Breaking News
light_mode

Pimpin FAJI Bali, I Wayan Suweca Bidik Dua Emas PON dan Revitalisasi Organisasi

  • account_circle Admin
  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Usai raih 12 medali di Kejurnas 2026, FAJI Bali siapkan regenerasi atlet, aktifkan kepengurusan kabupaten/kota, dan kembangkan sungai sebagai destinasi olahraga serta pariwisata.

BADUNG — Ketua Umum Pengurus Provinsi Federasi Arung Jeram Indonesia (Pengprov FAJI) Bali periode 2026–2030, I Wayan Suweca, S.T., menargetkan peningkatan prestasi atlet sekaligus pembenahan organisasi di seluruh Bali. Salah satu sasaran utamanya adalah meloloskan atlet Bali ke Pekan Olahraga Nasional (PON) dan meraih minimal dua medali emas.

Suweca resmi terpilih kembali melalui Musyawarah Daerah Provinsi (Musdaprov) FAJI Bali yang berlangsung di Hotel Made Bali, Kabupaten Badung, Minggu (18/10/2026).

Dalam kepemimpinannya, Suweca menekankan pentingnya menghidupkan kembali kepengurusan yang tidak aktif serta memastikan setiap pengurus kabupaten/kota memiliki program kerja tahunan yang benar-benar dijalankan.

“Di periode 2026–2030 ini, banyak hal yang harus kita sempurnakan. Pengurus yang tidak aktif akan kita aktifkan kembali. Saya juga ingin program kerja tahunan harus ada dan benar-benar dilaksanakan oleh masing-masing pengurus kabupaten/kota. Jangan sampai organisasi ini hanya dijadikan pajangan saja,” tegas Suweca.

Ia menilai pembenahan organisasi menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kualitas pembinaan atlet. Program latihan harus berjalan konsisten agar atlet Bali mampu bersaing dalam berbagai kejuaraan, terutama menghadapi agenda kompetisi besar pada 2027.

Suweca menyebut terdapat tiga agenda yang menjadi perhatian utama, yakni Kejuaraan Nasional (Kejurnas) pada Juli 2027, Babak Kualifikasi PON pada Agustus 2027, serta Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali pada September 2027.

“Kita harus memastikan atlet berlatih secara rutin, minimal satu kali dalam seminggu. Tiga agenda besar pada 2027 itu menjadi pekerjaan rumah bagi kita. Karena itu, persiapan harus dilakukan sejak sekarang,” ujarnya.

Target Dua Emas dan Regenerasi Atlet

Optimisme FAJI Bali bertumpu pada hasil Kejurnas Arung Jeram ke-21 yang berlangsung pada 23–28 September 2026 di Sungai Ayung, kawasan Bongkasa, Kabupaten Badung. Dalam kejuaraan tersebut, kontingen Bali meraih tiga medali emas, lima perak, dan empat perunggu.

Capaian itu menjadi modal untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan, prestasi pada kejuaraan berikutnya. Namun, Suweca menegaskan bahwa target jangka panjang bukan sekadar mempertahankan perolehan medali, melainkan meningkatkan daya saing atlet Bali di tingkat nasional.

“Mudah-mudahan prestasi di Kejurnas berikutnya bisa kita pertahankan, bahkan lebih baik lagi. Kemudian, pada babak kualifikasi kita bisa lolos ke PON. Saat PON nanti, target kita minimal dua medali emas untuk kontingen Bali,” katanya.

Untuk mencapai target tersebut, FAJI Bali juga akan memperkuat regenerasi atlet, khususnya melalui penjaringan bibit muda dari kalangan pelajar. Menurut Suweca, sekolah dapat menjadi salah satu basis penting untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam olahraga arung jeram.

Ia berharap arung jeram dapat diperkenalkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. Selain memperluas kesempatan berolahraga, langkah ini diharapkan menjadi jalur pembinaan atlet sejak usia dini.

“Saya ingin arung jeram bisa diterapkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di masing-masing sekolah. Dengan begitu, kita bisa menjaring atlet-atlet baru dan menyiapkan regenerasi sejak awal,” ungkapnya.

Suweca menjelaskan, sekitar 100 atlet yang dimiliki saat ini merupakan bagian dari perkembangan pembinaan yang sebelumnya juga banyak melibatkan kalangan pelajar. Ia berharap semakin dikenalnya olahraga ini dapat memperbesar basis atlet potensial di Bali.

Perluas Kepengurusan hingga Bangli dan Jembrana

Selain pembinaan atlet, FAJI Bali berupaya memperluas jangkauan organisasi hingga seluruh kabupaten/kota. Suweca menyebut Bangli dan Jembrana masih menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan kepengurusan.

Menurutnya, Bangli telah menyampaikan keinginan untuk segera membentuk atau memperkuat kepengurusan FAJI. Sementara itu, Jembrana dinilai memiliki potensi sungai yang layak dieksplorasi untuk olahraga arung jeram.

“Bangli sudah meminta agar segera ditindaklanjuti. Untuk Jembrana, saya juga sudah melihat langsung kondisi sungainya. Airnya bagus untuk arung jeram, tetapi olahraga ini belum populer di sana,” jelasnya.

Ia menilai pengembangan arung jeram tidak seharusnya hanya berpusat di kawasan Sungai Ayung. Bali memiliki sejumlah sungai yang berpotensi dikembangkan sebagai lokasi latihan, kompetisi, sekaligus daya tarik wisata berbasis olahraga.

Suweca mencontohkan tingginya aktivitas wisata arung jeram di Sungai Ayung yang menurutnya dapat menjadi referensi bagi daerah lain. Ia menyebut jumlah wisatawan di kawasan tersebut bisa mencapai lebih dari 5.000 orang per hari.

“Kalau di Sungai Ayung saja setiap hari bisa lebih dari 5.000 tamu, kenapa sungai-sungai lain tidak kita kembangkan? Kita perlu mempopulerkan arung jeram sebagai olahraga terlebih dahulu. Ketika minat generasi muda tumbuh dan fasilitasnya berkembang, potensi pariwisatanya juga bisa mengikuti,” katanya.

Arung Jeram Bukan Olahraga Mahal

Menanggapi anggapan bahwa arung jeram merupakan olahraga mahal, Suweca berpandangan bahwa persoalan utamanya justru terletak pada tingkat popularitas dan pola pemanfaatannya.

Menurutnya, arung jeram tidak memerlukan gedung khusus untuk berlatih karena dapat memanfaatkan bentang alam yang tersedia. Sungai menjadi sarana utama yang dapat digunakan untuk pembinaan atlet sekaligus pengembangan kegiatan olahraga.

“Kalau dibilang olahraga ini mahal, sebenarnya mahalnya di mana? Arung jeram tidak membutuhkan gedung untuk berolahraga ataupun peralatan modern seperti cabang olahraga tertentu. Kita memanfaatkan alam yang ada di Bali, termasuk Sungai Ayung,” ujarnya.

Ia menilai, selama ini sungai-sungai di Bali lebih dikenal sebagai lokasi kegiatan wisata. Melalui pembinaan yang terencana, pemanfaatannya dapat diperluas untuk melahirkan atlet berprestasi sekaligus mendukung pengembangan destinasi baru.

Suweca juga menyoroti potensi sungai di Jembrana dan kawasan Singaraja yang pernah ditinjaunya. Ia berharap pengembangan olahraga arung jeram dapat berjalan beriringan dengan promosi pariwisata dan memberikan dampak ekonomi bagi daerah.

Menurutnya, meningkatnya minat masyarakat terhadap arung jeram berpotensi mendorong aktivitas ekonomi lokal dan membuka peluang peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), sepanjang pengembangannya dilakukan dengan memperhatikan keselamatan, kelestarian lingkungan, serta tata kelola wisata yang baik.

Dengan kepengurusan baru, FAJI Bali dihadapkan pada dua pekerjaan besar sekaligus: memperkuat fondasi organisasi dan meningkatkan prestasi atlet. Konsistensi program latihan, regenerasi pelajar, perluasan kepengurusan, serta pemanfaatan sungai secara berkelanjutan akan menjadi bagian penting dalam mewujudkan target tersebut.

Suweca berharap arung jeram tidak hanya berkembang sebagai aktivitas wisata, tetapi juga menjadi cabang olahraga yang semakin dikenal masyarakat dan mampu menyumbangkan prestasi bagi Bali di tingkat nasional.

Editor – Ray

Berikut adalah susunan lengkap Pengurus Provinsi FAJI Bali Periode 2026–2030:

* Badan Penasihat dan Pembina: Ketua KONI Bali

* Ketua Umum: I Wayan Suweca, S.T.

* Wakil Ketua Umum: I Ketut Weji Adi Wijaya

* Sekretaris Jenderal: I Dewa Ngakan Ketut Suwirta

* Wakil Sekretaris: Dr. Putu Suryawati, S.H., M.H.

* Bendahara Umum: Ni Luh Gede Suartini

* Kabid Kompetisi:- Made Artawijaya
– I Wayan Suartha

* Komisi Perwasitan: Made Sugiarta

* Kabid Lomba: I Nyoman Argi

* Kabid Pariwisata:I Made Pastika, S.Tr.Par., C.H.A.

* Kabid Organisasi: I Kadek Sumerta

* Kabid Litbang: I Nyoman Sukataya, S.H.

* Kabid Bina Prestasi: Apriyanto Wellen Lede Rajah

* Kabid Usaha Dana: Rully Anthony Klavert

* Kabid Hubungan Masyarakat: Ni Luh Putu Dian Ekawati

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (4)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepercayaan Rakyat Bisa Pudar! “Hukum Jangan Tajam ke Rakyat, Tumpul ke Penguasa”

    Kepercayaan Rakyat Bisa Pudar! “Hukum Jangan Tajam ke Rakyat, Tumpul ke Penguasa”

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Ray
    • 3Komentar

    DENPASAR – Sekretaris Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN) Bali, Anak Agung Gede Aryawan yang akrab disapa Gung De, melontarkan kritik tajam terhadap lemahnya respons sejumlah pihak dalam menyikapi berbagai persoalan hukum dan kebijakan publik yang dinilai merugikan masyarakat. Dalam pernyataannya kepada awak media, Gung De menegaskan bahwa suara rakyat tidak boleh diabaikan, apalagi dipinggirkan oleh […]

  • Lagi Citra Kepolisian Tercoreng! Bripda MS Jadi Tersangka Tewasnya Pelajar MTs di Tual

    Lagi Citra Kepolisian Tercoreng! Bripda MS Jadi Tersangka Tewasnya Pelajar MTs di Tual

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    TUAL – Citra kepolisian kembali tercoreng akibat dugaan tindakan arogan oknum aparat. Seorang anggota Brimob, Bripda Masias Siahaya (MS), resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan yang mengakibatkan seorang pelajar madrasah tsanawiyah (MTs) berinisial AT (14) meninggal dunia. Kapolres Tual, AKBP Whansi Des Asmoro, menyatakan status hukum Bripda MS telah dinaikkan dari terlapor menjadi tersangka. […]

  • Polemik Simbol Religi di Toilet, Kasus di Pecatu Picu Respons Organisasi

    Polemik Simbol Religi di Toilet, Kasus di Pecatu Picu Respons Organisasi

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    BADUNG – Daya tarik Sang Buddha yang hidup sekitar abad ke-6 hingga ke-4 SM, pamornya masih sampai dengan hari ini di seluruh dunia. Walaupun penganut agama mereka di Indonesia cenderung masih relatif sedikit. Banyak cafe, restoran dan Spa menggunakan simbolik Buddha sebagai maskot mereka, entah untuk meningkatkan aura keberadaan tempat tersebut atau simbolik “peacefull” yang […]

  • IHGMA Bali Perkuat Kepemimpinan Hospitality, Tekankan Peran Pers dalam Mendorong Pariwisata Berkualitas

    IHGMA Bali Perkuat Kepemimpinan Hospitality, Tekankan Peran Pers dalam Mendorong Pariwisata Berkualitas

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    DENPASAR – Indonesian Hotel General Manager Association DPD Bali menggelar Hospitality Leaders Gathering 2026 di Grand Palace Hotel Sanur, Jumat (22/5/2026). Mengusung tema “Beyond Management: Building Visionary Hospitality Leadership”, kegiatan ini menjadi momentum memperkuat kepemimpinan visioner, sinergi industri, serta kolaborasi strategis sektor hospitality di Bali. Kegiatan tersebut dihadiri para General Manager hotel, strategic business partner, […]

  • Tragedi Demo Polda Bali – Renon, Negara Jangan Jadi Algojo Demokrasi

    Tragedi Demo Polda Bali – Renon, Negara Jangan Jadi Algojo Demokrasi

    • calendar_month Rabu, 12 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 18Komentar

    DENPASAR – Perjuangan rakyat Indonesia terhadap penyimpangan proses penyelenggaraan negara belum usai, bentuk aksi protes unjuk rasa berujung rusuh pada 30 Agustus 2025, yang kadang dianggap sebagai bentuk pemberontakan membuat Koalisi Advokasi Bali untuk Demokrasi saat ini masih berdiri membela hak – hak demontran yang mendapat perlakuan tidak sesuai prosedur. Dalam acara jumpa pers yang […]

  • KPK Buka Peta Gelap Gratifikasi, Bongkar Sektor Rawan Korupsi di Layanan Publik

    KPK Buka Peta Gelap Gratifikasi, Bongkar Sektor Rawan Korupsi di Layanan Publik

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meluncurkan Peta Kerawanan Praktik Gratifikasi sebagai senjata baru membongkar kebiasaan korupsi yang selama ini dianggap lumrah di birokrasi. Diluncurkan di Gedung ACLC KPK, Selasa (17/12), peta ini bukan sekadar dokumen teknokratis, melainkan alat telanjang untuk membaca pola risiko, memprediksi titik rawan, dan mengungkap sektor pelayanan publik yang diam-diam menjadi […]

expand_less