Terpilih Ratu Agung Bagus Ketua IHGMA Bali, Soroti Tantangan Global, Dorong IHGMA Perkuat Fondasi Internal
- account_circle Ray
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

Komang Artana, SP.d (kiri) dan Ratu Agung Bagus Ngurah Putra, S.Tr.Par., M.Tr.Par., CHA., CHE.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Dinamika industri pariwisata global yang kian kompleks mendorong perubahan arah strategi organisasi profesi perhotelan. Hal ini disampaikan oleh Ratu Agung Bagus Ngurah Putra yang menilai masa depan Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) harus bertumpu pada penguatan internal organisasi agar mampu bersaing menghadapi tantangan global yang terus berkembang.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi industri saat ini tidak lagi serupa dengan masa lalu, termasuk saat pandemi COVID-19. Jika sebelumnya persoalan lebih terfokus pada destinasi dan asal wisatawan, kini tekanan datang dari faktor eksternal yang lebih luas seperti geopolitik dan krisis energi global.
“Situasi saat ini jauh berbeda. Geopolitik dan krisis energi memberi dampak signifikan terhadap pergerakan wisatawan dunia. Ini bukan lagi soal destinasi semata,” ujarnya, pada Selasa, 7 April 2026 di Platinum Hotel Jimbaran Beach Bali.

Ia menjelaskan, kondisi global tersebut berpotensi memengaruhi kedatangan wisatawan dari kawasan Timur Tengah dan Eropa ke Bali. Namun, di sisi lain, negara-negara di kawasan Asia Tenggara seperti Filipina, Vietnam, Kamboja, hingga Singapura juga menghadapi tekanan serupa akibat krisis energi.
Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya memperkuat pasar domestik serta menjaga pasar potensial seperti Australia yang dinilai relatif belum terdampak signifikan.
Lebih jauh, Ratu Agung Bagus menegaskan bahwa strategi industri perhotelan ke depan tidak boleh lagi bertumpu pada penurunan harga kamar. Sebaliknya, pelaku industri harus mampu menciptakan nilai tambah (value added) bagi wisatawan.

“Bukan menurunkan harga jual kamar, tetapi bagaimana kita menambahkan value bagi tamu. Ini yang harus menjadi pendekatan baru,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya transformasi internal IHGMA sebagai organisasi profesi. Selama ini, menurutnya, tekanan eksternal membuat organisasi lebih banyak bergerak keluar. Ke depan, fokus perlu diarahkan ke dalam, termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, tata kelola organisasi, serta penguatan sistem berbasis data.
Sebagai profesional di bidang perhotelan, ia menilai pengalaman saja tidak cukup. Diperlukan landasan keilmuan yang kuat agar setiap langkah organisasi tidak berjalan tanpa arah.
“Kita tidak boleh bekerja zig-zag. Harus ada dasar keilmuan, etika dalam menghargai orang lain, serta pengambilan keputusan yang berbasis data,” katanya.

Pandangan tersebut sejalan dengan momentum pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) III IHGMA Bali yang mengusung tema transformasi dan keberlanjutan. Forum ini menjadi titik penting dalam menentukan arah kepemimpinan baru organisasi sekaligus memperkuat peran IHGMA dalam pembangunan pariwisata Bali.
Sementara itu, tokoh IHGMA Bali, Komang Artana, menilai regenerasi kepemimpinan menjadi kebutuhan organisasi yang dinamis. Ia menekankan bahwa IHGMA selama ini terus melahirkan pemimpin baru setiap tiga tahun, dengan nilai utama profesionalisme, integritas, dan jaringan (networking).
Ia juga berharap kepemimpinan ke depan mampu memperkuat sistem internal organisasi, termasuk pemanfaatan teknologi seperti pengembangan website terintegrasi sebagai pusat informasi bagi seluruh pemangku kepentingan pariwisata.

“Sudah saatnya memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk berkembang, sekaligus merapikan fondasi organisasi agar lebih adaptif,” ujarnya.
Dengan berbagai tantangan global yang dihadapi, penguatan internal organisasi dinilai menjadi kunci agar IHGMA tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak transformasi industri perhotelan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar