Breaking News
light_mode

Tanpa Pendidikan dan Kesejahteraan, Demokrasi Jadi Alat Manipulasi Kekuasaan

  • account_circle Ray
  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tanpa masyarakat yang terdidik dan sejahtera, demokrasi berisiko kehilangan substansi dan berubah menjadi sekadar prosedur politik.

JAKARTA — Demokrasi kerap dipuji sebagai sistem yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Namun, demokrasi tidak selalu otomatis menghadirkan keadilan. Ketika pendidikan dan kesejahteraan masyarakat belum menjadi fondasi yang kuat, demokrasi justru berpotensi berubah menjadi arena perebutan kekuasaan semata.

Pandangan tersebut disampaikan Tantowi Yahya, penyanyi, pembawa acara televisi, aktor, dan politikus Indonesia, dalam sebuah pernyataan yang diunggah melalui video di TikTok.

Menurut Tantowi, demokrasi memiliki hubungan erat dengan kualitas pendidikan dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Demokrasi, menurutnya, baru dapat berjalan secara baik dan berkeadilan apabila masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang memadai serta kehidupan ekonomi yang cukup.

“Demokrasi itu linear dengan pendidikan dan kesejahteraan.”

Pernyataan tersebut menjadi kritik sekaligus refleksi terhadap praktik demokrasi yang tidak cukup hanya diukur dari terselenggaranya pemilu, banyaknya partai politik, atau kebebasan masyarakat menentukan pilihan politik.

Bagi Tantowi, demokrasi membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk memahami pilihan, menilai informasi, serta menentukan keputusan politik secara sadar dan rasional.

Demokrasi Bisa Kehilangan Makna

Persoalan muncul ketika masyarakat berada dalam kondisi rentan secara ekonomi dan lemah dalam literasi politik.

Dalam situasi demikian, suara rakyat dapat dengan mudah diperlakukan sebagai komoditas. Pilihan politik bukan lagi semata-mata lahir dari pertimbangan program, gagasan, rekam jejak, atau visi tentang masa depan, melainkan dapat dipengaruhi oleh kebutuhan sesaat.

Tantowi bahkan memberikan peringatan lebih keras.

“Tanpa itu demokrasi hanya akan menjadi alat bagi seseorang atau kelompok-kelompok tertentu dalam merebut dan melanggengkan kekuasaan.”

Kalimat tersebut menyentuh sisi paling sensitif dari demokrasi: ketika prosedur demokratis tetap berjalan, tetapi substansi kedaulatan rakyat perlahan kehilangan maknanya.

Pemilu bisa tetap digelar. Kampanye bisa berlangsung meriah. Surat suara tetap dihitung. Pemenang tetap ditetapkan.

Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa bebas rakyat menentukan pilihannya?

Ketika Suara Rakyat Bisa Dibeli

Tantowi juga menyoroti potensi demokrasi berubah menjadi instrumen transaksi politik.

“Demokrasi menjadi alat untuk membeli suara. Demokrasi menjadi alat untuk memanipulasi.”

Di titik inilah demokrasi menghadapi paradoks.

Secara prosedural, rakyat memang diberikan hak untuk memilih. Tetapi secara substantif, pilihan tersebut dapat terdistorsi ketika kemiskinan, ketimpangan akses informasi, rendahnya literasi politik, dan ketergantungan ekonomi membuat masyarakat lebih mudah dipengaruhi.

Suara rakyat akhirnya tidak lagi dipandang sebagai ekspresi kedaulatan, tetapi sebagai angka yang dapat dihitung, dipetakan, bahkan diperebutkan dengan berbagai cara.

Demokrasi pun berisiko mengalami pergeseran: dari kompetisi gagasan menjadi kompetisi sumber daya.

Legal Belum Tentu Etis

Bagian lain dari pernyataan Tantowi yang patut direnungkan adalah ketika ia menyebut demokrasi dapat menjadi alat untuk “melakukan segala cara yang terdengar legal.”

Ungkapan tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara hukum, etika, dan kekuasaan.

Sesuatu yang secara formal diperbolehkan belum tentu selalu mencerminkan semangat demokrasi. Sebab demokrasi bukan hanya tentang mengikuti prosedur, tetapi juga tentang memastikan bahwa prosedur tersebut menghasilkan keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat rakyat.

Di sinilah kualitas institusi demokrasi diuji.

Apakah hukum hanya menjadi pagar formal bagi perebutan kekuasaan, atau benar-benar menjadi instrumen untuk memastikan kekuasaan digunakan bagi kepentingan publik?

Pendidikan Adalah Benteng Demokrasi

Gagasan Tantowi pada akhirnya membawa diskusi kembali pada persoalan yang lebih fundamental: pendidikan.

Masyarakat yang terdidik tidak berarti seluruhnya harus memiliki gelar akademik tinggi. Lebih jauh dari itu, pendidikan membentuk kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa informasi, memahami konsekuensi pilihan, serta tidak mudah menyerahkan keputusan politik kepada propaganda dan transaksi sesaat.

Demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang tidak sekadar memiliki hak pilih, tetapi juga memahami nilai dari hak pilih tersebut.

Sementara kesejahteraan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menggunakan hak politiknya tanpa tekanan kebutuhan hidup yang ekstrem.

Dengan kata lain, demokrasi membutuhkan rakyat yang cukup kuat untuk mengatakan “tidak” ketika suara mereka hendak dibeli.

Demokrasi Bukan Sekadar Soal Menang dan Kalah

Pada akhirnya, demokrasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam sebuah kontestasi politik.

Demokrasi seharusnya berbicara tentang bagaimana kekuasaan diperoleh, bagaimana kekuasaan digunakan, dan untuk siapa kekuasaan itu bekerja.

Pernyataan Tantowi Yahya menjadi relevan untuk direnungkan bukan semata-mata sebagai kritik terhadap praktik politik, tetapi sebagai pertanyaan kepada seluruh masyarakat: apakah demokrasi kita sudah benar-benar memperkuat rakyat, atau justru rakyat yang terus-menerus menjadi objek dalam permainan kekuasaan?

Sebab demokrasi yang hanya memberikan rakyat hak untuk memilih, tetapi tidak memberikan mereka pendidikan, kesejahteraan, informasi yang sehat, dan kebebasan dari tekanan ekonomi, berisiko hanya menyisakan kulit dari demokrasi itu sendiri.

Demokrasi yang matang bukan sekadar tentang satu orang, satu suara. Lebih jauh, demokrasi adalah tentang memastikan bahwa setiap suara memiliki kesadaran, kebebasan, dan martabat.

Demokrasi Tanpa Kesejahteraan Berisiko Menjadi Sekadar Prosedur Politik. Ketika Suara Rakyat Menjadi Komoditas dalam Kontestasi Kekuasaan.

Editor – Ray

Ray

Penulis

Jurnalis! Ajang silahturahmi dengan segala elemen.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Brutal! Harga PS5 Turun Gila-Gilaan, Sony Bikin Gamer Panik Buru Diskon! 

    Brutal! Harga PS5 Turun Gila-Gilaan, Sony Bikin Gamer Panik Buru Diskon! 

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 9Komentar

    DENPASAR – Sony PlayStation kembali mengguncang dunia gaming dengan promo besar-besaran bertajuk 11.11 Power Deals 2025. Dalam promo yang berlangsung dari 31 Oktober hingga 13 November 2025 ini, harga konsol PS5 anjlok drastis hingga jutaan rupiah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Versi digital PlayStation 5 yang biasanya dibanderol Rp 8.199.000 kini bisa dibeli mulai Rp 6.579.000. Sementara […]

  • Setor Hafalan Jadi Modus, Guru Ngaji di Ampenan Diduga Cabuli Tujuh Santri

    Setor Hafalan Jadi Modus, Guru Ngaji di Ampenan Diduga Cabuli Tujuh Santri

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    MATARAM – Kasus dugaan tindak asusila yang melibatkan seorang oknum guru ngaji di salah satu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di wilayah Ampenan, Kota Mataram, kini memasuki tahap hukum lebih lanjut. Penyidik Polresta Mataram telah menetapkan Hasan Basri alias AS (19) sebagai tersangka dan langsung melakukan penahanan. Kasat Reskrim Polresta Mataram, I Made Dharma Yulia Putra, […]

  • Perjuangan Panjang 7 Tahun Berbuah Kemenangan, Turah Oka Jero Kepisah Bebas dari Jerat Pidana

    Perjuangan Panjang 7 Tahun Berbuah Kemenangan, Turah Oka Jero Kepisah Bebas dari Jerat Pidana

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Ray
    • 119Komentar

    DENPASAR – Pertama yang perlu diapresiasi adalah masih adanya kemurnian kebenaran dalam proses Pengadilan Negeri Denpasar, sejak adanya banyak pengaduan masyarakat terhadap kinerjanya. Teka-teki panjang perkara dugaan pemalsuan silsilah yang menyeret Anak Agung Ngurah Oka dari Jero Kepisah akhirnya menemukan babak penentuan. Dalam sidang yang telah berjalan selama 9 bulan, vonis di Pengadilan Negeri Denpasar, […]

  • Dilema Transportasi Online! Dari Mitra Bermobil Pribadi ke Bayang-bayang Cicilan Armada Aplikasi

    Dilema Transportasi Online! Dari Mitra Bermobil Pribadi ke Bayang-bayang Cicilan Armada Aplikasi

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Ray
    • 4Komentar

    DENPASAR – Masa depan pengemudi transportasi online kembali berada di persimpangan. Jika pada awal kemunculannya aplikasi transportasi daring menjanjikan konsep kemitraan berbasis kepemilikan kendaraan pribadi, kini arah bisnis itu perlahan bergeser. Pengemudi tak lagi sekadar “mitra” dengan mobil sendiri, melainkan berpotensi menjadi pekerja yang terikat cicilan kendaraan milik atau difasilitasi langsung oleh perusahaan aplikasi. Sejak […]

  • Semeton MSP Bagikan 38 Paket Sembako untuk Lansia dan Warga Kurang Mampu di Sukawana

    Semeton MSP Bagikan 38 Paket Sembako untuk Lansia dan Warga Kurang Mampu di Sukawana

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    Aksi sosial di Banjar Paketan, Kintamani, menyasar lansia, warga miskin, dan anak yatim piatu, termasuk penerima yang tidak dapat hadir di lokasi pembagian. BANGLI — Semeton MSP kembali menggelar kegiatan sosial bertajuk “Berbuat dan Berbagi” dengan membagikan 38 paket sembako kepada warga yang membutuhkan di Banjar Paketan, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Minggu (23/8/2026). […]

  • FOX Jimbaran Beach Bali Rayakan HUT RI ke-81 Lewat Nusantara Night

    FOX Jimbaran Beach Bali Rayakan HUT RI ke-81 Lewat Nusantara Night

    • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    Perayaan Nusantara Night memadukan tari, musik akustik, dan seni rindik Bali untuk menghadirkan suasana kemerdekaan yang sarat budaya dan kebersamaan. JIMBARAN – FOX Jimbaran Beach Bali menghadirkan perayaan kemerdekaan bertajuk “Nusantara Night” dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Kegiatan yang digelar pada Senin, 17 Agustus 2026, mulai pukul 18.00 hingga 22.00 […]

expand_less