Breaking News
light_mode

Merawat Kebodohan, Menjaga Ketersesatan

  • account_circle Ray
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ichsanuddin Noorsy

DENPASAR – Miris melihat cara pandang dan sikap sebagian elite politik, birokrat, aparat penegak hukum, akademisi, jurnalis, hingga masyarakat Indonesia terhadap hegemoni Amerika Serikat (AS). Mengapa miris? Karena tekanan struktural, fundamental, dan fungsional AS terhadap Indonesia sesungguhnya telah berlangsung sejak era Republik Indonesia Serikat hingga hari ini.

Argumentasi tersebut pernah saya uraikan dalam artikel Kolonisasi Mental, Indonesia Penakut dan Realitas Pahit Kolonisasi Mental. Artinya, sudah tiga generasi bangsa Indonesia hidup di bawah pengaruh sistemik kepemimpinan AS, dengan intensitas yang terus meningkat seiring menguatnya ideologi dan kekuatan ekonomi negara tersebut.

Kajian tentang hegemoni AS dalam geopolitik dunia tentu bukan hal baru. Argumennya sederhana, AS adalah pemenang Perang Dunia II. Namun ketika posisi hegemoninya mulai meluruh, sebagaimana dianalisis Joseph E. Stiglitz dan Stephen Walt, kajian semacam itu di Indonesia justru tenggelam oleh caci maki antarsesama anak bangsa.

Bahkan Stephen Walt, ilmuwan politik dari Harvard Kennedy School, pada Maret 2026 menyebut politik luar negeri AS di bawah Donald Trump sebagai hegemon predator.

Istilah itu menggambarkan AS, dengan financial military industrial complex-nya, sebagai negara dominator yang bertindak agresif, eksploitatif, dan merusak layaknya predator dalam ekosistem global.

Jauh sebelumnya, bersama Chusnul Mar’iyah, saya telah mengkaji persoalan hegemon predator tersebut dalam kaitannya dengan dedolarisasi AS. Bahkan sebelum puncak silent intervention melalui perubahan keempat UUD 1945 pada 10 Agustus 2002, saya telah mempresentasikan di berbagai forum mengenai operasi 7-I, invasi, intervensi, infiltrasi, interferensi, indoktrinasi, intimidasi, dan inflasi sebagai instrumen kesinambungan hegemoni AS di Indonesia.

Materi itu saya sampaikan dalam berbagai pendidikan dan pelatihan, mulai dari eselon I di Lembaga Administrasi Negara, Sespimti Polri, Sesdilu, hingga sebagai dosen tamu di sejumlah universitas dan forum seminar.

Modus operandi hegemoni tersebut bekerja melalui pendekatan sistem dan pelaku. Hampir seluruh sektor kehidupan dimasuki melalui skema dana hibah, pinjaman program, maupun pinjaman proyek, yang kebijakan, regulasi, standardisasi, hingga akuntabilitasnya ditentukan pihak eksternal.

Pada saat yang sama, masyarakat Indonesia dibuat terpesona oleh materialisme, individualisme, liberalisme, globalisasi, demokrasi liberal, bantuan kemanusiaan, hingga gaya hidup mewah ala Hollywood. Bahkan banyak yang merasa bangga ketika memperoleh beasiswa untuk dididik menjadi kader pemikiran dan sistem ekonomi-politik AS.

Di sinilah peran Mafia Berkeley, Gebrakan Sumarlin, para pejuang liberalisme, dan pengubah UUD 1945 membangun fondasi liberal-sekularisme. Indikator keberhasilan masyarakat pun dipersempit hanya pada jabatan tinggi dan kekayaan melimpah.

Pasca reformasi, orientasi keberhasilan tersebut secara tidak langsung dilegitimasi melalui Pasal 6A ayat (2), Pasal 1 ayat (2), dan Pasal 2 ayat (1) UUD 1945 hasil amandemen.

Rumusan itu pada praktiknya mengalihkan kedaulatan rakyat kepada partai politik, lalu partai politik menyerahkannya kepada presiden. Akibatnya, kekuasaan negara terkonsentrasi pada presiden.

Check and balance? Mimpi.

Lihat bagaimana Kongres AS menghadapi Donald Trump sebagai Presiden ke-45 dan ke-47, dibandingkan dengan “kesulitan” DPR RI menghadapi presiden yang terindikasi melanggar UU bahkan UUD. Pasal 6A ayat (2) seolah memosisikan presiden pada titik, I am the law, I am the king.

Konsentrasi kekuasaan inilah yang membuka ruang bagi politisasi, komersialisasi, dan kriminalisasi kekuasaan. Pada saat yang sama, pemerintah gagal meredam civility war di tengah masyarakat.

Menjelang pandemi Covid-19 pada Januari 2020, melalui artikel Corona dan Perang Ekonomi, saya telah mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi perang industri manufaktur, perang mata uang, perang teknologi informasi, perang sistem ekonomi, serta perang militer total maupun hibrida. Semua itu merupakan kelanjutan perang dagang sejak 2008.

Namun karena panggung ekonomi-politik Indonesia sejak 2001 dikuasai paham liberal di hampir seluruh dimensi kehidupan, pemikiran tersebut baru dianggap relevan ketika masyarakat global menyadari bahwa pandemi Covid-19 beserta bisnis vaksinnya juga menjadi arena pertarungan kepentingan modal global.

Dalam buku Prahara Bangsa, pada bagian Kudeta Korporasi di Balik Pandemi, saya menguraikan bagaimana Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan BioNTech memperoleh keuntungan luar biasa di tengah penderitaan dan kematian manusia. Kelompok Global Justice Now bahkan menyebut keuntungan korporasi tersebut melampaui PDB sejumlah negara, hasil dari praktik yang dianggap merampok sistem kesehatan publik.

Hal serupa terjadi pada big five teknologi, Alphabet, Apple, Facebook/Meta, dan Microsoft yang pada kuartal pertama 2021 mencatat kenaikan pendapatan hingga 41 persen atau mencapai 322 miliar dolar AS.

Ketika Trump kembali ke Gedung Putih pada 20 Januari 2025, seharusnya elite Indonesia telah memiliki langkah antisipatif. Namun hal itu tidak terjadi, sebab mereka justru bangga menjadi pejuang ekonomi terbuka dan demokrasi liberal.

Lihat saja berbagai regulasi seperti UU No. 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar, UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, UU No. 38 Tahun 2008 tentang Pengesahan Charter of ASEAN, UU No. 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, hingga UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Oleh Stiglitz, mereka disebut sebagai fundamentalis mekanisme pasar.

Dalam perspektif sistem, kebijakan, regulasi, standardisasi, dan akuntabilitas, para elite Indonesia sesungguhnya telah memenjarakan bangsanya sendiri dalam jeruji kokoh materialisme liberal.

Pola pikir yang berkembang pun sarat empirisme: pengalaman indrawi dijadikan satu-satunya petunjuk, sementara realitas diperlakukan sebagai kompas mutlak.

Padahal kemenangan AS dalam Perang Dunia II juga melahirkan dogma bahwa kejujuran bersifat relatif, keserakahan dianggap baik (greedy is good), fantasi kehidupan dipuja, dan mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain dianggap wajar.

Itulah akar dari Bretton Woods sebagai World Order 1.0, Nixon Shock sebagai World Order 2.0, Washington Consensus sebagai World Order 3.0, hingga Rule Based Order yang dipatahkan slogan MAGA dengan konsep Peace Through Strength sebagai World Order 4.0.

Tahapan tata dunia itu justru menunjukkan bahwa AS melemah karena problem internalnya sendiri.

Pada 2023–2024, termasuk saat bersama Mahathir Mohamad di Palembang pada Juli 2024, saya menyampaikan kajian Gagalnya Barat Seabad. Analisis tersebut dimulai dari tesis: Runtuhnya Keluarga, Luruhnya Negara, sebagaimana pernah saya uraikan di kanal YouTube IC the Real Show.

Ironisnya, kondisi pendidikan Indonesia justru memperkuat situasi tersebut.
Namun lihat bagaimana ketika Trump berkunjung ke Beijing. Xi Jinping tetap tersenyum, tetapi tegas mempertahankan posisi China terkait Taiwan. Trump pun menghormati sikap Xi Jinping, termasuk penolakan terhadap kehadiran Menlu AS Marco Rubio.

Di Beijing, masing-masing pemimpin menunjukkan konsistensi dalam menjaga kedaulatan negara dan arah kebijakan konstitusionalnya.

Argumentasi inilah yang membuat saya melihat adanya pihak-pihak yang sedang merawat kebodohan dan menjaga ketersesatan.

Contohnya ketika utang Indonesia dibandingkan terhadap PDB yang sekitar 40,75 persen lalu disejajarkan dengan Singapura, Malaysia, atau Jepang. Namun mereka tidak menjelaskan perbedaan tata kelola, struktur ekonomi, neraca pembayaran, kewajiban luar negeri, dan pengelolaan sumber daya di masing-masing negara.

Optimisme masyarakat memang wajib dibangun. Tetapi jangan membodohi dan menyesatkan. Para petinggi negara adalah guru tanpa kelas. Mereka adalah teladan. Dari sinilah bermula kesalahan sistem sosial-politik: ketika elite kehilangan kepedulian terhadap keteladanan diri, maka buah yang lahir adalah kebodohan dan ketersesatan.

Wallaahu a’lam bish shawab.
Jakarta, 15 Mei 2026

##innsy##

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (2)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kecelakaan Maut yang Menewaskan 5 Warga Tiongkok, Diduga Dikelola Travel Bodong Asal Tiongkok

    Kecelakaan Maut yang Menewaskan 5 Warga Tiongkok, Diduga Dikelola Travel Bodong Asal Tiongkok

    • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    BULELENG – Kecelakaan tunggal yang dialami Toyota Hiace N 7605 TA terjadi di Jalan Nasional Singaraja–Denpasar Km 7.700, Desa Padang Bulia, Sukasada, pada hari Jumat (14/11/2025) pukul 04.30 WITA yang lalu menyisakan duka pilu yang lain. Kendaraan yang dikemudikan Arif Al Akbar diduga hilang kendali saat melintasi jalan menurun dan menikung hingga keluar jalur, masuk […]

  • Rakerda Demokrat Bali Soroti Empati Rakyat dan Solusi Banjir Denpasar

    Rakerda Demokrat Bali Soroti Empati Rakyat dan Solusi Banjir Denpasar

    • calendar_month Rabu, 17 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    DENPASAR – Bali yang dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tak hanya membutuhkan keindahan dan ketertiban, namun juga perhatian serius terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Hal itulah yang mengemuka dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Provinsi Bali yang digelar di Four Star by Trans Hotel, Renon, Denpasar, Selasa (16/9/2025). Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, […]

  • Semangat Kartini, PKK Banjar Kemenuh Kangin Gelar Tirtayatra ke Tiga Pura di Bali Barat

    Semangat Kartini, PKK Banjar Kemenuh Kangin Gelar Tirtayatra ke Tiga Pura di Bali Barat

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    GIANYAR – Memperingati Hari Kartini Tahun 2026, PKK Banjar Kemenuh Kangin, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar menggelar kegiatan tirtayatra ke sejumlah pura di Bali Barat, Sabtu (25/4/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan peserta sebagai bentuk refleksi spiritual sekaligus mempererat kebersamaan warga banjar. Rangkaian tirtayatra diawali dengan persembahyangan di Pura Luhur Srijong yang terletak di Desa […]

  • Dugaan Pelanggaran Ketenagakerjaan di Kuta Selatan Terkuak, Eks Karyawan Beberkan Sistem Kerja “Abu-Abu” dan Intimidasi

    Dugaan Pelanggaran Ketenagakerjaan di Kuta Selatan Terkuak, Eks Karyawan Beberkan Sistem Kerja “Abu-Abu” dan Intimidasi

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 109Komentar

    Badung, Bali — Dugaan pelanggaran ketenagakerjaan mencuat di kawasan Jalan Labuansait, Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Seorang mantan karyawan berinisial R.M.C.A. mengungkap sejumlah praktik yang dinilai tidak profesional, merugikan pekerja, hingga mengarah pada intimidasi di lingkungan kerja. Dalam keterangannya pada Kamis (3/4/2026), R.M.C.A. memaparkan bahwa persoalan bermula dari struktur perusahaan yang dinilai tidak jelas dalam pembagian […]

  • Habiburokhman Ketua Komisi III Minta Keadilan bagi Ayah Tersangka di Pariaman

    Habiburokhman Ketua Komisi III Minta Keadilan bagi Ayah Tersangka di Pariaman

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Ray
    • 5Komentar

    Jakarta – Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyoroti kasus seorang ayah berinisial ED di Pariaman, Sumatera Barat, yang ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan setelah menikam pria berinisial F, terduga pelaku kekerasan seksual terhadap anaknya. Dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2/2026), Habiburokhman menyatakan empatinya terhadap ED. Ia menegaskan bahwa meskipun tindakan menghilangkan nyawa tidak dapat dibenarkan secara […]

  • FOTO Bali Festival 2026 Umumkan 36 Seniman Dunia, Nuanu Jadi Pusat Dialog Fotografi Global

    FOTO Bali Festival 2026 Umumkan 36 Seniman Dunia, Nuanu Jadi Pusat Dialog Fotografi Global

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    Badung, Bali — Kawasan kreatif Nuanu Creative City resmi mengumumkan 36 seniman internasional terpilih dalam ajang FOTO Bali Festival 2026, setelah melalui proses seleksi ketat dari hampir 700 submisi yang datang dari lebih dari 80 negara. Festival fotografi berskala global ini dijadwalkan berlangsung pada 3 Juni hingga 12 Juli 2026 di Bali, menghadirkan karya seniman […]

expand_less