Warga Gelar Pesta Babi di Depan Proyek Masjid Daegu, Mahasiswa Muslim Hadapi Dugaan Islamofobia
- account_circle Admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Konflik Sejak 2021 Memanas, Mahasiswa Muslim Keluhkan Diskriminasi, Komisi HAM Korea Soroti Aksi Kebencian Berbasis Agama
DAEGU, KOREA SELATAN – Aksi penolakan pembangunan masjid di kawasan Daehyeon-dong, Distrik Buk-gu, Kota Daegu, Korea Selatan, memicu perhatian internasional. Sejumlah warga yang menentang pembangunan rumah ibadah umat Islam menggelar pesta memanggang seekor babi utuh di dekat lokasi proyek pada 15 Desember 2022.
Aksi tersebut melibatkan warga yang tergabung dalam komite penolakan pembangunan masjid. Mereka mengadakan kegiatan makan bersama setelah menggelar konferensi pers di sekitar Universitas Nasional Kyungpook.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena daging babi merupakan makanan yang diharamkan dalam ajaran Islam. Pelaksanaannya di depan lokasi pembangunan masjid kemudian memunculkan kritik mengenai penghormatan terhadap kebebasan beragama dan keberadaan kelompok minoritas.
Mengutip laporan The Korea Herald yang diterbitkan 16 Desember 2022, warga Daehyeon-dong memasak seekor babi utuh di dekat proyek pembangunan masjid sebagai bagian dari aksi penolakan mereka.
Konflik tersebut sebenarnya telah berlangsung sejak 2020. Komunitas Muslim yang sebagian besar terdiri atas mahasiswa internasional Universitas Nasional Kyungpook berencana membangun masjid permanen untuk menggantikan rumah kecil yang sebelumnya digunakan sebagai tempat salat.
Pembangunan memperoleh persetujuan pemerintah Distrik Buk-gu pada September 2020 dan dimulai pada Desember tahun yang sama. Namun, pada Februari 2021, pemerintah distrik mengeluarkan perintah penghentian pembangunan setelah menerima keberatan dari warga sekitar.
Mahasiswa Muslim, Penolakan Dinilai Menyerang Keyakinan, Bukan Sekadar Bangunan
Muaz Razaq, mahasiswa doktoral asal Pakistan di Universitas Nasional Kyungpook, menjadi salah satu suara komunitas Muslim yang menyampaikan keberatan atas perlakuan sebagian warga.
Dalam wawancara dengan The Korea Times yang diterbitkan 3 Mei 2022, Razaq menjelaskan bahwa pembangunan masjid dibutuhkan karena tempat ibadah sementara tidak mampu menampung seluruh mahasiswa Muslim.
“Seperti yang Anda lihat, tempat ini terlalu kecil untuk menampung semua mahasiswa. Hanya sekitar 20 hingga 25 orang yang bisa datang untuk salat. Kami benar-benar membutuhkan tempat yang lebih besar,” kata Razaq kepada The Korea Times.
Ia juga menyoroti sejumlah spanduk demonstrasi yang menurutnya telah menyerang identitas keagamaan umat Islam, bukan lagi sekadar mempersoalkan pembangunan.
“Beberapa ungkapan mereka selama demonstrasi cukup mengejutkan kami. Hal itu tidak berkaitan dengan pembangunan masjid. Mereka menyerang agama kami. Mereka menyebut kami teroris,” ujar Razaq dalam wawancara tersebut.
Di sisi lain, warga yang menolak pembangunan memiliki alasan yang mereka sampaikan kepada media. Mereka mengkhawatirkan dampak pembangunan terhadap lingkungan permukiman, termasuk persoalan kebisingan, lalu lintas, aktivitas jamaah, dan kenyamanan tempat tinggal.
Pada 2 Februari 2023, sebagaimana dilaporkan kantor berita Yonhap, warga kembali menggelar kegiatan makan bersama dengan menyajikan daging babi dan sup daging sapi di depan lokasi pembangunan.
Perwakilan komite penolakan pembangunan masjid membantah bahwa kegiatan tersebut merupakan kejahatan kebencian.
“Acara makan daging babi sebelumnya hanyalah kegiatan barbeku. Hari ini juga kami mengadakan pesta untuk masyarakat dan membagikan daging babi. Kami tidak menganggapnya sebagai kejahatan kebencian,” demikian pernyataan pihak komite yang dikutip Yonhap pada 2 Februari 2023.
Namun, pernyataan dan aksi tersebut tetap menuai kritik dari kelompok pemerhati hak asasi manusia.
Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Korea Selatan (National Human Rights Commission of Korea/NHRCK), Song Doo-hwan, secara terbuka menyampaikan kritik terhadap tindakan yang berlangsung di sekitar pembangunan masjid.
Dalam pernyataan resmi yang diberitakan Yonhap pada 16 Maret 2023, Song mengatakan, “Tindakan merendahkan budaya Islam dan menunjukkan permusuhan dengan menggunakan daging babi di depan masjid yang sedang dibangun merupakan bentuk khas ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas berdasarkan ras dan agama. Tindakan berbahaya ini harus segera dihentikan dan tidak boleh ditoleransi dalam masyarakat kita.”
Pernyataan tersebut juga dipublikasikan melalui situs resmi NHRCK pada 24 Maret 2023. Lembaga tersebut menyerukan kepada Pemerintah Kota Daegu dan jajaran pemerintah daerah agar mengambil langkah untuk menangani diskriminasi serta mencegah tindakan serupa terulang.
Persoalan ini turut memasuki ranah hukum. Pada September 2022, Mahkamah Agung Korea Selatan menguatkan putusan sebelumnya yang membatalkan perintah penghentian pembangunan masjid. Dengan demikian, pembangunan memiliki dasar hukum untuk dilanjutkan.
Perkembangan hukum kembali terjadi pada 22 Januari 2025. Mengutip Yonhap News, Pengadilan Tinggi Daegu menjatuhkan hukuman denda masing-masing 4 juta won kepada dua warga yang terbukti menghalangi pekerjaan pembangunan dengan memarkir kendaraan di sekitar proyek sebanyak 30 kali pada 2021.
Kasus Daehyeon-dong memperlihatkan kompleksitas persoalan pembangunan rumah ibadah di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang budaya dan keyakinan berbeda.
Perbedaan kepentingan warga dalam persoalan lingkungan permukiman tetap dapat disampaikan melalui dialog dan jalur hukum.
Namun, penghormatan terhadap martabat manusia dan kebebasan menjalankan agama menjadi bagian penting yang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan masyarakat multikultural.
Editor – Ray
Sumber kutipan dan verifikasi
Berikut sumber asli yang dapat dijadikan rujukan redaksi:
1. Muaz Razaq – Mahasiswa Muslim Universitas Nasional Kyungpook. Wawancara langsung oleh Lee Hyo-jin, The Korea Times, 3 Mei 2022.
Mosque construction triggers standoff in Daegu.
2. Muaz Razaq – Kesaksian mengenai kepala babi dan aksi memasak daging babi. Wawancara Choi Jae-hee, The Korea Herald, 11 November 2022.
Mosque project pits villagers against Muslims in Daegu.
3. Komite penolakan pembangunan masjid – Pernyataan bantahan. Dikutip Yonhap News, 2 Februari 2023.
Barbecue and pork-sharing event in Daegu mosque dispute.
4. Song Doo-hwan – Ketua National Human Rights Commission of Korea. Pernyataan resmi terkait kebencian dan diskriminasi, diberitakan Yonhap News, 16 Maret 2023.
NHRCK Chairperson urges end to hatred and discrimination.
5. National Human Rights Commission of Korea – Pernyataan resmi lembaga. Dipublikasikan 24 Maret 2023.
Chairperson’s Statement on the Mosque in Daegu.
6. Putusan Pengadilan Tinggi Daegu – 22 Januari 2025. Laporan Yonhap News mengenai hukuman terhadap dua warga yang menghalangi pembangunan.
Daegu mosque construction obstruction case.
Catatan redaksi: Kutipan berbahasa Inggris dan Korea dalam naskah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan mempertahankan maknanya.
Kutipan Song Doo-hwan merupakan terjemahan dari pernyataan berbahasa Korea yang diberitakan Yonhap.
Kutipan warga dan mahasiswa diberi atribusi sesuai media dan tanggal publikasi, bukan diklaim sebagai wawancara langsung redaksi.

I like the way the information is organized.\
1 November 2026 5:02 AM