Iran Rampungkan Pembelian 48 Jet Tempur Su-35 dari Rusia, Pengiriman Ditunda hingga Perang Berakhir
- account_circle Admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

48 Unit Su-35 dan Ambisi Iran Memperkuat Kekuatan Udara.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
48 Unit Su-35 dan Ambisi Iran Memperkuat Kekuatan Udara
TEHERAN – Iran mengonfirmasi telah menyelesaikan proses pembelian jet tempur canggih Sukhoi Su-35 dari Rusia. Namun, pengiriman pesawat tempur tersebut terpaksa ditunda hingga konflik militer yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat berakhir.
Kepastian tersebut disampaikan Juru Bicara Angkatan Darat Republik Islam Iran (Artesh), Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, dalam wawancara dengan media Iran, Tabnak dan BitRun, yang dipublikasikan pada 31 Oktober 2026.

Akraminia menjelaskan, seluruh persiapan awal pengadaan pesawat, termasuk proses pembelian, penyelesaian kontrak, serta pelatihan pilot, telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu melalui instansi terkait di luar Angkatan Darat.
“Tidak ada lagi kendala dalam hal tersebut,” ujar Akraminia sebagaimana dikutip dari laporan media yang memuat hasil wawancaranya.
Ia mengungkapkan, pesawat-pesawat tersebut sebenarnya dijadwalkan tiba sebelum perang berlangsung. Namun, situasi konflik membuat rencana pengiriman harus mengalami penundaan.

“Pesawat-pesawat itu seharusnya tiba sebelum perang. Insya Allah, kami pasti akan menerimanya setelah perang usai dan meningkatkan armada udara kami,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pengakuan paling jelas dari jajaran militer reguler Iran mengenai kelanjutan kesepakatan pengadaan Su-35 yang selama bertahun-tahun menjadi sorotan internasional.
48 Unit Su-35 dan Ambisi Iran Memperkuat Kekuatan Udara
Meski Akraminia tidak menyebutkan jumlah pesawat maupun nilai kontrak secara terperinci, sejumlah laporan sebelumnya mengindikasikan Iran memiliki kesepakatan pengadaan sekitar 48 unit Su-35 dari Rusia.
Informasi mengenai jumlah tersebut mengemuka melalui dokumen industri Rusia yang dilaporkan bocor pada akhir 2025. Dokumen itu disebut menunjukkan adanya pesanan puluhan pesawat tempur dengan nilai mencapai miliaran euro. Namun, jumlah 48 unit tersebut belum dikonfirmasi secara terbuka oleh pemerintah Rusia maupun dalam pernyataan terbaru Akraminia.
Laporan berbasis sumber terbuka pada 2026 juga menyebut sekitar 19 hingga 20 unit Su-35 yang diduga diperuntukkan bagi Iran telah selesai diproduksi di Rusia. Pesawat-pesawat tersebut dilaporkan masih berada di wilayah Rusia, dengan sejumlah kendala infrastruktur pangkalan udara menjadi salah satu faktor yang dikaitkan dengan keterlambatan pengiriman.
Bagi Teheran, pengadaan Su-35 merupakan bagian penting dari strategi modernisasi kekuatan udara. Selama bertahun-tahun, Angkatan Udara Iran masih mengoperasikan sejumlah pesawat tempur generasi lama, termasuk armada buatan Amerika Serikat yang diperoleh sebelum Revolusi Islam 1979.
Akraminia menilai pembelian pesawat dari luar negeri tetap diperlukan meskipun Iran terus mengembangkan kemampuan industri pertahanan dalam negeri. Menurutnya, pengadaan teknologi asing dapat mempercepat akses terhadap sistem persenjataan dan kemampuan penerbangan militer yang lebih modern.
Selain Su-35, Iran juga memiliki ambisi memperkuat kemampuan pengawasan dan pertahanan udara melalui pengembangan sistem peringatan dini lintas udara (AWACS), radar darat dan udara, teknologi satelit, hingga penguasaan pesawat tempur generasi kelima.
Akraminia menyatakan optimisme bahwa kekuatan udara Iran akan mengalami peningkatan setelah konflik berakhir, dengan dukungan pesawat dan peralatan militer yang lebih canggih.
Dengan demikian, kesepakatan Su-35 bukan sekadar pengadaan pesawat tempur, melainkan bagian dari upaya strategis Iran membangun kembali kekuatan udara di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Meski demikian, realisasi pengiriman, jumlah pesawat yang akan diterima, serta jadwal penyerahannya masih menunggu kepastian. Hingga pernyataan tersebut disampaikan, Rusia juga belum memberikan konfirmasi terbuka mengenai rincian kontrak maupun jadwal pengiriman kepada Iran.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar