Man Tayax: “Tingkat Tertinggi Ilmu Bukan Pintar, Melainkan Paham”
- account_circle Admin
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Banyak orang menganggap ukuran keberhasilan dalam menuntut ilmu adalah banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Namun bagi budayawan dan Hukum Bali, I Nyoman Sukataya atau Man Tayax, ukuran tertinggi dari ilmu justru terletak pada tingkat pemahaman seseorang.
Menurutnya, semakin tinggi pemahaman seseorang, semakin rendah hati pula sikapnya. Sebaliknya, ketika ilmu melahirkan kesombongan, saat itulah seseorang berpotensi kehilangan esensi dari pengetahuan yang dimilikinya.
“Sejatinya, tingkat tertinggi dalam ilmu adalah paham. Di situlah akal berpikir jernih, hati menjadi terbuka, dan seseorang tidak merasa paling benar,” ujar Man Tayax.
Ia menjelaskan, dalam proses belajar terdapat beberapa tingkatan pemahaman. Tingkatan pertama dan tertinggi adalah “paham”, yakni kondisi ketika seseorang mampu melihat persoalan secara utuh, terbuka terhadap berbagai pandangan, serta menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.
Di bawahnya terdapat tingkatan “kurang paham”. Pada tahap ini seseorang masih terus belajar, bertanya, dan menggali berbagai sudut pandang untuk memperoleh pemahaman yang lebih lengkap.
Selanjutnya adalah “salah paham”. Menurut Man Tayax, kondisi ini umumnya terjadi ketika emosi lebih dominan dibandingkan kejernihan berpikir. Akibatnya seseorang terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa memahami persoalan secara menyeluruh.
“Orang yang salah paham biasanya masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Ketika akhirnya memahami duduk persoalan yang sebenarnya, ia akan mengakui kekeliruannya dan belajar dari pengalaman tersebut,” katanya.
Namun yang paling berbahaya, lanjutnya, adalah kondisi “gagal paham”. Pada tahap ini seseorang tidak hanya keliru memahami suatu hal, tetapi juga menutup diri terhadap koreksi dan masukan dari orang lain.
“Biasanya ini muncul karena kesombongan. Merasa paling tahu, paling benar, dan tidak lagi mau menerima ilmu dari siapa pun. Hatinya tertutup, pikirannya tertutup, bahkan logikanya ikut tertutup,” ungkapnya.
Man Tayax mengibaratkan ilmu seperti air yang selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Karena itu, kerendahan hati menjadi syarat utama agar seseorang terus bertumbuh dalam pengetahuan dan kebijaksanaan.
Sebaliknya, orang yang terjebak dalam kesombongan akan seperti balon yang terus melayang tinggi tanpa arah. Ia memandang rendah orang lain, merasa cukup dengan pemahamannya sendiri, hingga akhirnya tersesat dalam keyakinan yang dibangunnya sendiri.
Menurutnya, semakin seseorang mendalami ilmu, semakin ia menyadari luasnya hal-hal yang belum diketahui. Kesadaran itulah yang melahirkan kebijaksanaan dan sikap rendah hati.
“Ilmu itu seperti sumur yang tak pernah habis digali. Semakin dalam kita menggali, semakin terasa bahwa apa yang kita ketahui masih sangat sedikit,” tuturnya.
Melalui pandangan tersebut, Man Tayax mengajak masyarakat untuk terus belajar, membuka ruang dialog, serta tidak terjebak pada fanatisme dan kesombongan intelektual.
“Jangan melihat siapa yang berbicara, tetapi lihatlah kebenaran dari apa yang disampaikan. Karena ilmu dan kebijaksanaan bisa datang dari mana saja,” pungkasnya.
Rahajeng rahayu.

https://shorturl.fm/jpnb8
29 Mei 2026 11:17 AM