Keadilan Dalam Rasisme di Kasus Hilda, Jangan Biarkan Prasangka Memutus Persaudaraan Bali-Lombok
- account_circle Admin
- calendar_month 10 jam yang lalu
- print Cetak

Hilda (kiri) dan Muammar Kaddafi (kanan), gambar foto mengandung rekayasa AI.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kasus Hilda menjadi pengingat bahwa perbedaan suku dan asal daerah tidak boleh menjadi alasan untuk membangun prasangka. Hubungan panjang masyarakat Bali dan Lombok dinilai menjadi pelajaran penting tentang persaudaraan dan keberagaman Indonesia.
DENPASAR — Kasus Hilda kembali memunculkan perbincangan mengenai persoalan diskriminasi dan sentimen rasial di tengah masyarakat. Peristiwa tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah dalam memastikan setiap warga diperlakukan setara tanpa melihat suku, asal daerah, maupun identitasnya.
Pandangan itu disampaikan tokoh politik Bali, Muammar Kaddafi, melalui unggahan di halaman Facebook pribadinya. Ia mengajak masyarakat tidak membiarkan satu peristiwa menghapus hubungan sosial yang telah terbangun antara masyarakat Bali dan Lombok selama berabad-abad.
“Kasus Hilda kembali mengingatkan kita bahwa Indonesia ternyata masih menyimpan pekerjaan rumah yang belum selesai.”
Menurut Muammar, kemerdekaan tidak semata-mata dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus tercermin dari kemampuan masyarakat menghormati manusia tanpa membedakan latar belakangnya.
“Di usia kemerdekaan yang ke-81, masih ada orang yang dinilai berdasarkan asal-usul, suku, atau identitasnya.”
Ia menilai hubungan Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) justru menunjukkan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi persaudaraan.
Selat Lombok memang memisahkan Bali dan Lombok secara geografis. Namun, menurut Muammar, sejarah kedua wilayah tersebut memperlihatkan hubungan masyarakat yang jauh lebih kuat daripada sekadar batas wilayah.
Hubungan itu berkembang melalui perdagangan, kebudayaan, bahasa, seni, pertanian hingga ikatan kekeluargaan. Jejak budaya Bali juga masih dapat ditemukan di sejumlah wilayah Lombok, sementara masyarakat asal NTB telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi Bali.
“Banyak warga NTB yang belajar, bekerja, membangun usaha, dan mengabdikan dirinya di Pulau Dewata. Mereka tidak datang sebagai orang asing, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang ikut berkontribusi dalam pembangunan.”
Karena itu, Muammar mengingatkan agar sebuah peristiwa tidak serta-merta dijadikan alasan untuk membangun jarak antarkelompok masyarakat.
“Satu peristiwa tidak boleh menghapus persahabatan yang telah dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun.”
Ia menegaskan, hubungan antarmasyarakat terbentuk melalui pengalaman hidup bersama dalam waktu panjang. Karena itu, persoalan yang bersifat individual maupun kasus tertentu semestinya tidak digeneralisasi menjadi sentimen terhadap kelompok masyarakat berdasarkan suku atau daerah asal.
Bhinneka Tunggal Ika dan Makna Kemerdekaan
Muammar juga mengaitkan persoalan tersebut dengan prinsip keberagaman yang menjadi fondasi Indonesia. Menurutnya, para pendiri bangsa memilih persatuan di tengah perbedaan sebagai dasar kehidupan bernegara.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang memiliki akar sejarah kuat di Bali melalui Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, dinilai tetap relevan untuk menjawab persoalan diskriminasi pada masa kini.
“Kita boleh berbeda suku. Kita boleh berbeda agama. Kita boleh berbeda adat dan bahasa. Namun, tidak ada satu pun perbedaan yang dapat menghapus kenyataan bahwa kita sama-sama warga negara Indonesia.”
Ia menilai pengalaman hubungan Bali dan Lombok seharusnya menjadi contoh bahwa perbedaan identitas tidak harus berujung pada perpecahan.
“Jangan biarkan prasangka melakukan sesuatu yang bahkan lautan pun tidak mampu melakukannya.”
Dalam momentum peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Muammar mengajak masyarakat melakukan refleksi mengenai makna kemerdekaan yang lebih substansial.
“Setelah 81 tahun merdeka, masihkah kita memandang sesama anak bangsa sebagai orang lain?”
Menurut dia, apabila diskriminasi berdasarkan suku, agama, maupun asal daerah masih terjadi, maka makna kemerdekaan perlu terus diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kemerdekaan sejati bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan untuk menghormati martabat manusia, apa pun suku, agama, dan asal daerahnya.”
Muammar menutup pandangannya dengan menempatkan hubungan Bali dan Lombok sebagai gambaran bahwa persaudaraan antarmasyarakat seharusnya lebih kuat daripada prasangka.
“Bali dan Lombok telah membuktikan bahwa persaudaraan selalu lebih kuat daripada prasangka.”
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar