Seruan Kolaborasi di Tengah Krisis Anjing Liar Bali, Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia Tegaskan Aksi Nyata
- account_circle Ray
- calendar_month 10 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BALI — Isu penyelamatan hewan di Bali kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya populasi anjing liar yang kian mengkhawatirkan. Di tengah kondisi tersebut, Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia menunjukkan langkah konkret dengan menampung lebih dari 230 anjing hasil rescue di dua shelter yang mereka kelola.

Michelle Angel, Ketua Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia.
Ketua yayasan, Michelle Angel, menegaskan bahwa organisasinya tidak sekadar bergerak atas dasar rasa iba, melainkan menjalankan program terstruktur dan berkelanjutan. Selama tiga tahun terakhir, yayasan ini tercatat sebagai mitra resmi platform penggalangan dana KitaBisa.com, yang menjadi salah satu indikator legalitas dan akuntabilitas kegiatan mereka.
“Kami fokus pada penanganan kasus darurat. Tidak hanya menampung, kami juga rutin melakukan sterilisasi, vaksinasi rabies, serta menjalankan program berbagi pakan bagi shelter lain yang membutuhkan,” ujar Michelle.
Selain itu, yayasan juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat terkait perawatan hewan peliharaan. Ke depan, mereka berencana membangun shelter terpusat berkapasitas besar yang akan mengintegrasikan fungsi rescue, adopsi, dan kegiatan relawan guna meningkatkan efektivitas koordinasi.

Maria Rini, Pembina Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia.
Sementara itu, Pembina yayasan, Maria Rini, menyoroti pentingnya kolaborasi antar komunitas penyelamat hewan di Bali. Ia mengajak seluruh shelter, penampungan, dan relawan untuk meninggalkan perbedaan serta bekerja sama menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
“Populasi anjing di Bali sangat besar. Ini bukan lagi masalah satu atau dua pihak, tetapi tanggung jawab bersama. Sudah saatnya kita mengesampingkan persoalan pribadi dan fokus pada penyelamatan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung adanya dinamika internal di komunitas penyelamat hewan yang dinilai dapat menghambat upaya kolektif. Menurutnya, ego sektoral dan kurangnya koordinasi justru memperburuk kondisi di lapangan.
Data menunjukkan bahwa populasi anjing liar di Bali masih menjadi tantangan serius, dengan risiko penyebaran rabies serta keterbatasan kapasitas shelter yang ada. Upaya sterilisasi yang belum merata turut mempercepat laju pertumbuhan populasi.

Mango, maskot Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia.
Dengan capaian lebih dari 230 anjing yang telah diselamatkan, Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia berharap dapat menjadi bagian dari solusi, sekaligus mendorong sinergi lintas komunitas.
“Kolaborasi adalah kunci. Ini bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi bagaimana kita bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa,” tutup Maria Rini.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar