Pelangi Setelah Hujan, Catatan Kehidupan dari Negeri Sakura
- account_circle Admin
- calendar_month 19 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Dari Negeri Matahari Terbit, tempat hamparan bunga sakura bermekaran, Dai Nippon (Jepang), saya mengawali coretan sederhana ini:
“Niji no Kagayaki, Niji ga genki ni afurete iru”
— Pelangi yang berkilau, pelangi yang memberi semangat.
Sebagian besar dari kita tentu merasa bahagia saat melihat pelangi. Warnanya lembut, indah, dan menenangkan. Namun, pelangi bukanlah sesuatu yang mudah dijumpai. Ia hanya hadir setelah hujan, dan bahkan tidak setiap hujan menghadirkannya. Di sanalah tersimpan pelajaran hidup yang begitu dalam.
Hujan lebat sering kali membawa masalah: rumah bocor, banjir, kemacetan, hingga datangnya penyakit. Namun, ketika pelangi muncul, seolah seluruh kegelisahan itu sirna. Rasa resah dan gundah berubah menjadi kekaguman yang menenangkan hati.
Begitulah kehidupan kita. Saat dilanda masalah, kita kerap kehilangan kemampuan untuk melihat sisi baik. Hati dipenuhi kecemasan, keluh kesah, bahkan amarah yang tak terbendung. Namun, ketika semua itu telah berlalu, kita mulai melihat makna di baliknya. Kita menoleh ke belakang, tersenyum, bahkan mampu tertawa dengan lapang.
Masalah sejatinya adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Tanpanya, hidup kehilangan makna. Setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk bahagia, tetapi juga memiliki “musim hujan” — masa penuh ujian dan rintangan. Di situlah proses pendewasaan terjadi, membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana.
Karena itu, tetaplah berpikir jernih dan positif saat masalah datang menyapa. Percayalah, semua akan berganti menjadi kebaikan, sebagaimana pelangi yang hadir setelah hujan sebagai anugerah Ida Hyang Parama Wisesa.
Sesungguhnya, setiap orang memiliki pelangi dalam hidupnya. Maka, setiap orang pun memiliki musim hujannya. Ketika badai datang, ingatlah bahwa kita sedang menanti pelangi — warna-warni kehidupan yang indah, yang memang telah menjadi bagian dari takdir kita.
Tulisan ini menjadi pengingat untuk terus belajar dari kehidupan, mengambil hikmah, membangun optimisme, dan bangkit kembali dengan energi baru. Menjadi pribadi yang lebih tangguh dalam menjalani dan mensyukuri setiap proses kehidupan.
Di penghujung tulisan ini, saya mengutip bait lagu Latin lawas yang sarat makna:
“Oye Como Va, Vaya Con Dios”
Dengarkanlah bagaimana hidupmu berjalan, tetaplah melangkah, karena pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Tuhan.
– I Nyoman Sukataya (Man Tayax) —

Saat ini belum ada komentar