BTID Serahkan 10 Teba Modern ke Pasar Desa Adat Serangan, Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas
- account_circle Admin
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar, Bali – PT Bali Turtle Island Development (BTID) menyerahkan 10 unit Teba Modern kepada Pasar Desa Adat Serangan sebagai upaya konkret memperkuat pengelolaan sampah berbasis sumber di tingkat komunitas. Dukungan ini diharapkan mampu mendorong tata kelola sampah yang lebih tertib, ramah lingkungan, serta selaras dengan kearifan lokal masyarakat setempat.
Penyerahan bantuan dilakukan pada 21 Februari 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen BTID selaku Badan Usaha Pengelola dan Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang mandiri di Pulau Serangan.

Sebelumnya, pada 2025, melalui gerakan “Serangan Bersinar (Bersih, Indah dan Asri)”, BTID juga telah menyalurkan 19 unit Teba Modern kepada Desa Serangan. Program ini menjadi bagian dari strategi berkelanjutan perusahaan dalam mendukung kebersihan dan kelestarian lingkungan kawasan.
Teba Modern merupakan pengembangan dari konsep teba atau lubang sampah tradisional yang dimodifikasi menjadi sarana pengomposan organik alami. Melalui metode ini, volume sampah organik dapat ditekan sekaligus menghasilkan kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanaman.
Kepala Pasar Desa Adat Serangan, I Wayan Suwarjaya, menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut. Menurutnya, keberadaan Teba Modern membantu mendorong kedisiplinan pedagang dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.
“Saya ucapkan terima kasih kepada BTID yang telah membantu pasar Desa Adat Serangan dengan memberikan Teba Modern ini. Dengan adanya teba, kami bisa memilah sampah. Sampah organik dibuang ke teba, sedangkan yang non-organik dapat dijual ke bank sampah di Serangan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Badan Pengawas Pasar Desa Adat Serangan, I Made Warse. Ia menilai bantuan tersebut berdampak positif terhadap perubahan perilaku pedagang dalam mengelola sampah.
“Dengan adanya Teba Modern ini, pedagang pasar sedikit demi sedikit semakin disiplin dalam mengolah sampah mereka,” katanya.
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, menegaskan bahwa pasar tradisional bukan hanya ruang transaksi ekonomi, tetapi juga dapat menjadi pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat.
“Kami percaya solusi lingkungan yang berkelanjutan selalu berakar dari inisiatif masyarakat. Peran BTID adalah mendukung agar penggunaan Teba Modern di pasar ini terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Bali,” ujarnya.
Selain pengelolaan sampah organik melalui Teba Modern, pedagang juga dapat menyalurkan sampah plastik dan kertas ke bank sampah setempat untuk dikonversi menjadi saldo rupiah. Skema ini tidak hanya memperkuat rantai pengelolaan sampah, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi pedagang.
Salah satu pedagang, Darmi, mengaku inisiatif tersebut membawa manfaat nyata bagi kebersihan pasar. Ia berharap kolaborasi antara Pasar Desa Adat Serangan dan BTID dapat terus berlanjut dalam jangka panjang.
Kolaborasi ini sekaligus menegaskan komitmen KEK Kura Kura Bali dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang inklusif di Pulau Serangan. Sinergi antara kearifan lokal dan pendekatan modern diharapkan mampu menciptakan lingkungan pasar yang lebih bersih, tertib, dan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
Editor – Ray

casino on net
References:
3 Maret 2026 10:43 AMbatataistem.com.br