Breaking News
light_mode

Negara Absen, Intoleransi Merajalela! Kasus Sukabumi Bukti Nyata Pembiaran Sistemik

  • account_circle Admin
  • calendar_month Selasa, 1 Jul 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUKABUMI – Peristiwa perusakan rumah milik keluarga Yongki di Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, kembali memunculkan satu pertanyaan yang tak kunjung terjawab: sampai kapan negara akan terus membiarkan intoleransi beragama merusak sendi-sendi kebangsaan?

Kejadian pada akhir Juni 2025 ini menggambarkan kegagalan negara melindungi warganya yang memiliki keyakinan berbeda. Di tengah heningnya peran negara, justru sosok Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampil cepat. Ia datang langsung ke lokasi, berbincang dengan korban, dan menyatakan sikap tegas,

“Ini murni tindakan pidana, dan harus diproses hukum.”

Namun, pernyataan tegas itu terasa seperti tambalan darurat di tengah luka sosial yang membusuk. Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Dedi tak hanya mengecam tindakan main hakim sendiri, tapi juga mengumumkan langkah konkret, mengawal proses hukum, mengirim tim trauma healing, dan menyumbang dana pribadi Rp 100 juta untuk perbaikan rumah korban.

“Saya ingin memastikan proses hukumnya berjalan objektif, dan keluarga Pak Yongki mendapat dukungan psikologis dan material agar bisa kembali hidup damai,” ujar Dedi.

Sayangnya, di balik reaksi cepat itu, publik kembali dihadapkan pada pola lama, intoleransi yang muncul berkala, respons negara yang lambat, dan narasi toleransi yang hanya menjadi jargon.

Kasus di Sukabumi ini bukan yang pertama. Diskriminasi terhadap kelompok minoritas atas nama mayoritas, tekanan sosial, hingga pembiaran oleh aparat setempat telah menjadi pola berulang yang menandai absennya negara. Dalam berbagai insiden serupa, tindakan aparat sering kali muncul setelah tekanan publik membesar atau korban berteriak cukup keras. Negara hadir terlambat jika tidak bisa disebut enggan hadir.

Lebih menyedihkan lagi, intoleransi bukan hanya dibiarkan, tapi dalam banyak kasus justru dipelihara secara politis. Tekanan massa sering dimaklumi dengan dalih “kearifan lokal” atau “aspirasi masyarakat”. Dalam praktiknya, kelompok minoritas dipaksa diam, mengalah, atau terusir secara halus dari ruang hidupnya sendiri.

Perusakan rumah Yongki dan keluarganya bukan sekadar pelanggaran hukum, itu adalah tamparan keras bagi sistem yang gagal melindungi hak dasar warganya untuk hidup aman, bebas dari ketakutan karena iman atau keyakinannya. Jika negara terus berkompromi dengan kekerasan berbasis agama, maka keadilan sosial, sebagaimana termaktub dalam konstitusi, hanyalah utopia di atas kertas.

Kini, bola ada di tangan negara. Apakah ia benar-benar akan menindak tegas, menyelesaikan akar masalah intoleransi, atau kembali menjadi penonton yang datang hanya untuk berfoto dan mengucap belasungkawa? (Ray)

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (6)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 60 Hari Warga Bali Akan Gugat Negara! Pemerintah Dianggap Gagal Lindungi Rakyat dari Banjir

    60 Hari Warga Bali Akan Gugat Negara! Pemerintah Dianggap Gagal Lindungi Rakyat dari Banjir

    • calendar_month Rabu, 12 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    DENPASAR – Kegagalan pemerintah dalam melindungi rakyat dari bencana kembali memicu perlawanan. Kali ini, warga Bali yang tergabung dalam Koalisi Pergerakan Untuk Lingkungan Hidup dan Keberlanjutan Bali (PULIHKAN BALI) secara resmi melayangkan notifikasi Citizen Lawsuit (CLS) terhadap Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah atas bencana banjir besar yang melanda Bali pada September 2025 dan menelan 18 […]

  • Kompensasi Rp1 Miliar Jadi Batu Sandungan, Kandang Babi vs Dapur Makan Gratis Memanas

    Kompensasi Rp1 Miliar Jadi Batu Sandungan, Kandang Babi vs Dapur Makan Gratis Memanas

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    SRAGEN – Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sragen tersandung konflik sosial serius. Pemilik kandang babi di Dukuh Kedungbanteng RT 014, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, secara terbuka meminta kompensasi Rp1 miliar kepada pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) jika usahanya harus dipindahkan. Permintaan itu hingga kini belum menemui titik temu dan memicu ketegangan di […]

  • Mau Terbangkan Apa? Kipas Angin Kopdes Rp1,8 Triliun 

    Mau Terbangkan Apa? Kipas Angin Kopdes Rp1,8 Triliun 

    • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    DPR Pertanyakan Anggaran Fantastis, Menkop Tegaskan Pengadaan Bukan Kewenangan Kementerian JAKARTA – Isu dugaan pengadaan 1,8 juta unit kipas angin dengan nilai mencapai Rp1,8 triliun untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi sorotan dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono. Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam meminta pemerintah […]

  • Lonjakan Kasus Pelecehan di Bali, Turis Korsel Himbau Warganya Waspada Saat Berwisata ke Bali

    Lonjakan Kasus Pelecehan di Bali, Turis Korsel Himbau Warganya Waspada Saat Berwisata ke Bali

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Ray
    • 1Komentar

    Denpasar, Bali — Meningkatnya jumlah wisatawan asal Korea Selatan ke Bali mendapat perhatian khusus dari Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta. Melalui pernyataan resmi, pihak Kedutaan mengapresiasi tingginya minat warganya terhadap Pulau Dewata, namun sekaligus mengingatkan pentingnya kewaspadaan selama berada di destinasi wisata tersebut. Berita sebelumnya, Lonjakan Kasus Kekerasan Seksual terhadap WNA, Alarm Keras bagi […]

  • Rekam Jejak Jampidsus Febrie Adriansyah, Mengungkap Deretan Mega Korupsi dari PT Timah hingga BTS Kominfo

    Rekam Jejak Jampidsus Febrie Adriansyah, Mengungkap Deretan Mega Korupsi dari PT Timah hingga BTS Kominfo

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    Dari PT Timah, Jiwasraya, Asabri hingga BTS Kominfo, Deretan Perkara Besar yang Ditangani Jampidsus JAKARTA – Nama Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, kembali menjadi perhatian publik di tengah perkembangan berbagai perkara dugaan tindak pidana korupsi yang ditangani institusinya. Sorotan terhadap Febrie menguat setelah beredarnya informasi mengenai pengamanan di sekitar […]

  • Ruben Onsu Tersangka, Kuasa Hukum Ungkap Utang Rp3,5 Miliar

    Ruben Onsu Tersangka, Kuasa Hukum Ungkap Utang Rp3,5 Miliar

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    Kuasa hukum menyebut perkara yang menjerat Ruben Onsu berawal dari hubungan utang piutang, bukan investasi. Ruben disebut ingin segera menyelesaikan kewajibannya dan berharap kasus berakhir melalui restorative justice. JAKARTA — Presenter Ruben Onsu akhirnya angkat bicara setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang ditangani Polres Metro Jakarta Selatan. Melalui kuasa hukumnya, […]

expand_less