Jaga Bhisama Radius Kesucian Pura Sakenan, KEK Kura-Kura Bali Pasti Rahayu
- account_circle Admin
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Kura-Kura Bali di Pulau Serangan terus berprogres sebagai proyek strategis pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali. Kawasan yang dikembangkan oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID) ini dirancang menghadirkan marina internasional, pusat pendidikan, fasilitas komersial, hingga ruang terbuka publik yang terintegrasi.
Di tengah geliat pembangunan tersebut, tokoh masyarakat, Anak Agung Gede Aryawan (Gung De), yang juga Sekretaris ARUN Bali, mengingatkan pentingnya menjaga Bhisama Kesucian Pura, khususnya radius kesucian Pura Sakenan.

Kanan yang hendak digali dan konon ceritanya alat beratnya patah dan lengserlah Soeharto kemudian tidak jadi dilanjutkan membikin jembatan.
“Waktu saya kecil dan remaja sering main disini (areal laut Desa Serangan), ” Ucapnya, Selasa 3 Maret 2026.
Menurutnya, proyek sebesar apa pun di Bali wajib menghormati tatanan adat dan spiritual.
“Jika Bhisama radius kesucian pura dijaga dengan sungguh-sungguh, saya yakin proyek KEK Kura-Kura Bali akan berjalan baik dan rahayu,” ujarnya dalam pernyataan kepada awak media.
Bhisama dan Radius Kesucian
Bhisama Kesucian Pura merupakan pedoman adat umat Hindu Bali yang mengatur batas kesucian pura dan ruang di sekitarnya. Aturan ini menjadi rujukan penting dalam pembangunan agar tidak mengganggu nilai sakral, aktivitas upacara, maupun keseimbangan spiritual kawasan.

Sebagai salah satu pura penting di Bali, Pura Sakenan memiliki nilai historis dan religius tinggi bagi masyarakat Serangan dan umat Hindu secara luas. Setiap pengembangan kawasan di sekitarnya dinilai harus memperhatikan ketentuan radius kesucian tersebut.
Cerita Lokal yang Beredar
Di masyarakat Serangan juga beredar cerita turun-temurun yang kerap dikaitkan dengan awal pengembangan kawasan tersebut pada masa lalu. Konon, saat dilakukan penggalian kanal untuk memisahkan wilayah Desa Serangan dan area pengembangan BTID, alat berat yang digunakan sempat patah, dan mereka tidak bisa melanjutkan pengerjaan kanal sampai ke sisi sebelah lainnya arah laut dekat Pura Sakenan.

Kanal belum terselesaikan.
Sebagian warga kala itu mengaitkannya dengan pertanda spiritual, bahkan dikisahkan bertepatan dengan masa runtuhnya pemerintahan Presiden Soeharto.
Cerita tersebut berkembang sebagai narasi mistik lokal dan menjadi pengingat simbolik bagi sebagian masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan kesucian wilayah adat. Namun demikian, kisah itu tidak tercatat dalam dokumen resmi maupun laporan teknis proyek.
Pesan untuk Harmoni
Gung De menegaskan, pesan yang ingin disampaikan bukanlah penolakan terhadap pembangunan, melainkan ajakan untuk selalu mengingat nilai spiritual Bali.
“Dumogi Ida Sesuhunan memargi antar pesan, agar setiap langkah pembangunan tetap menghormati wilayah kesucian. Bali dibangun bukan hanya dengan beton dan investasi, tetapi juga dengan adat dan restu spiritual,” tuturnya.

Ia berharap pengembang, pemerintah, dan masyarakat dapat berjalan beriringan menjaga harmoni.
Dengan begitu, KEK Kura-Kura Bali tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tetap berpijak pada kearifan lokal dan nilai kesucian yang diwariskan leluhur.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar