Breaking News
light_mode

Dari Upacara Kerajaan ke Baliho Politik, Ketika Kekuasaan Masih Butuh Tontonan

  • account_circle Admin
  • calendar_month 13 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Meruntuhkan Panggung Puri, Membaca Jejak Spektakel Kerajaan Bali di Era Politik Pencitraan

DENPASAR — Raja Bali abad ke-19 duduk diam di pusat keramaian, tanpa pidato, tanpa perintah, tanpa menghunus keris. Namun seluruh mata tertuju padanya. Wibawa itu tidak lahir dari tindakan, melainkan dari keyakinan bahwa istana adalah cermin tatanan semesta, dan raja adalah poros yang tak goyah di tengah dunia yang berputar.

Antropolog Clifford Geertz membedah fenomena ini dalam buku Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali (1980). Dalam kajiannya, Geertz menyimpulkan bahwa negara Bali prakolonial tidak dijalankan melalui tirani, penaklukan, atau administrasi yang efektif, melainkan melalui spektakel.

“Kekuasaan melayani kemegahan, bukan kemegahan melayani kekuasaan,” tulis Geertz, sebagaimana dikutip dari deskripsi karyanya .

Dengan kata lain, upacara bukan alat untuk mencapai tujuan politik. Upacara itu sendiri adalah tujuan negara. Semakin megah kremasi raja, semakin tinggi derajat sang raja di mata rakyat dan saingannya. Puncaknya adalah kematian: jasad raja dibakar dalam upacara raksasa, dan sejumlah istri melompat ke dalam api sebagai tanda kesetiaan terakhir.

Praktik ini tercatat dalam sejarah sebagai masatia, tradisi di lingkungan bangsawan Bali di mana para janda membakar diri pada kremasi suami sebagai bentuk kesetiaan dan penghormatan terakhir . Tradisi ini mulai ditekan oleh pemerintah kolonial Belanda sejak 1903 dan dihapus secara resmi melalui kontrak politik tahun 1905 .

Panggung teatral kerajaan Bali runtuh ketika pasukan Belanda datang di awal abad ke-20. Peristiwa Puputan Badung pada 1906 menandai berakhirnya hegemoni politik puri-puri tradisional di Bali selatan . Namun pertanyaan Geertz tetap relevan: apakah kekuasaan hari ini benar-benar berbeda, atau kita hanya mengganti upacara dengan baliho, arak-arakan dengan kamera, dan arca dengan tokoh yang pandai berpose?

“Negara Teater bukan sekadar catatan sejarah Bali. Ia adalah pisau bedah untuk membaca bagaimana kekuasaan hari ini masih bekerja lewat pencitraan, ritual politik, dan spektakel yang dikemas ulang,” ujar seorang peneliti budaya Bali yang enggan disebutkan namanya saat dihubungi, Minggu (19/10/2026).

Geertz, melalui karyanya, menegaskan bahwa budaya politik bukanlah lapisan superfisial di atas struktur kekuasaan yang “sesungguhnya.” Bagi masyarakat Bali abad ke-19, simbol, ritual, dan tontonan adalah inti dari negara itu sendiri . Pertanyaannya kini: ketika panggung berganti wajah, apakah kita masih menonton pertunjukan yang sama?

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (3)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tragis di NTT! 17 Warga Konsumsi Daging Anjing Diduga Rabies, Otoritas Kesehatan Bergerak Cepat

    Tragis di NTT! 17 Warga Konsumsi Daging Anjing Diduga Rabies, Otoritas Kesehatan Bergerak Cepat

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    NTT, 8 April 2026 — Sebuah peristiwa memprihatinkan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) ketika 17 warga dilaporkan mengonsumsi daging anjing yang sebelumnya menggigit pemiliknya hingga meninggal dunia. Belakangan, hewan tersebut diduga kuat terinfeksi rabies, penyakit zoonosis mematikan yang dapat menular ke manusia. Insiden bermula saat seekor anjing peliharaan tiba-tiba menunjukkan perilaku agresif dan menyerang […]

  • Bom Bunuh Diri Guncang Masjid Syiah di Islamabad, 31 Tewas dan Ratusan Terluka

    Bom Bunuh Diri Guncang Masjid Syiah di Islamabad, 31 Tewas dan Ratusan Terluka

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    ISLAMABAD – Serangan bom bunuh diri mengguncang sebuah masjid Syiah di pinggiran ibu kota Islamabad, Pakistan, pada Jumat (6/2/2026) saat salat Jumat tengah berlangsung. Sedikitnya 31 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 160 lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut. Ledakan terjadi di Masjid Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra yang berlokasi di kawasan Tarlai Town. Saat peristiwa […]

  • Terbaring Lemas Diduga Keracunan Obat, Warga Batutua Tuntut Tanggung Jawab Puskesmas

    Terbaring Lemas Diduga Keracunan Obat, Warga Batutua Tuntut Tanggung Jawab Puskesmas

    • calendar_month Rabu, 27 Agt 2025
    • account_circle Deda Henukh
    • 2Komentar

    Rote Ndao – Pelayanan pengobatan gratis yang diadakan oleh UPTD Puskesmas Batutua diduga menimbulkan dampak negatif bagi seorang warga Desa Batutua, Kecamatan Rote Barat Daya. Paulina Kiki, seorang ibu rumah tangga, mengalami kondisi kesehatan yang memburuk diduga setelah mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter puskesmas pada tanggal 26 Agustus 2025. Welhelmus Narang, suami korban, mengungkapkan […]

  • TNI Benarkan Pengamanan Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah, Tegaskan Tak Berkaitan dengan Penggeledahan Polri

    TNI Benarkan Pengamanan Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah, Tegaskan Tak Berkaitan dengan Penggeledahan Polri

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    JAKARTA – Markas Besar (Mabes) TNI akhirnya memberikan penjelasan terkait keberadaan sejumlah personel TNI yang melakukan pengamanan di kediaman Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, di kawasan Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen TNI Muhammad Nas membenarkan bahwa pengamanan tersebut dilakukan atas permintaan resmi […]

  • Meme KDM soal Genderuwo Penjaga Hutan, Menampar Cara Negara Merawat Alam

    Meme KDM soal Genderuwo Penjaga Hutan, Menampar Cara Negara Merawat Alam

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Ray
    • 3Komentar

    JAKARTA — Pernyataan Kang Deddy Mulyadi (KDM) yang menyebut bahwa “lebih baik hutan dijaga oleh genderuwo dan kuntilanak daripada Kementerian Kehutanan” mendadak viral dan menjelma menjadi meme di berbagai platform media sosial. Potongan pernyataan bernada satir itu menyulut reaksi luas publik—mulai dari gelak tawa, kritik tajam terhadap tata kelola hutan, hingga refleksi mendalam tentang kearifan […]

  • Dari Dapur MasterChef ke Jeruji Besi, Eks Finalis Etiqah Dipenjara 34 Tahun atas Pembunuhan ART Asal Indonesia

    Dari Dapur MasterChef ke Jeruji Besi, Eks Finalis Etiqah Dipenjara 34 Tahun atas Pembunuhan ART Asal Indonesia

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Ray
    • 6923Komentar

    Sabah, Malaysia – Nama Etiqah Siti Noorashikeen pernah melejit sebagai salah satu finalis berbakat dalam ajang kuliner bergengsi MasterChef Malaysia tahun 2012. Namun kini, namanya kembali menjadi sorotan publik bukan karena prestasi, melainkan karena tragedi hukum yang mengguncang nurani. Etiqah bersama suaminya, Mohammad Ambree Yunos, dijatuhi hukuman 34 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi Kota Kinabalu […]

expand_less