Bandara Internasional Bali Utara Disebut Kunci Peningkatan Pariwisata Indonesia Timur dan Kapasitas Penerbangan
- account_circle Ray
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Nyoman Tirtawan, tokoh yang dikenal sebagai penyelamat uang masyarakat Bali 98 Milyar.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Polemik Bandara Internasional Bali Utara yang membuat masyarakat Bali menunggu – nunggu resah, menanti keputusan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk menentukan penetapan lokasi (Penlok) telah ditindaklanjuti dengan bertemunya Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman selaku Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Republik Indonesia dengan Ida Penglingsir Se-Jebag Bali, Rabu 29 Juli 2026 di areal Puri Blahbatuh, Gianyar, kemarin lalu.
Menemui Nyoman Tirtawan yang dikenal sebagai Pahlawan Penyelamat Uang Rakyat Bali 98 Milyar di rumahnya, Sanur, menjelaskan bahwa Bali memerlukan Bandara Udara Induk yang dapat dirancang di Bali Utara.
Bandara Internasional Bali Utara sebutnya dinilai sebagai kebutuhan strategis nasional, bukan sekadar proyek infrastruktur untuk Bali. Kehadiran bandara baru tersebut diyakini akan menjadi gerbang utama pengembangan pariwisata Indonesia Timur sekaligus memperkuat posisi Indonesia di sektor penerbangan dan pariwisata internasional.
Sejumlah destinasi unggulan nasional seperti Komodo, Danau Kelimutu Tiga Warna, Gunung Bromo, Kawah Ijen hingga Raja Ampat dinilai masih menghadapi kendala konektivitas banyaknya turis yang berkunjung. Jarak yang jauh dari pusat penerbangan internasional serta keterbatasan infrastruktur membuat potensi kunjungan wisatawan belum dapat dimaksimalkan.
Menurut narasumber, kapasitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai juga semakin terbatas sehingga diperlukan bandara induk baru yang mampu menampung pertumbuhan penumpang dalam jangka panjang.
“Bandara Ngurah Rai merupakan gerbang utama Indonesia untuk sektor pariwisata. Namun kapasitasnya sudah semakin terbatas sehingga Indonesia membutuhkan Bandara Internasional Bali Utara sebagai bandara induk yang mampu meningkatkan volume penerbangan dan distribusi wisatawan,” ujar Tirtawan.
Ia menjelaskan, pembangunan bandara baru di daratan Bali tidak mudah dilakukan karena keterbatasan lahan dan tingginya biaya pembebasan tanah. Sementara kawasan Bali Barat dinilai memiliki ruang yang lebih memungkinkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur berskala besar.
Ditanya lokasi yang paling strategis menurutnya adalah di bangun di laut (offshore airport) yang akan disebut sebagai solusi inovatif untuk mengatasi keterbatasan lahan sekaligus meminimalkan dampak terhadap kawasan permukiman.
Untuk di Bali Barat ia juga menyebutkan adanya kendala yang terlalu dekat dengan Bandar Udara Internasional Banyuwangi (BWX).
“Berdekatan dengan Bandara Internasional Banyuwangi, yang jaraknya ±37KM sedangkan standar minimal berjarang lebih dari 50KM, ” Sebutnya.
Dengan hadirnya Bandara Bali Utara, distribusi wisatawan diharapkan tidak lagi terpusat di Bali Selatan. Akses menuju berbagai destinasi kelas dunia di kawasan timur Indonesia juga diyakini akan semakin cepat, sehingga mampu meningkatkan daya saing pariwisata nasional di tingkat global.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar