan dalam negeri juga dinilai kompetitif. Beberapa model pikap bahkan dipasarkan di bawah Rp200 juta. Di antaranya Daihatsu Gran Max, Suzuki Carry, hingga model diesel legendaris seperti Mitsubishi Colt L300 yang dikenal tangguh di sektor usaha kecil dan menengah.

Suzuki Carry
Selain itu, pilihan lain seperti DFSK Supercab dan Wuling Formo Max turut meramaikan pasar dengan harga terjangkau serta dukungan layanan purnajual di berbagai wilayah.
Menurut Kadafi, mengutamakan produk dalam negeri bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan menyangkut keberlanjutan industri dan perlindungan tenaga kerja.
“Kalau kita terus membuka keran impor tanpa syarat pembangunan industri di sini, lama-lama kita hanya menjadi pasar. Seharusnya kalau ada pengadaan besar, perusahaan asing wajib membangun basis produksi atau minimal industri suku cadang di Indonesia,” tegasnya.
Ia menambahkan, kebijakan pengadaan nasional semestinya berpihak pada penguatan industri strategis dalam negeri agar devisa tidak terkuras dan ekosistem manufaktur tetap tumbuh.

Daihatsu Gran Max
“Ini momentum untuk menunjukkan keberpihakan pada industri nasional. Jangan sampai industri kita ‘nganggur’, sementara kita membiayai pabrik di luar negeri,” pungkas Kadafi.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar