Gaji Pas-pasan di Dalam Negeri, Kerja Kapal Pesiar Dibayar Lebih Tinggi tapi Takut Istri Digoyang Tetangga
- account_circle Admin
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

Gambar hanya pemanis, ilustrasi belaka tidak ada kesamaan dengan orang yang di foto tersebut. Sunber gambar : Facebook
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tekanan upah minimum dan biaya hidup membuat sebagian pekerja Bali melirik pekerjaan di luar negeri, termasuk kapal pesiar, meski harus menghadapi konsekuensi berpisah lama dengan keluarga.
DENPASAR — Pilihan bekerja di Bali atau mencari penghasilan ke luar negeri menjadi dilema bagi sebagian pekerja yang telah berkeluarga. Di satu sisi, bekerja dekat dengan istri dan anak memberikan rasa aman serta memungkinkan keluarga menjalani kehidupan bersama. Namun di sisi lain, pendapatan yang diterima dari pekerjaan di dalam negeri dinilai belum selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut membuat pekerjaan di kapal pesiar menjadi salah satu pilihan yang dilirik pekerja asal Bali. Penghasilan yang ditawarkan dalam mata uang asing menjadi daya tarik, terutama ketika dibandingkan dengan upah minimum di daerah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menunjukkan jumlah angkatan kerja Bali pada Mei 2026 mencapai sekitar 2,70 juta orang, dengan 2,66 juta orang di antaranya bekerja. Sektor akomodasi serta makan dan minum menjadi salah satu sektor yang mencatat pertambahan tenaga kerja terbesar.
Persoalannya, besarnya aktivitas ekonomi dan pariwisata Bali tidak otomatis membuat seluruh pekerja memperoleh pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi pekerja yang memiliki tanggungan rumah tangga, persoalan bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan, tetapi juga bagaimana pendapatan tersebut mampu membiayai kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, tempat tinggal, kesehatan, hingga tabungan masa depan.
Di tengah kondisi itu, bekerja di kapal pesiar menawarkan peluang pendapatan yang berbeda. Pekerja dapat memperoleh penghasilan dalam mata uang asing, sementara sejumlah kebutuhan selama berada di kapal biasanya telah menjadi bagian dari fasilitas kerja sesuai kontrak.
Namun, keuntungan ekonomi tersebut datang dengan konsekuensi besar, pekerja harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang relatif panjang.
Bagi seorang kepala keluarga, keputusan berangkat bekerja ke luar negeri bukan semata-mata persoalan mengejar gaji.
Ada kekhawatiran lain yang tidak kalah berat, yakni hubungan rumah tangga ketika pasangan harus menjalani kehidupan berjauhan selama berbulan-bulan.
Sebagian pekerja bahkan menghadapi kekhawatiran sederhana tetapi nyata: ketika suami pergi mencari nafkah ke luar negeri, siapa yang menjaga keluarga di rumah?
Kekhawatiran mengenai munculnya orang ketiga atau hubungan dengan pihak lain selama pasangan berjauhan juga menjadi salah satu risiko sosial yang sering dibicarakan di kalangan pekerja migran.
Namun, persoalan tersebut tidak seharusnya digeneralisasi sebagai konsekuensi pasti dari bekerja di kapal pesiar. Hubungan rumah tangga tetap sangat bergantung pada komunikasi, kepercayaan, komitmen dan kondisi masing-masing keluarga.
Di sisi lain, tekanan ekonomi juga tidak dapat diabaikan. BPS mencatat inflasi tahunan Bali pada Juli 2026 mencapai 2,42 persen. Artinya, perubahan harga barang dan jasa tetap menjadi bagian dari tekanan biaya hidup yang harus dihadapi rumah tangga.
Dilema tersebut kemudian mengerucut pada satu pertanyaan besar: bertahan dengan pekerjaan di Bali dengan pendapatan yang terbatas, atau pergi bekerja ke luar negeri dengan peluang penghasilan lebih besar tetapi harus membayar mahal dengan waktu bersama keluarga?
Bagi sebagian pekerja, jawabannya adalah memilih bekerja di kapal pesiar untuk beberapa tahun, mengumpulkan modal, kemudian pulang dan membangun usaha atau kehidupan yang lebih stabil.
Bagi pekerja lainnya, kedekatan dengan keluarga tetap menjadi pertimbangan utama meskipun konsekuensinya harus menerima pendapatan yang lebih rendah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan tenaga kerja tidak cukup dilihat hanya dari angka pengangguran. Kualitas pekerjaan, besaran pendapatan, biaya hidup dan kemampuan pekerja memenuhi kebutuhan keluarganya juga menjadi bagian penting dalam melihat kondisi ketenagakerjaan.
Pada Mei 2026, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka Bali sebesar 1,52 persen. Pada saat yang sama, sekitar 51,55 persen pekerja berada di sektor formal.
Angka tersebut menunjukkan pasar kerja Bali tetap bergerak, tetapi tantangan bagi pekerja bukan semata mendapatkan pekerjaan. Tantangan berikutnya adalah memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang mampu menopang kehidupan keluarga secara layak.
Karena itu, fenomena pekerja Bali yang memilih kapal pesiar seharusnya dibaca sebagai bagian dari dinamika pasar tenaga kerja. Ketika peluang pendapatan di luar negeri dianggap lebih menarik dibandingkan pekerjaan yang tersedia di daerah asal, mobilitas tenaga kerja menjadi pilihan yang rasional bagi sebagian orang.
Pada akhirnya, seorang pekerja menghadapi dua pilihan berat: uang lebih besar tetapi harus jauh dari keluarga, atau tetap dekat dengan keluarga tetapi harus berjuang dengan pendapatan yang lebih terbatas.
Dilema tersebut bukan sekadar cerita tentang kapal pesiar. Ini juga menjadi gambaran tentang bagaimana tekanan upah dan biaya hidup dapat mendorong pekerja mencari peluang ekonomi hingga ke luar negeri.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar