Breaking News
light_mode

Indonesia Dibilang Makmur, Anak Kecil Masih Tidur di Jalan! Slogan Belaka?

  • account_circle Admin
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah gaung Indonesia berdaulat, adil, dan makmur, pemandangan anak kecil yang masih tidur di jalan menjadi tamparan bahwa kesejahteraan belum dirasakan semua warga.

DENPASAR — Slogan tentang Indonesia yang makmur kembali menggema setiap momentum perayaan kemerdekaan.

Namun, di balik pidato, spanduk, dan seremoni kebangsaan, masih ada pemandangan yang menyisakan pertanyaan besar: bagaimana mungkin Indonesia disebut makmur jika masih ada anak-anak yang harus menghabiskan malam di jalan?

Pemandangan anak kecil tidur di trotoar, emperan toko, ruang publik, maupun sudut-sudut jalan bukan sekadar persoalan pemandangan kota. Kondisi tersebut menjadi cermin persoalan sosial yang jauh lebih dalam, mulai dari kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, persoalan keluarga, hingga lemahnya perlindungan terhadap kelompok rentan.

Kajian mengenai anak jalanan menunjukkan bahwa sebagian anak menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan untuk bekerja, mengemis, mengamen, atau bertahan hidup. Bahkan, ada yang menjadikan ruang publik sebagai tempat beristirahat dan tidur.

Ironisnya, kondisi tersebut berlangsung ketika narasi tentang kesejahteraan masyarakat terus dikedepankan.
Indonesia pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun 2026 mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tema itu semestinya tidak berhenti sebagai rangkaian kata dalam baliho, pidato pejabat, maupun seremoni tahunan.

Sebab, ukuran kemakmuran bukan hanya gedung tinggi, pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau ramainya pusat perbelanjaan.

Kemakmuran juga seharusnya terlihat dari kemampuan negara memastikan anak-anak mendapatkan tempat tinggal yang layak, makanan yang cukup, pendidikan, kesehatan, serta perlindungan.

Ketika seorang anak masih tidur di jalan, publik berhak bertanya apakah pembangunan benar-benar telah menjangkau kelompok paling rentan.

Persoalan anak jalanan bukan fenomena baru. Berbagai kajian dan pemberitaan sebelumnya juga menunjukkan bahwa kemiskinan dan keterbatasan ekonomi menjadi salah satu faktor yang mendorong anak berada di jalan.

Anak-anak dalam kondisi tersebut bahkan rentan kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak dan menghadapi berbagai bentuk eksploitasi.

Karena itu, persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan menertibkan mereka dari jalan.

Jika anak-anak hanya dipindahkan dari satu sudut kota ke sudut lainnya tanpa menyentuh akar persoalan, maka masalah yang sama akan terus berulang.

Negara membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari pendataan, perlindungan anak, intervensi keluarga, akses pendidikan, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga.

Di titik inilah slogan “Indonesia makmur” seharusnya diuji.

Kemakmuran tidak boleh hanya menjadi kalimat indah yang muncul setiap Agustus. Kemakmuran harus bisa dirasakan oleh mereka yang paling lemah dan paling mudah terpinggirkan.

Anak yang tidur di jalan tidak membutuhkan slogan. Mereka membutuhkan tempat yang aman untuk tidur, makanan, pendidikan, perlindungan, dan masa depan.

Jika kebutuhan paling dasar itu saja belum terpenuhi, maka pertanyaan tentang makna kemakmuran Indonesia bukanlah sebuah sindiran berlebihan. Justru menjadi pertanyaan yang layak dijawab secara serius oleh negara.

Sebab, sebuah bangsa tidak hanya dinilai dari seberapa megah pembangunan yang berhasil didirikan, tetapi juga dari bagaimana negara memperlakukan anak-anak yang tidak memiliki tempat untuk pulang.

Dan selama masih ada anak kecil yang menjadikan jalan sebagai tempat tidur, kata “makmur” tidak boleh sekadar menjadi slogan.

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kejagung Pulihkan Rp19,6 Triliun ke Kas Negara, Fokus Kejar Aset Hasil Kejahatan

    Kejagung Pulihkan Rp19,6 Triliun ke Kas Negara, Fokus Kejar Aset Hasil Kejahatan

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) terus memperkuat upaya pemulihan kerugian negara melalui penelusuran, perampasan, dan pengelolaan aset hasil tindak pidana. Sepanjang 2025, lembaga tersebut berhasil mengembalikan dana sebesar Rp19,6 triliun ke kas negara. Kepala Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan Agung, Kuntadi, mengatakan paradigma penegakan hukum kini tidak lagi hanya berfokus pada penghukuman pelaku kejahatan, tetapi […]

  • “Burung Bau Neraka” dari Zaman Purba, Hoatzin! Fosil Hidup yang Mengguncang Logika Evolusi

    “Burung Bau Neraka” dari Zaman Purba, Hoatzin! Fosil Hidup yang Mengguncang Logika Evolusi

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    DENPASAR – Di tengah lebatnya hutan hujan Amazon, hidup seekor burung yang bukan sekadar aneh, tetapi menampar keras pemahaman manusia tentang evolusi modern. Namanya Hoatzin (Opisthocomus hoazin), makhluk bersayap yang dijuluki ilmuwan dan peneliti sebagai “burung bau neraka”—bukan tanpa alasan. Hoatzin bukan burung biasa. Tubuhnya menguarkan bau busuk menyengat seperti kotoran sapi, aroma menjijikkan yang […]

  • Mantan Jro Bendesa Adat Serangan Dilaporkan ke Polda Bali

    Mantan Jro Bendesa Adat Serangan Dilaporkan ke Polda Bali

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 12Komentar

    DENPASAR – Dugaan penggelapan dana penjualan tanah adat mengguncang Desa Adat Serangan. Seorang mantan Jro Bendesa Adat Serangan resmi dilaporkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Bali atas dugaan penggelapan dana hasil penjualan aset tanah adat senilai Rp4,5 miliar. Laporan tersebut tercatat dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan (STTLP) Nomor STTLP/B/37/I/2026/SPKT/POLDA BALI tertanggal 13 Januari 2026, yang diterbitkan […]

  • Dermatolog Asia Bersatu di Bali, PERDOSKI Siap Usung Indonesia Jadi Tuan Rumah Kongres Dunia 2031 Play Button

    Dermatolog Asia Bersatu di Bali, PERDOSKI Siap Usung Indonesia Jadi Tuan Rumah Kongres Dunia 2031

    • calendar_month Kamis, 10 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    BADUNG, 10 Juli 2025 — Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XX PERDOSKI 2025 dan 1st PAN Asia Conference of Dermatology resmi digelar di Bali dengan dihadiri lebih dari 2.000 peserta dari berbagai negara. Forum berskala internasional ini menjadi momentum strategis bagi para dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika (DVE) untuk memperkuat peran mereka di tingkat regional […]

  • Korban Cabut Laporan, Dua Pelaku Tempuh Restorative Justice di Gianyar

    Korban Cabut Laporan, Dua Pelaku Tempuh Restorative Justice di Gianyar

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    Dua korban dan dua terlapor kasus dugaan penganiayaan sepakat berdamai, mencabut laporan polisi, serta menyelesaikan persoalan melalui mekanisme keadilan restoratif. GIANYAR, BALI — Kasus dugaan penganiayaan yang ditangani Polres Gianyar memasuki babak baru setelah dua korban dan dua pihak yang dilaporkan sebagai pelaku sepakat mengakhiri persoalan secara damai. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Surat Perdamaian dan […]

  • Lebih Terkutuk dari Merusak Alam! Pendidikan Curang Hancurkan Generasi Bali

    Lebih Terkutuk dari Merusak Alam! Pendidikan Curang Hancurkan Generasi Bali

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    DENPASAR – Di tengah berbagai wacana spiritual tentang kutukan terhadap perusak alam Bali, terselip satu kenyataan yang lebih gelap dan nyaris tak tersentuh yakni kehancuran moral dan keadilan dalam sistem pendidikan. Pengamat sosial-politik Bali, Anak Agung Gede Agung Aryawan, melontarkan kritik pedas terhadap kondisi pendidikan saat ini yang dinilai telah menyimpang jauh dari nilai-nilai keadilan […]

expand_less