Island Bazaar Resmi Hadir di KEK Kura Kura Bali, Perpaduan Kreativitas Lokal dan Pelestarian Budaya
- account_circle Admin
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar, Bali – Island Bazaar resmi digelar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali pada 27–28 Februari 2026. Mengusung konsep sunset market, ajang ini menghadirkan ruang temu bagi pelaku usaha lokal, pegiat seni, dan masyarakat dalam suasana senja yang hangat dan inspiratif di Kampus United in Diversity (UID), Pulau Serangan.

Selama dua hari penyelenggaraan, kawasan tersebut disulap menjadi panggung kreatif yang menampilkan kurasi karya para “Island Makers” lokal. Mulai dari produk kerajinan tangan, fesyen, hingga ragam kuliner, seluruhnya berpadu dalam atmosfer santai khas tepi pantai Bali.
Perhelatan ini diawali dengan program bertajuk Aksara Bali dan Konservasi Lontar, A Hands-on Cultural Experience yang digelar di Abode, mini museum Kampus UID. Kegiatan tersebut menjadi bentuk komitmen pelestarian budaya, khususnya dalam menjaga keberlangsungan tradisi lontar dan Aksara Bali yang kini mulai jarang disentuh generasi muda.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Ia menilai KEK Kura Kura Bali tidak hanya berorientasi pada pengembangan pariwisata, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya. “Ini bukan sekadar kawasan wisata, tetapi juga ruang yang turut menjaga identitas dan tradisi Bali,” ujarnya.
Setelah sesi budaya, Island Bazaar dibuka secara meriah dengan penampilan Tari Kembang Girang dari Oemah Seni Serangan. Sebanyak 45 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ambil bagian dalam kegiatan ini, dengan ragam produk mulai dari makanan dan minuman, ritel fesyen, hingga kerajinan tangan seperti tas, pakaian, dan aksesori.

Kepala Departemen KEK Kura Kura Bali, Zefri Alfaruqy, mengatakan keterlibatan UMKM lokal, khususnya dari Serangan, menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Menurutnya, Island Bazaar dirancang sebagai ruang kolaborasi yang memberi peluang promosi sekaligus memperluas jaringan pasar bagi pelaku usaha.
Antusiasme juga dirasakan para tenant. Tiara, pemilik usaha florist yang turut berpartisipasi, mengaku kegiatan ini membuka kesempatan memperkenalkan produknya kepada khalayak yang lebih luas. Ia berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut guna memperkuat daya saing produk lokal.
Di sisi lain, pengunjung menyambut positif konsep acara yang dinilai estetik dan nyaman. Selain menikmati sajian produk lokal, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai workshop kreatif. Seorang pengunjung, Bebeh, mengapresiasi penataan lokasi yang dinilainya menarik serta kualitas produk handmade yang memiliki nilai seni tersendiri.
Panitia memperkirakan jumlah pengunjung mencapai lebih dari 500 orang selama dua hari pelaksanaan. Island Bazaar juga dirancang ramah keluarga dan terbuka bagi pengunjung yang membawa hewan peliharaan (pet friendly).
Memasuki malam hari, suasana semakin semarak dengan penampilan Jazz Pasar dan alunan musik Sasando yang mengiringi aktivitas hingga acara berakhir. Keberhasilan penyelenggaraan perdana ini menjadi sinyal positif bagi pengembangan ruang kreatif yang memadukan budaya, ekonomi lokal, dan pariwisata berkelanjutan di Bali.
Island Bazaar direncanakan akan kembali digelar sebagai agenda rutin untuk terus merayakan karya para pelaku kreatif lokal di masa mendatang.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar