Istana Sentil Polemik Pidato Prabowo, Jangan Goreng Potongan Kalimat
- account_circle Admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Penasihat Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi meminta masyarakat melihat substansi utuh pidato Presiden Prabowo Subianto dan tidak terjebak pada potongan pernyataan yang viral di media sosial.
JAKARTA — Istana meminta masyarakat tidak terjebak pada potongan pidato Presiden Prabowo Subianto yang beredar dan menjadi perbincangan di media sosial. Pemerintah mengimbau publik melihat konteks serta substansi keseluruhan pidato, bukan hanya satu atau dua kalimat yang dipisahkan dari konteks.
Penasihat Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengatakan polemik mengenai pernyataan Prabowo terkait buruh pengupas bawang muncul karena publik terlalu fokus pada potongan kalimat yang kemudian diperbincangkan secara luas di media sosial.
“Kita pikirkan substansi dari pidato besar presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng itu saya rasa kita harus belajar untuk tidak terfokus,” ujar Hasan saat ditemui di sela-sela peringatan HUT ke-81 RI di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Menurut Hasan, penyebaran potongan pidato secara luas tidak terlepas dari mekanisme algoritma media sosial yang cenderung mendorong konten singkat dan menarik perhatian pengguna.
Ia meminta masyarakat lebih kritis dalam memahami informasi yang beredar serta tidak mudah terdistraksi oleh cuplikan pidato yang viral.
“Itu algoritma juga itu. Ya. Satu kalimat, dua kalimat tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato presiden. Sebaiknya seperti itu,” tegas Hasan.
Pernyataan Pengupas Bawang Jadi Sorotan
Polemik bermula dari pidato Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).
Dalam pidato tersebut, Prabowo memperkenalkan sejumlah masyarakat yang disebut sebagai penerima manfaat berbagai program pemerintah. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk menunjukkan dampak kebijakan pemerintah secara langsung kepada masyarakat.
Salah satu yang diperkenalkan adalah Susanah dari Kabupaten Bogor. Prabowo menyebut Susanah bekerja sebagai buruh harian pengupas bawang dengan upah sekitar Rp700.000 per kilogram.
“Hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian mengupas bawang dengan upah sekitar Rp700 ribu per kilogram. Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya,” ujar Prabowo dalam pidatonya.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan di media sosial karena angka upah yang disebut dinilai memunculkan pertanyaan terkait kewajaran dan realitas penghasilan buruh pengupas bawang di lapangan.
Potongan pernyataan mengenai upah Rp700.000 per kilogram pun beredar luas dan memicu beragam respons publik.
Istana menilai perdebatan tersebut sebaiknya tidak menggeser perhatian masyarakat dari substansi utama pidato Presiden. Hasan menekankan pentingnya memahami keseluruhan gagasan dan konteks kebijakan yang disampaikan pemerintah.
Dengan demikian, Istana berharap masyarakat tidak hanya menjadikan potongan pernyataan sebagai bahan perdebatan, tetapi juga mencermati pesan utama yang disampaikan Presiden dalam pidato kenegaraan.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar