Breaking News
light_mode

Dari Bencana ke Bencana

  • account_circle Ray
  • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Ichsanuddin Noorsy

JAKARTA – Sejurus kekalahan Al Gore (Capres AS dari Partai Demokrat) melawan George W Bush (Capres AS dari Partai Republik) pada Pemilu Presiden AS November 2004, dunia disajikan isu perubahan iklim. Sebagai “hiburan” atas kekalahannya, Al Gore mendapat hadiah untuk berkampanye _An Unconvenient the Truth_ ke sepenjuru dunia. Propaganda ini menguraikan bahwa masyarakat internasional menghadapi perubahan iklim global yang nyaris tak terelakkan.

Sebenarnya hal itu bukan sekadar perubahan iklim fisik. Gagas perubahan itu berjalan sesuai dengan dogma Tatanan Dunia Baru (New World Order) yang mengemuka saat Woodrow Wilson (Partai Demokrat) menjadi Presiden AS ke 28 (1913-1921). Saat itu diksinya _League of Nations_. Lalu melalui konferensi Bretton Woods 1944, tema tatanan dunia baru ini memosisikan AS sebagai pemimpin dunia. Tentu karena AS sebagai pemimpin sekutu telah memenangkan PD II. Lalu PBB, Bank Dunia, IMF, dan WTO (GATT) pun cuma lembaga untuk menjalankan dan menjaga kepentingan AS. Inilah perubahan sistem menjadi multilateral.

Seiring dengan bubarnya Uni Soviet pada Desember 1991 dan runtuhnya tembok Berlin, AS menebar _war on terror_ paska “serangan” gedung kembar 11 September 2001. Usai “memerangi terorisme” itu, AS menegaskan kepemimpinan dunianya dalam Strategi Keamanan Nasional AS (NSS of US), 17 September 2002 (Lih: Ichsanuddin Noorsy, _Bangsa Terbelah_, 2019; _Prahara Bangsa_, 2024). Hingga Juli 2008, hegemoni AS itu telah memberi dampak perubahan ekosistem global. Dunia sebagian besar dalam genggaman geopolitik AS. Terutama karena kekuatan militer, dominasi dolar AS, dan penguasaan teknologi dalam percaturan ekonomi global. Dengan _Make America Great Again_ di bawah Donald J Trump (Partai Republik) sebagai POTUS ke 47 dan 49 hegemoni hendak dipertahankan dan dilanjutkan walau saat senja dominasi itu tak dapat ditunda.

Melalui kebutuhan akan investasi asing demi pertumbuhan ekonomi, Indonesia adalah negara yang menerima perencanaan dan pelaksanaan perubahan iklim geopolitik itu. _Pertama_, Indonesia menerima rancangan UU No. 1/1967 yang dibuat Kementerian Luar Negeri AS pada akhir Desember 1966. Lalu menjadi UU Penanaman Modal Asing pada 10 Januari 1967. Di sekitar tahun 1984-an Indonesia juga mengunyah renyah kebijakan _Washington Consensus_. Kebijakan yang diluncurkan era Reagan dan Thatcher dan dikenal dengan neoliberalisme ini, “dikunyah” nikmat oleh barisan Widjojo Nitisastro hingga ke Purbaya Yudi Sadewa. Sukses meluluh lantakkan kepercayaan diri bangsa melalui pukulan nilai tukar rupiah, para elit Indonesia tanpa berpikir panjang, mendalam, dan bijaksana telah mereformasi sistem bernegara. Mereka mengubah UUD 1945 menjadi UUD NRI 1945 (UUD 2002).

Perubahan tersebut menerapkan totalitas liberalisme. Maka akar budaya kebersamaan (gotong royong) dicabut secara konstitusional. Sistem politik ketatanegaraan yang tidak berkiblat ke Barat dan ke Timur pun dikubur. Ini terjadi setelah Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dan Gubernur BI Sudradjat Djiwandono menerima titah lembaga multilateral agar rupiah dilepas ke pasar bebas (_free floating exchange rate_) pada Agustus 1997. Lalu setelah usai mengubah UUD 1945 pada 1999-2002, Indonesia pun melaksanakan pemilu liberal pada 2004.

_Kedua_, Indonesia mendapat bencana nasional melalui Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 yang mengundang simpati internasional. Sebelum Tsunami Aceh terjadi, berlangsung bom di Kedubes Australia Jalan Kuningan pada 9 September 2004. Bom ini seakan memberi pesan kepada bangsa dan negara agar hasil Pemilu 2004 diterima. Setelah itu setiap bencana alam dipandang sebagai gejala alam. Sementara setiap bencana sosial, politik, dan bencana ekonomi dinilai karena dunia yang memang mengalami turbulensi. Kondisi volatile, uncertain, complex, dan ambigou (VUCA) yang terus bergelombang adalah penyebabnya. Bencana alam global pun tak terhindarkan. Sementara bencana sosial, politik, dan ekonomi sebagai ungkapan lain dari VUCA menghidangkan kondisi FLUX (_fastest, liquid, uncharter, experiment_). Yakni badai yang mengkuatirkan tragedi kemanusiaan, atau arus air tenang yang menghanyutkan ke lautan. Itulah yang terjadi sejak bencana Covid-19 hingga menggelembungnya saham pada perusahaan pengembang _Artificial Intelligence_ bersamaan dengan melambungnya harga emas dan perak. Ya, ini bencana dari pergumulan AS melawan RRC di segala bidang sejak kalahnya Washington melawan Beijing pada perang dagang 2008.

Di banyak negara yang sekuler dan menerapkan demokrasi liberal, bencana alam dan bencana sosial politik ekonomi dipandang berdiri sendiri-sendiri. Padahal saat kita memahami bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, maka bencana alam, apa pun bentuknya, adalah teguran keras bagi perilaku manusia yang durjana. Teori kelangkaan sumberdaya dan permintaan yang meningkat karena bertambahnya jumlah penduduk, membenarkan terjadinya perebutan sumberdaya. Di balik ini, keserakahan, ketidak jujuran, dan keangkuhan, lalu kebanggaan akan kekayaan dan kekuasaan merupakan bagian yang utuh. Mereka memburu dunia. Padahal dunia adalah bangkai binatang belaka.

Disebabkan tidak terbebasnya masyarakat Indonesia dari ketertindasan, kebodohan dan kemiskinan, ketimpangan dan kehinaan, maka berbagai bencana tersebut membuat sebagian besar masyarakat Indonesia abai bahwa telah terjadi kudeta senyap dan perubahan penguasaan berbagai sumberdaya daya dari negara ke korporasi. Akar masalahnya adalah penghianatan dan pengasingan diri terhadap amanah Pembukaan UUD 1945 yang dilakukan pemegang kuasa politik, penguasa bisnis, kelompok teknokrat dan birokrat, para penegak hukum, kaum intelektual, tokoh pers dan masyarakat. Sikap mereka merupakan hasil kaderisasi dari berkiblat ke Barat tanpa memahami dan mendalami UUD 180845. Karena air mengalir dari atas ke bawah, maka sebagian besar bangsa Indonesia pun ikut menghianati Pancasila dan mengasingkan diri dari janji suci Pembukaan UUD 1945. Perang nir militer ini pun disertai perang informasi. Sehingga masyarakat Indonesia umumnya tidak merasakan kekalahan dalam peperangan itu sebagai ketertundukan. Demikianlah kudeta korporasi sehingga saya menulis artikel bertajuk _Siapapun Presidennya, Neoliberal Penguasanya_ (Lih: Ichsanuddin Noorsy, _Kita Belum Merdeka_, 2009: _Selamat Datang di Negeri Amburadul_, 2009).

Itulah bencana moral, mental, dan intelektual para elit Indonesia. Rakyat mengikutinya karena berbagai alasan. Karena ragam bencana besar gagal menyadarkan para elit, jangan terkejut jika bencana demi bencana akan terjadi lagi. Mampukah kita mengatasinya? Waktu yang akan menjawabnya.

#innsy#

Bandung, 31 Des 2025

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (1)

  • Denese

    hi!,I llike your writkng very sso much! share we bee inn contact extra ahout your artice
    oon AOL? I require a specxialist inn tis spce tto resolvbe myy problem.
    Mayy be that’s you! Taking a look agead tto per you.

    My web-site; xxx

    Balas25 Mei 2026 11:39 AM

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jurnalisme Harus Melawan, Zainal Arifin Mochtar: Jangan Biarkan Ingatan Bangsa Dihapus

    Jurnalisme Harus Melawan, Zainal Arifin Mochtar: Jangan Biarkan Ingatan Bangsa Dihapus

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    Zainal menilai jurnalisme memiliki tanggung jawab menjaga ingatan korban, mengawasi kekuasaan, sekaligus membangun imajinasi tentang Indonesia yang lebih demokratis. JAKARTA – Guru Besar Hukum Kelembagaan Negara Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Zainal Arifin Mochtar, menyerukan agar jurnalisme kembali memainkan peran kritisnya sebagai penjaga ingatan publik sekaligus kekuatan yang berani membayangkan masa depan […]

  • Hasto Kristiyanto Terima Padma Dharma Sandhi, Simbol Politik yang Merajut Perbedaan

    Hasto Kristiyanto Terima Padma Dharma Sandhi, Simbol Politik yang Merajut Perbedaan

    • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    Nyoman Tirtawan Dorong Bandara Induk Pariwisata Nusantara untuk Memperkuat Akses Wisata dan Membuka Pusat Pertumbuhan Baru di Indonesia GIANYAR – Hasto Kristiyanto seorang politikus yang juga merupakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebuah partai besar di Indonesia, bertandang ke Puri Ageng Blahbatuh, Gianyar, menerima Lencana Padma Dharma Sandhi, 30 Agustus 2026. Lencana […]

  • Doa dari Bali Utara untuk Nusantara! Ketika Para Penglingsir, Sulinggih, dan Tokoh Lintas Iman Menyatukan Harapan Bangsa

    Doa dari Bali Utara untuk Nusantara! Ketika Para Penglingsir, Sulinggih, dan Tokoh Lintas Iman Menyatukan Harapan Bangsa

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Ray
    • 18Komentar

    KUBUTAMBAHAN– Sabtu pagi, 17 Januari 2026, Pura Penyusuan (Puseh Penegil Dharma) di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, tak sekadar menjadi tempat persembahyangan. Pura ini menjelma ruang perjumpaan kesadaran kolektif, tentang alam, tentang keseimbangan, dan tentang masa depan Indonesia. Sejak pukul 10.00 WITA, doa-doa dipanjatkan dalam sebuah peristiwa bertajuk “Doa Bersama untuk Negeri, dari Bali Utara untuk Nusantara.” […]

  • Realitas Pahit Kolonisasi Mental, Lima Penyebab Jatuhnya Rupiah

    Realitas Pahit Kolonisasi Mental, Lima Penyebab Jatuhnya Rupiah

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Ray
    • 4Komentar

    Ichsanuddin Noorsy JAKARTA — Ekonom sekaligus pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy, menilai pelemahan nilai tukar rupiah bukan semata-mata dipengaruhi faktor pasar dan kondisi global, melainkan akibat persoalan struktural yang telah lama mengakar dalam sistem ekonomi Indonesia. Dalam tulisannya bertajuk “Realitas Pahit Kolonisasi Mental, Lima Penyebab Jatuhnya Rupiah”, Ichsanuddin mengulas perjalanan rupiah sejak dilepas ke mekanisme […]

  • Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga, Kompos Berlimpah Bisa Didistribusikan ke Petani

    Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga, Kompos Berlimpah Bisa Didistribusikan ke Petani

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Budi Susilawarsa
    • 7Komentar

    Denpasar — Sekretaris DPD Partai NasDem Kota Denpasar, A.A. Putu Sugiartha, ST, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah organik rumah tangga dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti bag composter, teba modern, tong edan, maupun komposter rumah tangga lainnya. Namun demikian, setelah proses pengolahan selesai dan kompos dihasilkan, masyarakat kerap mengalami kebingungan dalam pemanfaatannya. Pasalnya, jumlah kompos yang […]

  • Gunung Semeru Naik ke Level III Siaga usai Erupsi Besar, Awan Panas Meluncur 8,5 Km

    Gunung Semeru Naik ke Level III Siaga usai Erupsi Besar, Awan Panas Meluncur 8,5 Km

    • calendar_month Rabu, 19 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 5Komentar

    LUMAJANG – Aktivitas Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, meningkat drastis setelah terjadi erupsi besar pada Rabu (19/11) pukul 14.13 WIB. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyampaikan kepada CNNIndonesia.com bahwa status gunung berapi tertinggi di Jawa itu resmi dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada pukul […]

expand_less