Nyoman Tirtawan Soroti Sungai Kotor di Bali, Ritual Suci Tak Cukup Tanpa Aksi Nyata Menjaga Lingkungan
- account_circle Ray
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Gambar merupakan rekayasa AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nyoman Tirtawan Kritik Paradoks Kesucian Bali, Sungai Dipenuhi Sampah, Ritual Keagamaan Dinilai Belum Diiringi Aksi Nyata Menjaga Alam
BULELENG – Keprihatinan terhadap kondisi lingkungan di Bali kembali disuarakan Nyoman Tirtawan. Tokoh yang dikenal vokal memperjuangkan kepentingan masyarakat dan pengawasan penggunaan uang rakyat itu menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi sungai yang dipenuhi sampah, pencemaran limbah, serta rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Melalui sebuah refleksi yang disampaikannya, Tirtawan mengungkapkan kesedihan melihat kondisi sungai di Bali yang seharusnya dijaga kesuciannya, tetapi justru menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah.
Menurutnya, terdapat ironi ketika masyarakat kerap mengedepankan identitas religius dan berbagai kegiatan ritual, tetapi belum sepenuhnya menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam perilaku nyata untuk melindungi alam.
“Sedih melihat sungai di Bali jorok-kotor penuh sampah dan limbah yang konon katanya sungai di SUCI kan,” ungkap Nyoman Tirtawan dalam refleksinya.
Ia juga menyoroti perilaku masyarakat yang dinilai belum menunjukkan kepedulian memadai terhadap lingkungan, termasuk mereka yang memiliki pendidikan tinggi.
“Sedih melihat prilaku masyarakat yang konon religius tapi merusak lingkungan dan buang sampah sembarangan, padahal belajar sampai jadi Profesor,” tulisnya.
Kritik tersebut tidak hanya diarahkan kepada masyarakat. Tirtawan juga mempertanyakan keseriusan para pemangku kebijakan, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif, dalam menghadirkan langkah konkret untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Ia menilai, persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui slogan, seremoni, ataupun kegiatan ritual semata. Harus ada tindakan nyata, pengawasan, penegakan aturan, serta tanggung jawab bersama untuk menjaga kelestarian alam Bali.
Nyoman Tirtawan Ingin Melihat Sungai Bali Kembali Jernih dan Bebas Sampah
Dalam refleksinya, Tirtawan menyampaikan sebuah harapan sederhana, tetapi memiliki makna besar bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat Bali.
Ia ingin menyaksikan sungai-sungai kembali bersih dengan air jernih, ikan hidup dan berkembang, serta jalan-jalan yang terawat tanpa sampah berserakan.
“Semasih hidup atau sebelum mati, ingin sekali melihat sungai airnya bersih bening banyak ikannya, jalan mulus halus tanpa sehelai sampah mengotori pertiwi,” tulisnya.
Lebih jauh, ia berharap tumbuh kesadaran kolektif di tengah masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan, melestarikan lingkungan, dan membangun kehidupan sosial yang saling membantu.
“Masyarakatnya tersadarkan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan serta saling tolong-menolong dalam kehidupan bersama,” lanjutnya.
Nama Nyoman Tirtawan sendiri bukan sosok baru dalam isu pengawasan publik di Bali. Mantan anggota DPRD Provinsi Bali periode 2014–2019 tersebut dikenal karena sikap kritisnya dalam pembahasan rasionalisasi anggaran Pilgub Bali 2018. Perjuangan tersebut berkaitan dengan efisiensi anggaran penyelenggaraan pemilihan yang secara keseluruhan mencapai penghematan sekitar Rp98 miliar setelah rasionalisasi anggaran KPU dan Bawaslu Bali.
Kepeduliannya terhadap persoalan lingkungan juga pernah tercatat dalam pemberitaan ANTARA pada 2015. Saat itu, Tirtawan bersama Badan Lingkungan Hidup melakukan inspeksi ke Sungai Ayung setelah menerima laporan dugaan pembuangan limbah usaha rumah tangga dan peternakan ke aliran sungai. Ia juga pernah menyoroti pembuangan sampah sembarangan oleh sebuah hotel di kawasan Pemaron, Buleleng.
Kini, pesan yang disampaikannya kembali mengingatkan bahwa menjaga kesucian Bali tidak semestinya berhenti pada simbol, upacara, dan slogan. Kesucian juga harus tercermin melalui cara manusia memperlakukan alam yang menjadi sumber kehidupan.
Sebab, sungai yang bersih bukan sekadar persoalan keindahan pemandangan atau citra pariwisata. Di dalamnya terdapat kepentingan kesehatan masyarakat, keberlangsungan ekosistem, dan masa depan generasi mendatang.
Harapan Tirtawan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan bahwa pelestarian lingkungan membutuhkan tindakan bersama, bukan sekadar keprihatinan.
Editor – Ray
#Mimpi, demikian ia menutup refleksinya. Sebuah mimpi tentang Bali yang bersih, sungai yang kembali jernih, dan masyarakat yang benar-benar menjadikan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Saat ini belum ada komentar