Breaking News
light_mode

Realitas Pahit Kolonisasi Mental, Lima Penyebab Jatuhnya Rupiah

  • account_circle Ray
  • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ichsanuddin Noorsy

JAKARTA — Ekonom sekaligus pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy, menilai pelemahan nilai tukar rupiah bukan semata-mata dipengaruhi faktor pasar dan kondisi global, melainkan akibat persoalan struktural yang telah lama mengakar dalam sistem ekonomi Indonesia.

Dalam tulisannya bertajuk “Realitas Pahit Kolonisasi Mental, Lima Penyebab Jatuhnya Rupiah”, Ichsanuddin mengulas perjalanan rupiah sejak dilepas ke mekanisme pasar bebas melalui sistem free floating exchange rate pada 14 Agustus 1997. Menurutnya, sejak saat itu rupiah tunduk pada hukum permintaan dan penawaran pasar global.

Ia mengingatkan bahwa krisis moneter 1997/1998 dipicu oleh tingginya utang luar negeri swasta dalam dolar AS, lemahnya pengawasan perbankan, serta maraknya aksi spekulasi mata uang. Kondisi tersebut diperparah oleh ketidaksesuaian likuiditas perbankan dan jatuh tempo kewajiban pembayaran utang.

“Para pemilik bank saat itu bahkan ikut berspekulasi dengan membeli dolar menggunakan fasilitas pinjaman dari Bank Indonesia,” tulisnya.

Situasi itu, lanjut Ichsanuddin, kemudian berkembang menjadi krisis multidimensi yang ditandai munculnya social distrust, social disorder, dan social disobedient di tengah masyarakat.

Ia menilai kondisi saat ini memang tidak sepenuhnya sama dengan krisis 1998, namun sejumlah indikator menunjukkan tingkat kerentanan ekonomi Indonesia masih tinggi. Mengacu pada World Risk Index 2025, Indonesia disebut memiliki skor kerentanan sebesar 39,8 dan berada di posisi ketiga negara dengan tingkat risiko tertinggi.

Dalam perspektif fungsional, Ichsanuddin menilai ekonomi Indonesia kini berada dalam fase survival mode. Menurutnya, ruang gerak otoritas fiskal dan moneter semakin terbatas akibat tekanan impor energi dan bahan baku, inflasi dorongan biaya (cost push inflation), dominasi oligarki bisnis, serta gejolak geopolitik global.

Ia juga menyoroti kondisi perbankan yang lebih memilih membeli surat utang negara dibanding menyalurkan kredit ke sektor riil. Di sisi lain, daya beli masyarakat dinilai terus melemah akibat tingginya biaya hidup dan tidak efektifnya distribusi belanja fiskal.

Dalam aspek struktural, Ichsanuddin menilai ketergantungan Indonesia terhadap utang luar negeri, impor, serta dominasi dolar AS membuat rupiah sangat bergantung pada kondisi eksternal.

Menurutnya, meskipun pemerintah mendorong hilirisasi, penggunaan local currency settlement, dan bergabung dengan BRICS, kebijakan ekonomi nasional tetap berada dalam bayang-bayang dominasi dolar AS dan sistem keuangan global.

Ia menyebut sejak “Nixon Shock” pada 15 Agustus 1971, ketika Amerika Serikat melepas standar emas dolar AS, banyak negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar. Namun Indonesia dinilai justru semakin nyaman bergantung pada sistem tersebut.

Ichsanuddin kemudian memaparkan lima faktor utama yang disebut menjadi penyebab jatuhnya rupiah, yakni:

1. Patuh pada sistem ekonomi Barat atau Konsensus Washington.
2. Tunduk pada kebijakan dan regulasi IMF serta Bank Dunia.
3. Mengikuti standarisasi Barat seperti pemeringkatan utang oleh Moody’s, S&P, dan Fitch.
4. Menggunakan ukuran akuntabilitas yang divalidasi lembaga internasional.

Menjadikan reputasi internasional sebagai tolok ukur keberhasilan kebijakan ekonomi.
Ia menilai kebijakan menaikkan suku bunga demi mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) justru menjadi bentuk pengabdian pada stabilitas moneter global yang berdampak buruk bagi sektor riil dalam negeri.

“Rakyat kecil akhirnya menjadi korban, sementara otoritas lebih khawatir pada sentimen pasar global dibanding penderitaan rakyatnya sendiri,” tegasnya.

Ichsanuddin juga menyebut intervensi yang dilakukan Bank Indonesia saat ini hanya bersifat paliatif atau sekadar meredakan tekanan sementara. Menurutnya, tanpa perubahan mendasar terhadap struktur ekonomi dan kebijakan nasional, Indonesia akan tetap berada pada posisi sebagai rule taker dalam sistem ekonomi global.

Ia menegaskan jalan keluar sebenarnya ada, namun sangat bergantung pada keberanian pemimpin dan perubahan sistem ekonomi nasional.

“Dengan aktor-aktor negara dan sistem seperti saat ini, rakyat Indonesia sedang bermimpi di siang hari untuk terbebas dari kolonisasi berkemasan kemajuan,” pungkasnya.

Editor – Ray

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (4)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UVJF 2025 Day Two, Where Jazz Danced with Nature and Culture Took Flight

    UVJF 2025 Day Two, Where Jazz Danced with Nature and Culture Took Flight

    • calendar_month Minggu, 3 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 21Komentar

    Ubud, Bali – Saturday, August 2, 2025 – The second evening of the Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2025 unfolded as a vibrant testament to the unifying power of music. Nestled in the tranquil village of Lodtunduh, the festival continued its 12-year tradition of fusing world-class jazz with Balinese soul—drawing thousands into a celebration […]

  • Warren Buffett! Cara Paling Sederhana Ajarkan Anak Tentang Pajak, Makan 30% Es Krim Mereka

    Warren Buffett! Cara Paling Sederhana Ajarkan Anak Tentang Pajak, Makan 30% Es Krim Mereka

    • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 19Komentar

    JAKARTA — Warren Buffett, salah satu investor tersukses dan terkaya di dunia, dikenal bukan hanya karena kepiawaiannya dalam membaca pasar, tetapi juga karena caranya yang sederhana dalam menjelaskan konsep ekonomi rumit. Dalam sebuah kesempatan, Buffett pernah berseloroh bahwa “cara terbaik mengajarkan pajak kepada anak-anak adalah dengan memakan 30 persen dari es krim mereka.” Meski terdengar […]

  • Ultimatum Perumda Tirta Mangutama, Bupati Badung Beri Tenggat hingga Februari 2026

    Ultimatum Perumda Tirta Mangutama, Bupati Badung Beri Tenggat hingga Februari 2026

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Budi Susilawarsa
    • 15Komentar

    MANGUPURA – Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, memberikan ultimatum kepada Perumda Tirta Mangutama Kabupaten Badung untuk segera menuntaskan persoalan penyaluran air bersih di wilayah Badung Selatan. Tenggat waktu penyelesaian ditetapkan hingga 20 Februari 2026. Penegasan tersebut disampaikan Bupati Adi Arnawa saat ditemui di Kantor Bupati Badung, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, Kamis (8/1/2026). Ia menegaskan […]

  • Mabes TNI Ungkap Identitas Empat Prajurit Tersangka Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

    Mabes TNI Ungkap Identitas Empat Prajurit Tersangka Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

    • calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    Jakarta – Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) akhirnya merilis identitas empat oknum prajurit yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Komandan Pusat Polisi Militer TNI, Mayjen TNI Yusri Nuryanto, dalam konferensi pers di Mabes TNI, Cilangkap, Rabu (18/3/2026), […]

  • Misi di PBB Tuntas, Wilson Lalengke Bertolak dari New York Kembali ke Jakarta Hari Ini

    Misi di PBB Tuntas, Wilson Lalengke Bertolak dari New York Kembali ke Jakarta Hari Ini

    • calendar_month Sabtu, 11 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 5Komentar

    New York City — Aktivis hak asasi manusia dan pemimpin jurnalisme warga Indonesia, Wilson Lalengke, telah resmi menyelesaikan tugasnya sebagai petisioner di hadapan Komite Keempat Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berakhir kemarin, Jumat, 10 Oktober 2025. Hari ini, Sabtu 11 Oktober 2025, ia akan bertolak kembali dari New York City ke Jakarta, pada pukul 22.00 waktu setempat […]

  • Sabrina Chairunnisa Gugat Cerai Deddy Corbuzier Setelah Tiga Tahun Menikah, Sepakat Berpisah dengan Damai

    Sabrina Chairunnisa Gugat Cerai Deddy Corbuzier Setelah Tiga Tahun Menikah, Sepakat Berpisah dengan Damai

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 18Komentar

    TANGERANG – Kabar mengejutkan datang dari pasangan publik figur Deddy Corbuzier dan Sabrina Chairunnisa. Setelah tiga tahun membina rumah tangga, Sabrina resmi mengajukan gugatan cerai terhadap Deddy di Pengadilan Agama Tigaraksa pada 16 Oktober 2025. Kabar tersebut dikonfirmasi langsung oleh M. Sholahuddin, juru bicara Pengadilan Agama Tigaraksa. “Benar, perkara cerai gugat dengan penggugat berinisial SC […]

expand_less