Ternyata Sistem Imun Jadi Alasan Tato Bisa Menempel Bertahun-tahun di Kulit
- account_circle Admin
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Tato dikenal sebagai gambar permanen yang dapat bertahan hingga puluhan tahun di tubuh manusia. Namun di balik hal tersebut, ada mekanisme biologis yang melibatkan sistem kekebalan tubuh sehingga tinta tato tetap terlihat di kulit.
Dalam proses pembuatan tato, jarum khusus menyuntikkan pigmen tinta hingga ke lapisan dermis, yaitu lapisan kulit yang berada di bawah epidermis. Lapisan ini dipilih karena sel-selnya lebih stabil dan tidak cepat mengalami pergantian seperti kulit bagian luar.
Dokter umum menjelaskan bahwa tubuh sebenarnya menganggap tinta tato sebagai benda asing sehingga sistem imun akan langsung bereaksi.
“Ketika tinta masuk ke kulit, tubuh akan berusaha membersihkannya melalui sel imun yang disebut makrofag. Namun partikel tinta tato umumnya cukup besar sehingga sulit dihancurkan sepenuhnya,” jelasnya dalam ulasan kesehatan yang dipublikasikan platform kesehatan digital Halodoc.
Makrofag merupakan sel imun yang bertugas “memakan” benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Setelah menelan pigmen tinta, sebagian makrofag tetap berada di area kulit sehingga warna tato tetap terlihat dari permukaan.
Menariknya, proses tersebut terus berlangsung selama bertahun-tahun. Ketika makrofag mati, pigmen tinta akan dilepaskan kembali lalu ditelan oleh makrofag baru. Siklus inilah yang membuat tato tampak permanen di kulit manusia.
Selain itu, warna tato juga dapat mengalami perubahan seiring waktu. Paparan sinar matahari, regenerasi kulit, hingga perpindahan pigmen oleh sel imun menyebabkan warna tato perlahan memudar.
Teknologi laser penghapus tato bekerja dengan cara memecah partikel tinta menjadi ukuran lebih kecil agar lebih mudah dibersihkan oleh sistem imun tubuh. Meski demikian, proses penghapusan tato umumnya membutuhkan beberapa kali tindakan medis.
Praktisi kesehatan juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati sebelum membuat tato. Penggunaan alat yang tidak steril dapat meningkatkan risiko infeksi kulit, alergi tinta, hingga penularan penyakit tertentu.
Karena itu, masyarakat disarankan memilih tempat tato yang memiliki standar kebersihan dan keamanan yang baik demi meminimalkan risiko kesehatan.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar