Breaking News
light_mode

Dari Upacara Kerajaan ke Baliho Politik, Ketika Kekuasaan Masih Butuh Tontonan

  • account_circle Admin
  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Meruntuhkan Panggung Puri, Membaca Jejak Spektakel Kerajaan Bali di Era Politik Pencitraan

DENPASAR — Raja Bali abad ke-19 duduk diam di pusat keramaian, tanpa pidato, tanpa perintah, tanpa menghunus keris. Namun seluruh mata tertuju padanya. Wibawa itu tidak lahir dari tindakan, melainkan dari keyakinan bahwa istana adalah cermin tatanan semesta, dan raja adalah poros yang tak goyah di tengah dunia yang berputar.

Antropolog Clifford Geertz membedah fenomena ini dalam buku Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali (1980). Dalam kajiannya, Geertz menyimpulkan bahwa negara Bali prakolonial tidak dijalankan melalui tirani, penaklukan, atau administrasi yang efektif, melainkan melalui spektakel.

“Kekuasaan melayani kemegahan, bukan kemegahan melayani kekuasaan,” tulis Geertz, sebagaimana dikutip dari deskripsi karyanya .

Dengan kata lain, upacara bukan alat untuk mencapai tujuan politik. Upacara itu sendiri adalah tujuan negara. Semakin megah kremasi raja, semakin tinggi derajat sang raja di mata rakyat dan saingannya. Puncaknya adalah kematian: jasad raja dibakar dalam upacara raksasa, dan sejumlah istri melompat ke dalam api sebagai tanda kesetiaan terakhir.

Praktik ini tercatat dalam sejarah sebagai masatia, tradisi di lingkungan bangsawan Bali di mana para janda membakar diri pada kremasi suami sebagai bentuk kesetiaan dan penghormatan terakhir . Tradisi ini mulai ditekan oleh pemerintah kolonial Belanda sejak 1903 dan dihapus secara resmi melalui kontrak politik tahun 1905 .

Panggung teatral kerajaan Bali runtuh ketika pasukan Belanda datang di awal abad ke-20. Peristiwa Puputan Badung pada 1906 menandai berakhirnya hegemoni politik puri-puri tradisional di Bali selatan . Namun pertanyaan Geertz tetap relevan: apakah kekuasaan hari ini benar-benar berbeda, atau kita hanya mengganti upacara dengan baliho, arak-arakan dengan kamera, dan arca dengan tokoh yang pandai berpose?

“Negara Teater bukan sekadar catatan sejarah Bali. Ia adalah pisau bedah untuk membaca bagaimana kekuasaan hari ini masih bekerja lewat pencitraan, ritual politik, dan spektakel yang dikemas ulang,” ujar seorang peneliti budaya Bali yang enggan disebutkan namanya saat dihubungi, Minggu (19/10/2026).

Geertz, melalui karyanya, menegaskan bahwa budaya politik bukanlah lapisan superfisial di atas struktur kekuasaan yang “sesungguhnya.” Bagi masyarakat Bali abad ke-19, simbol, ritual, dan tontonan adalah inti dari negara itu sendiri . Pertanyaannya kini: ketika panggung berganti wajah, apakah kita masih menonton pertunjukan yang sama?

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (3)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Imigrasi Ngurah Rai Gagalkan Pelarian Tiga WN Tiongkok Terduga Pelaku Pencurian di Bogor

    Imigrasi Ngurah Rai Gagalkan Pelarian Tiga WN Tiongkok Terduga Pelaku Pencurian di Bogor

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 3Komentar

    BADUNG — Upaya pelarian tiga warga negara asing (WNA) asal Tiongkok yang diduga terlibat kasus pencurian dengan pemberatan di Kota Bogor berhasil digagalkan aparat Imigrasi di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Sabtu (2/5/2026). Ketiga WNA berinisial J.W. (33), R.W. (37), dan H.L. (39) diamankan saat hendak bertolak menuju Kuala Lumpur menggunakan penerbangan AirAsia QZ550. […]

  • Antara Mistis dan Tekanan Batin, Fenomena Kerangsukan Masih Menjadi Misteri

    Antara Mistis dan Tekanan Batin, Fenomena Kerangsukan Masih Menjadi Misteri

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    DENPASAR – Fenomena kerangsukan masih menjadi peristiwa yang kerap memunculkan rasa takut sekaligus tanda tanya di tengah masyarakat. Dalam berbagai kejadian, tubuh seseorang mendadak kehilangan kendali, berteriak tanpa arah, hingga menunjukkan perilaku di luar kesadarannya sendiri. Di tengah aroma dupa, suara gamelan, atau lantunan doa, suasana mencekam sering kali menyelimuti lokasi terjadinya kerangsukan. Tatapan kosong, […]

  • Tatapan “Menghakimi” Ular Pucuk Hijau! Strategi Bertahan yang Lebih Mengintimidasi daripada Menyerang

    Tatapan “Menghakimi” Ular Pucuk Hijau! Strategi Bertahan yang Lebih Mengintimidasi daripada Menyerang

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    DENPASAR – Ular pucuk hijau dikenal bukan sebagai predator agresif, melainkan sebagai spesies yang mengandalkan strategi pertahanan unik berbasis perilaku dan kamuflase. Reptil yang banyak ditemukan di kawasan Asia Selatan hingga Asia Tenggara ini memiliki tubuh ramping dengan warna hijau cerah, memungkinkan mereka menyatu hampir sempurna dengan dedaunan di habitat alaminya. Alih-alih menyerang ketika merasa […]

  • Tutik Kusuma Wardhani Pantau Pelaksanaan SPPG di Karangasem

    Tutik Kusuma Wardhani Pantau Pelaksanaan SPPG di Karangasem

    • calendar_month Minggu, 12 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    KARANGASEM – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Demokrat, Ni Putu Tutik Kusuma Wardhani, kembali menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak Indonesia. Kali ini, ia memantau langsung pelaksanaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Padangkerta, Kabupaten Karangasem, Sabtu (11/10/2025). Dalam kunjungan tersebut, Tutik meninjau dapur, proses memasak, hingga cara penyajian makanan bergizi […]

  • Menulis sebagai Tanggung Jawab Sosial, Perspektif Komunikasi dalam Praktik Jurnalistik

    Menulis sebagai Tanggung Jawab Sosial, Perspektif Komunikasi dalam Praktik Jurnalistik

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 4Komentar

    JAKARTA — Dalam perspektif teori komunikasi, aktivitas menulis tidak sekadar menyusun kata menjadi kalimat, melainkan merupakan proses konstruksi makna yang menuntut akurasi sekaligus tanggung jawab sosial. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Jürgen Habermas yang menempatkan komunikasi sebagai ruang publik untuk membangun pemahaman bersama secara rasional dan etis. Dalam praktik jurnalistik, konsep tersebut menjadi landasan penting […]

  • Pengibaran Bendera One Piece Bisa Dipidana, Netizen: Kritik Bukan Berarti Mengkhianat

    Pengibaran Bendera One Piece Bisa Dipidana, Netizen: Kritik Bukan Berarti Mengkhianat

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 16Komentar

    JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Budi Gunawan mengingatkan masyarakat bahwa pengibaran bendera fiksi seperti bendera bajak laut One Piece menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80 dapat dikenai sanksi pidana. Ia menilai tindakan itu mencederai kehormatan bendera Merah Putih dan berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan […]

expand_less