Breaking News
light_mode

Tanyakan Solusi Darurat Sampah? Negara Sediakan TPST Ratusan Miliar yang Terancam Jadi Monumen Usang

  • account_circle Ray
  • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DENPASAR – Di tengah situasi darurat sampah yang kian terasa di Kota Denpasar, publik justru dihadapkan pada ironi besar. Sejumlah fasilitas pengolahan sampah modern yang dibangun dengan anggaran sangat besar dari pemerintah pusat hingga kini tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Tiga fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yakni TPST Tahura Ngurah Rai, TPST Kesiman Kertalangu dan TPST Padangsambian Kaja, menjadi contoh bagaimana investasi negara berpotensi tidak memberikan manfaat optimal apabila tidak segera dioperasikan secara penuh atau sudah mangkrak tak berfungsi.

Fasilitas tersebut dibangun dengan nilai investasi mencapai ratusan miliar rupiah sebagai bagian dari program nasional penguatan sistem pengelolaan sampah di daerah. Bahkan peresmian fasilitas tersebut dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo sebagai simbol komitmen pemerintah dalam menjawab krisis sampah yang melanda berbagai kota di Indonesia, termasuk Denpasar.

*Presiden Joko Widodo meresmikan TPST Kesiman Kertalangu, Denpasar, Bali, pada 13 Maret 2023, sebagai model pengelolaan sampah terpadu yang sederhana, konkret, dan bernilai ekonomi. 

Namun realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh dari harapan. Mesin-mesin pengolahan sampah yang seharusnya bekerja setiap hari untuk mengurangi beban sampah kota, hingga kini tidak beroperasi sama sekali.

Apabila situasi ini terus berlanjut, infrastruktur modern yang telah dibangun dengan teknologi pengolahan sampah tersebut berpotensi hanya menjadi bangunan fisik tanpa fungsi nyata.

Tidak sedikit pihak yang khawatir fasilitas bernilai ratusan miliar rupiah itu justru akan berubah menjadi monumen usang. Kondisi ini semakin kontras jika melihat realitas pengelolaan sampah di Denpasar saat ini.

Produksi sampah kota yang mencapai ratusan ton setiap hari masih sangat bergantung pada TPA Suwung, yang kapasitasnya sudah lama berada di titik kritis, yang dari kementerian Lingkungan Hidup (LH) terus menekan harus ditutup.

Truk-truk pengangkut sampah banyak parkir menunggu giliran menuju lokasi pembuangan akhir, sementara solusi teknologi yang telah dibangun justru tidak dimanfaatkan secara optimal untuk mengurangi beban tersebut.

Situasi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai mengapa fasilitas yang telah tersedia, siapa yang bertanggung jawab untuk hal ini. Siapa yang menyebabkan uang pajak rakyat digunakan tanpa kajian dan serampangan.

Dalam tata kelola pemerintahan, pembangunan infrastruktur hanyalah tahap awal dari sebuah solusi. Setelah fasilitas selesai dibangun dan diserahkan, tahapan berikutnya adalah memastikan operasionalnya berjalan efektif.

Pada titik ini, peran pemerintah daerah menjadi sangat menentukan. Kota Denpasar sebenarnya tidak kekurangan fasilitas pengolahan sampah. Yang dibutuhkan adalah keputusan, manajemen, serta konsistensi dalam mengoperasikan sistem tersebut secara berkelanjutan.

Lebih dari sekadar persoalan teknis, situasi ini juga menyangkut akuntabilitas publik. Setiap rupiah yang digunakan untuk membangun fasilitas pengolahan sampah berasal dari uang negara yang pada akhirnya merupakan uang rakyat.

Sebagai ibu kota Provinsi Bali, Denpasar tidak hanya menjadi pusat pemerintahan tetapi juga wajah Pulau Dewata di mata dunia. Persoalan sampah yang tidak tertangani dengan baik bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi citra Bali sebagai destinasi pariwisata internasional.

Karena itu, keberadaan TPST yang telah dibangun tidak boleh dibiarkan menjadi simbol kegagalan tata kelola. Sebaliknya, fasilitas tersebut harus segera dioperasikan secara maksimal sebagai bagian dari solusi nyata untuk mengatasi krisis sampah yang dihadapi kota ini.

Tanpa langkah operasional yang jelas dan konsisten, investasi besar tersebut berisiko hanya menjadi catatan anggaran tanpa dampak nyata bagi lingkungan maupun masyarakat.

Editor – Ray

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (2)

  • 🌶️ Crypto transfer to your wallet. Get 📍→ yandex.com/poll/CzcnvHQfzj9AHyPPgwtJKk?hs=e1668a0254e5708dace179614fff0dcb& 🌶️

    r9m7e9

    Balas8 Maret 2026 11:13 AM
  • Hacklink

    Hacklink Paneli Almanın En Kaliteli Yolu. Güçlü SEO yükselişi için hacklink satın al. Uygun fiyat, kaliteli bağlantılar, hızlı teslimat.

    Balas8 Maret 2026 7:41 AM

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kantong “Bukan Plastik” dari Singkong, Inovasi Anak Bali untuk Selamatkan Laut

    Kantong “Bukan Plastik” dari Singkong, Inovasi Anak Bali untuk Selamatkan Laut

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    DENPASAR — Di tengah krisis sampah plastik yang kian mengkhawatirkan, seorang inovator asal Bali, Kevin Kumala, menghadirkan solusi tak biasa: kantong belanja yang tampak seperti plastik, namun dapat larut di air dan aman bagi lingkungan. Melalui perusahaannya, Avani Eco, Kevin mengembangkan kantong berbahan dasar pati singkong. Produk ini diberi label “I Am Not Plastic” untuk […]

  • Pasikian atau Penguasaan? Putu Artha Sebut MDA Bajak Otonomi Desa Adat

    Pasikian atau Penguasaan? Putu Artha Sebut MDA Bajak Otonomi Desa Adat

    • calendar_month Kamis, 17 Jul 2025
    • account_circle Ray
    • 4Komentar

    DENPASAR – Kritik keras datang dari tokoh Bali sekaligus politikus, I Gusti Putu Artha, S.P., M.Si., terhadap eksistensi dan kewenangan Majelis Desa Adat (MDA) yang belakangan ini menjadi sorotan publik. Dalam pandangannya yang tegas dan tajam, Putu Artha menyebut bahwa AD/ART MDA secara terang-terangan telah melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa […]

  • Papua dan Emas yang Tak Pernah Ramah pada Pemiliknya

    Papua dan Emas yang Tak Pernah Ramah pada Pemiliknya

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    PAPUA – Papua bukan tanah miskin. Papua dibuat miskin. Di jantung Pegunungan Sudirman, emas dan tembaga bernilai ribuan triliun rupiah digali tanpa henti sejak puluhan tahun lalu. Namun ironi paling pahit justru berdiri di sekitar lubang tambang itu sendiri: rakyat Papua hidup dalam kemiskinan struktural, konflik bersenjata, dan kerusakan ekologis yang nyaris mustahil dipulihkan. Tambang […]

  • Dugaan Monopoli Pertambangan di Rote Ndao, Bupati Diminta Bertindak Tegas

    Dugaan Monopoli Pertambangan di Rote Ndao, Bupati Diminta Bertindak Tegas

    • calendar_month Kamis, 11 Sep 2025
    • account_circle Deda Henukh
    • 2Komentar

    Rote Ndao – Muncul dugaan serius terkait praktik monopoli sektor pertambangan di Kabupaten Rote Ndao oleh oknum tertentu, yang disinyalir tanpa sepengetahuan Bupati. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan dampak negatif terhadap masyarakat dan tata kelola sumber daya alam daerah. CV-CV tertentu diduga kuat berupaya memonopoli seluruh aktivitas pertambangan di wilayah Kabupaten Rote Ndao. Ada indikasi […]

  • Monarch Bali Cetak SDM Pariwisata Unggul Lewat Bright Hospitality Awareness 2025 Play Button

    Monarch Bali Cetak SDM Pariwisata Unggul Lewat Bright Hospitality Awareness 2025

    • calendar_month Selasa, 8 Jul 2025
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    Denpasar, 7 Juli 2025 — Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Monarch Bali Dalung resmi meluncurkan program Bright Hospitality Awareness tahun ajaran 2025/2026 yang digelar dengan semangat tinggi di Aston Hotel Denpasar. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkarakter global di bidang perhotelan dan pariwisata. Acara pembukaan dihadiri oleh berbagai […]

  • Rencana Peternakan 500 Ribu Hektare Dinilai Tak Realistis, Ahli Soroti Minimnya Literasi Fiskal

    Rencana Peternakan 500 Ribu Hektare Dinilai Tak Realistis, Ahli Soroti Minimnya Literasi Fiskal

    • calendar_month Jumat, 21 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    DENPASAR – Rencana pemerintah membuka 500.000 hektare lahan peternakan sapi untuk mengatasi kelangkaan susu MBG memicu kritik keras dari kalangan ekonomi dan kebijakan publik. Program raksasa yang setara tujuh kali luas Singapura itu dinilai tidak berbasis kajian biaya, tidak memiliki desain arus kas, dan belum didukung peta rantai pasok yang memadai. Para pengamat menilai akar […]

expand_less