Ketika Kejujuran Dianggap Gangguan dan Kemunafikan Dipersepsikan sebagai Kesantunan
- account_circle Ray
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BOGOR – Wakil Ketua Umum Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI), Vaza Fernantha, melontarkan kritik tajam terhadap fenomena yang menurutnya masih mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, yakni budaya kemunafikan yang kerap dianggap sebagai bentuk kesantunan dan cara aman untuk bertahan dalam lingkungan sosial.
Dalam sebuah pandangan yang disampaikan pada 31 Mei 2026, Vaza menilai kemunafikan tidak lagi sekadar dimaknai sebagai perilaku berbohong atau berpura-pura baik. Menurutnya, fenomena tersebut telah berkembang menjadi pola perilaku yang muncul akibat tekanan sosial, ekonomi, dan budaya yang tidak selalu memberi ruang bagi kejujuran.
“Kemunafikan adalah seni bertahan hidup dalam tradisi moralitas yang sering kali tidak memberikan ruang bagi kejujuran. Banyak orang memilih mengatakan hal yang aman dan menyenangkan untuk didengar dibandingkan menyampaikan kenyataan yang sebenarnya,” ujar Vaza.
Ia menilai sebagian masyarakat lebih mengutamakan kenyamanan dalam berkomunikasi daripada keterbukaan. Akibatnya, kata-kata yang disampaikan sering kali menjadi alat untuk menjaga citra dan menghindari konflik, bukan sebagai refleksi dari kondisi yang sesungguhnya.
Menurut Vaza, kondisi tersebut tumbuh dari berbagai ketakutan yang melekat dalam kehidupan sosial, mulai dari rasa takut mengalami kesulitan ekonomi, takut mendapatkan sanksi sosial, hingga khawatir dianggap tidak memiliki sopan santun atau melanggar norma yang berlaku.
“Pada akhirnya, banyak orang memilih berpura-pura atau diam karena dianggap sebagai jalan paling aman untuk bertahan dan diterima dalam lingkungan sosial,” katanya.
Lebih lanjut, Vaza menyoroti adanya paradoks dalam kehidupan masyarakat. Di ruang publik, nilai-nilai moralitas, etika, dan kehormatan sering dijunjung tinggi serta dijadikan simbol kebanggaan bersama. Namun di sisi lain, dalam praktik sehari-hari nilai-nilai tersebut tidak selalu diwujudkan secara konsisten.
Ia menilai moralitas kerap berhenti pada tataran slogan dan retorika, sementara perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut justru masih banyak ditemukan dalam kehidupan sosial.
Vaza juga menyoroti pandangan yang berkembang di masyarakat terkait kritik dan keterbukaan. Menurutnya, sikap berbicara secara jujur sering kali dianggap tidak sopan, sementara kritik konstruktif kerap dipersepsikan sebagai tindakan kurang ajar atau mengganggu stabilitas.
“Ketika kejujuran dianggap ancaman dan kritik dipandang sebagai gangguan, maka ruang publik kehilangan fungsi utamanya sebagai tempat lahirnya gagasan dan perbaikan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa budaya kemunafikan yang terus berkembang dapat berdampak pada kualitas kehidupan sosial dan kepemimpinan. Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang bagi figur-figur manipulatif untuk tampil sebagai pemimpin melalui pencitraan yang kuat, meskipun tidak selalu didukung integritas yang memadai.
“Ketika kebenaran tidak mendapat tempat yang layak, masyarakat memang tampak rukun di permukaan. Namun di balik itu, terdapat kerapuhan yang berpotensi memunculkan konflik berkepanjangan,” kata Vaza.
Sebagai penutup, ia mengajak masyarakat untuk membangun budaya dialog yang lebih terbuka, jujur, dan berani menerima perbedaan pandangan.
Menurutnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga harmoni, tetapi juga oleh keberanian menghadapi kenyataan secara apa adanya.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar