China Kuasai 70% Pasar Mesin Bor Terowongan Dunia, Berawal dari Ketergantungan pada Jerman
- account_circle Admin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
China Kuasai 70% Pasar Mesin Bor Terowongan Dunia, Berawal dari Ketergantungan pada Jerman
Dari mengimpor mesin mahal hingga mengembangkan teknologi sendiri, China membuktikan bahwa penguasaan teknologi inti dapat mengubah posisi sebuah negara dalam industri global.
China — China berhasil mengubah ketergantungan pada teknologi asing menjadi kekuatan industri dalam sektor mesin bor terowongan atau tunnel boring machine (TBM). Berdasarkan laporan pemerintah Provinsi Henan yang diterbitkan pada 11 Mei 2024, mesin TBM buatan China telah menguasai hampir 70 persen pasar global.
Pencapaian tersebut merupakan hasil perjalanan panjang yang dimulai ketika China masih mengandalkan mesin impor untuk membangun terowongan berskala besar. Pada 1997, China mengimpor dua mesin bor terowongan dari Jerman dengan nilai yang dilaporkan mencapai hampir 700 juta yuan.
Menurut laporan City News Service yang diterbitkan melalui portal resmi Pemerintah Kota Shanghai pada 31 Maret 2026, sebelum 2006 China telah mengimpor lebih dari 130 mesin bor terowongan dengan total pengeluaran melampaui 10 miliar yuan.
Ketergantungan tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan investasi untuk memperoleh teknologi konstruksi bawah tanah yang kompleks.
Namun, China tidak berhenti pada pembelian peralatan asing. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pendorong bagi pengembangan teknologi domestik agar industri dalam negeri mampu merancang, memproduksi, dan mengoperasikan mesin secara mandiri.
Dalam laporan People’s Daily yang dipublikasikan melalui situs Pemerintah Provinsi Henan pada 11 Mei 2024, Wang Dujuan, kepala insinyur China Railway Hi-Tech Industry Corporation Limited (CRHIC), mengungkapkan besarnya tantangan ketika China mulai mengembangkan TBM sendiri pada awal 2000-an.
“Many colleagues at that time had never even seen a TBM before,” ujar Wang, yang berarti, “Banyak kolega saat itu bahkan belum pernah melihat mesin TBM sebelumnya.”
Pernyataan tersebut menggambarkan keterbatasan pengalaman teknis yang dihadapi tim pengembang pada tahap awal.
Pengembangan Teknologi Mandiri Menjadi Titik Balik
Pada awal 2000-an, China Railway Group mulai mengembangkan mesin bor terowongan sendiri. Menurut laporan yang sama, TBM memiliki lebih dari 20.000 komponen, sedangkan sistem kontrolnya saja mencakup lebih dari 2.000 titik kendali.
Kompleksitas tersebut menuntut penguasaan berbagai bidang, mulai dari rekayasa mekanik dan hidraulik hingga sistem elektronik dan kontrol otomatis.
Tonggak penting tercapai pada 2008 ketika mesin earth pressure balance pertama buatan China dengan hak kekayaan intelektual mandiri diperkenalkan. Mesin yang dikenal sebagai China Railway No. 1 itu mulai digunakan dalam proyek Metro Tianjin pada 6 Februari 2009.
Kemampuan industri domestik kemudian berkembang melalui perbaikan desain, peningkatan mutu komponen, dan penguatan rantai pasok. Salah satu tantangan terbesar adalah memproduksi bantalan utama berukuran besar yang harus mampu menahan beban ekstrem selama penggalian.
Zhang Zhiguo, general manager China Railway Engineering Equipment Group (CREG), menjelaskan strategi pengembangan industri tersebut dalam laporan People’s Daily yang diterbitkan pada 11 Mei 2024.
“China’s TBM industry follows a development path where the manufacturing of complete TBMs drives the manufacturing of components,” kata Zhang. Dalam bahasa Indonesia, ia menjelaskan bahwa industri TBM China berkembang melalui pola ketika produksi mesin secara utuh mendorong pertumbuhan manufaktur komponen pendukungnya.
Strategi tersebut membantu memperkuat kemampuan pemasok domestik dan mengurangi ketergantungan pada komponen impor. Pada saat bersamaan, produsen China mulai memperluas penggunaan teknologi otomatisasi, pemantauan kondisi mesin secara langsung, serta sistem prediksi kerusakan untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Perluasan pasar internasional menjadi tahap berikutnya. Menurut laporan pemerintah Henan, China mengekspor TBM buatan dalam negeri pertamanya pada 2012 setelah memenangkan proyek pembangunan metro di Kuala Lumpur, Malaysia. Mesin tersebut mencatat kinerja penggalian yang kompetitif selama pengerjaan proyek.
Pada tahun-tahun berikutnya, mesin buatan China mulai digunakan dalam proyek metro di Singapura dan pembangunan terowongan di Eropa. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa industri domestik tidak lagi hanya berorientasi memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur nasional, tetapi juga mulai bersaing di pasar internasional.
Laporan pemerintah Provinsi Hunan mengenai industri TBM China juga menyebutkan bahwa negara tersebut memiliki armada sekitar 5.000 unit dan produk buatannya mencakup hampir 70 persen pasar global.
Angka tersebut menunjukkan besarnya skala industri China, meskipun pangsa pasar dapat berbeda menurut jenis mesin, periode pengukuran, dan metode perhitungan.
Transformasi tersebut memberikan pelajaran penting bagi industri strategis lainnya. Penguasaan teknologi inti, investasi penelitian, pengembangan tenaga ahli, dan penguatan rantai pasok merupakan faktor yang dapat membantu sebuah negara meningkatkan daya saingnya.
Perjalanan China dari pengimpor mesin bor terowongan menjadi pemasok utama dunia bukan sekadar kisah tentang produksi massal. Lebih dari itu, perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana kemampuan rekayasa yang dibangun secara bertahap dapat mengubah ketergantungan teknologi menjadi keunggulan industri.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar